Wamena, nirmeke.com – Sebanyak 12 objek wisata yang tergabung dalam Himpunan 12 Wisata Alam dan Kampung Budaya Wamena akan menggelar Pra Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) pada 6 Agustus 2026 di kawasan Wisata Pasir Putih, Distrik Pisugi, Kabupaten Jayawijaya. Kegiatan tersebut diinisiasi sebagai bentuk komitmen masyarakat adat dalam menjaga, merawat, dan memperkenalkan warisan budaya Lembah Baliem kepada generasi muda maupun wisatawan.
Festival yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIT itu digelar menjelang Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) yang diselenggarakan pemerintah. Melalui kegiatan tersebut, para pengelola wisata berharap wisatawan yang datang ke Wamena tidak hanya menyaksikan agenda utama FBLB, tetapi juga mengunjungi destinasi wisata budaya yang dikelola masyarakat.
Sekretaris Himpunan 12 Wisata Alam dan Kampung Budaya Wamena, Paulus Himan, mengatakan gagasan penyelenggaraan festival lahir dari pertemuan seluruh pengelola wisata pada 9 Juli 2026. Saat itu, mereka sepakat memanfaatkan momentum kedatangan wisatawan domestik dan mancanegara untuk memperkenalkan kekayaan budaya yang masih terjaga di kampung-kampung adat.
“Kami mendapat informasi bahwa banyak wisatawan, termasuk dari mancanegara, sudah memesan hotel di Wamena untuk menghadiri Festival Budaya Lembah Baliem. Karena itu kami ingin menghadirkan Festival Mini agar mereka juga datang mengunjungi objek-objek wisata yang kami kelola,” ujar Paulus.
Ia menegaskan, konsep festival yang disiapkan berbeda dengan atraksi perang-perangan yang selama ini identik dengan Festival Budaya Lembah Baliem.
Menurutnya, festival akan lebih menonjolkan perjalanan kehidupan masyarakat adat Hubula secara utuh, mulai dari masa kanak-kanak, proses pendewasaan, perkawinan, hingga berbagai permainan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu atraksi utama adalah Wim Luka Tok, permainan tradisional anak-anak yang menggambarkan proses pembentukan karakter sebelum seseorang memasuki usia dewasa. Selain itu, pengunjung juga akan disuguhkan demonstrasi panahan tradisional, permainan adat, hingga prosesi budaya yang melibatkan masyarakat setempat.
“Kami ingin menunjukkan budaya yang asli, bukan sekadar pertunjukan. Semua yang ditampilkan merupakan warisan leluhur yang masih hidup sampai sekarang,” katanya.
Selain atraksi budaya, festival juga melibatkan pelaku UMKM lokal yang akan menjual berbagai produk khas masyarakat pegunungan seperti kopi lokal, buah nanas, aneka suvenir, serta hasil kerajinan tangan masyarakat adat.
Paulus menjelaskan, Himpunan 12 Wisata terdiri atas berbagai destinasi yang menawarkan kekayaan budaya dan alam, mulai dari kampung budaya, wisata alam, hingga kawasan goa yang tersebar di wilayah Hugulama dan sekitarnya.
Menurutnya, seluruh pengelola telah siap menerima kunjungan wisatawan selama rangkaian Festival Budaya Lembah Baliem berlangsung.
“Kami siap melayani wisatawan domestik maupun mancanegara. Kalau ingin melihat rumah adat yang asli, budaya yang asli, serta kehidupan masyarakat yang masih terjaga, datanglah ke 12 objek wisata kami,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh kegiatan yang dipertontonkan merupakan budaya autentik masyarakat Lembah Baliem yang hingga kini masih dipelihara oleh masyarakat adat.
Karena itu, Pra Festival ini menjadi ruang edukasi sekaligus media pelestarian budaya agar generasi muda tidak kehilangan identitasnya di tengah perkembangan zaman.
“Kami percaya budaya ini adalah kekayaan yang tidak dimiliki daerah lain. Karena itu kami berkewajiban menjaganya bersama-sama,” kata Paulus.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat, pemerintah, tokoh adat, gereja, serta seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung penyelenggaraan festival tersebut agar berjalan aman dan sukses.
“Ini bukan hanya kegiatan 12 wisata, tetapi bagian dari upaya menjaga warisan budaya leluhur masyarakat Lembah Baliem agar tetap hidup untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Sementara itu, anggota Himpunan 12 Wisata, Sony, menjelaskan bahwa festival tahun ini mengusung konsep berbeda dari kegiatan budaya pada umumnya.
Menurutnya, panitia ingin menghadirkan gambaran utuh tentang kehidupan masyarakat Hubula, bukan hanya mempertontonkan perang adat seperti yang selama ini dikenal masyarakat luas.
“Kami ingin masyarakat melihat proses kehidupan orang tua dulu, mulai dari perkawinan, bakar batu, permainan anak-anak, hingga proses pembentukan karakter sebelum seseorang memasuki masa dewasa. Semua itu akan ditampilkan secara berurutan,” katanya.
Atraksi utama bertajuk Wim Luka Tok akan menjadi ikon festival. Permainan tradisional tersebut menggambarkan kehidupan anak-anak Hubula yang kemudian berkembang menjadi simbol keberanian dan kedewasaan dalam kehidupan masyarakat adat.
Sony mengatakan konsep tersebut dipilih karena selama ini belum banyak ditampilkan dalam festival budaya berskala besar.
Menurutnya, Pra Festival menjadi ruang untuk memperlihatkan sisi lain kebudayaan Hubula yang kaya akan nilai pendidikan, kebersamaan, dan filosofi hidup masyarakat pegunungan.(*)
Pewarta: Aguz Pabika
