Wamena, nirmeke.com – Kehadiran kreator konten Bobon Santoso di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, menuai kritik dari sejumlah pemuda Papua Pegunungan. Di tengah situasi pascakonflik horizontal di Distrik Wouma yang dinilai belum sepenuhnya kondusif, rencana kegiatan konten memasak bertajuk “Kuali Merah Putih” dalam kuali raksasa bertema Merah Putih di Wamena dipandang tidak peka terhadap kondisi sosial masyarakat.
Ketua Forum Pribumi Papua Pegunungan, Yusuf Yikwa, menilai kehadiran Bobon Santoso dilakukan secara mendadak tanpa adanya komunikasi yang terbuka kepada masyarakat. Menurutnya, kegiatan tersebut berpotensi mengalihkan perhatian publik dari berbagai persoalan yang masih dihadapi masyarakat Papua.
“Kehadiran Bobon Santoso pada hari ini di Wamena tidak terduga. Beliau hadir seperti pencuri, lalu mewacanakan suatu kegiatan yang tiba-tiba. Kami melihat ada atraksi tarian dengan mengibarkan bendera Merah Putih, dan kami juga mendengar akan ada kegiatan memasak babi dalam kuali besar,” kata Yusuf Yikwa, Kamis, (23/07/2026).
Yusuf menyebut Bobon Santoso bukan sosok baru di Papua. Menurut pandangannya, setiap kehadiran Bobon kerap bertepatan dengan berbagai isu yang sedang menjadi perhatian publik di Tanah Papua.
“Bobon Santoso merupakan salah satu orang yang selalu mengalihkan perhatian media dari situasi yang terjadi di atas Tanah Papua. Seperti ketika isu Program Strategis Nasional (PSN) di Merauke menjadi perhatian melalui film dokumenter, Bobon hadir dengan kegiatan pesta babi. Bagi kami, itu mengalihkan perhatian dari persoalan PSN dan eksploitasi sumber daya alam yang terjadi di Papua,” ujarnya.
Ia juga menilai konten-konten yang diproduksi Bobon Santoso berpotensi membangun narasi bahwa situasi Papua dalam keadaan aman, sementara menurutnya kondisi di lapangan masih menyisakan berbagai persoalan yang belum terselesaikan.
“Seolah-olah disampaikan kepada media dan masyarakat Indonesia bahwa Papua baik-baik saja dan aman. Padahal apa yang terjadi di Papua tidak seperti yang ditampilkan dalam kontennya,” katanya.
Selain itu, Yusuf menyoroti pengawalan aparat bersenjata terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, pengamanan yang melibatkan aparat militer memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat.
“Kehadiran dia sebagai kreator konten tetapi dikawal oleh militer. Kami menilai ini bagian dari kebijakan yang terstruktur untuk menciptakan kesan bahwa Papua aman dan menerima kehadiran mereka dengan baik,” ujarnya.
Yusuf juga mengkritik Pemerintah Kabupaten Jayawijaya yang memberikan ruang bagi kegiatan tersebut di tengah situasi Papua Pegunungan yang menurutnya masih menghadapi berbagai persoalan, termasuk meningkatnya kehadiran aparat militer nonorganik di sejumlah wilayah.
“Kasihan masyarakat Jayawijaya dijadikan objek kampanye untuk menutupi semua yang terjadi di Papua Pegunungan. Padahal daerah ini masih menghadapi berbagai persoalan dan keresahan masyarakat. Kehadiran Bobon justru dinilai menutupi luka-luka yang sedang dialami masyarakat Papua,” katanya.
Sebagai aktivis kemanusiaan, Yusuf menegaskan bahwa kritik yang disampaikan merupakan bentuk penyampaian aspirasi melalui media.
“Yang bisa kami lakukan sebagai aktivis kemanusiaan adalah menyampaikan melalui media. Karena jika kami melakukan penolakan di lapangan, kegiatan ini dikawal dengan kekuatan militer yang sangat besar. Pandangan kami, apakah ini salah satu taktik yang dipasang negara untuk menutupi semua luka yang terjadi di atas Tanah Papua,” tutup Yusuf.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Jayawijaya maupun pihak Bobon Santoso terkait kritik yang disampaikan Yusuf Yikwa. Berita ini juga memuat pandangan narasumber dan belum mencerminkan keseluruhan posisi seluruh pihak yang terlibat.(Red)*
