Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Peran Utama Militer Kolonial Di Wilayah Jajahan
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Catatan Aktivis Papua > Peran Utama Militer Kolonial Di Wilayah Jajahan
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Peran Utama Militer Kolonial Di Wilayah Jajahan

admin
Last updated: July 22, 2024 16:03
By
admin
Byadmin
Follow:
1.2k Views
2 years ago
Share
Aparat Indonesia ketika menginterogasi warga sipil di dalam kota Mulia, Puncak Papua - Dok
SHARE

Oleh: Victor Yeimo

Iklan Nirmeke

Peran utama Militer Kolonial di wilayah jajahan diantaranya;

Pertama; Menghacurkan kekuatan bangsa yang dijajah dengan jalan membunuh dan menindas. Operasi pembantaian massal, penyiksaan, dan eksekusi tanpa pengadilan dilancarkan. Tujuannya agar yang terjajah takut dan tunduk patuh pada penjajah.

Kedua; Setelah menciptakan ketakutan, langkah berikutnya adalah menguasai dan mengontrol wilayah. Militer kolonial mendirikan pos-pos militer di daerah strategis untuk memastikan tidak ada perlawanan yang bisa berkembang.

Ketiga; Setelah berhasil menguasai, tujuan akhir militer kolonial adalah mengamankan eksploitasi kekayaan alam di wilayah jajahan, sambil memperbesar pangkat dan pundi-pundi keuangan dari operasi-operasi militer yang dilancarkan. Hasil eksploitasi untuk menghidupi negaranya dan meninggalkan rakyat terjajah hidup dalam kemiskinan dan penderitaan.

Ketika terjadi perlawanan dari rakyat, media kolonial digunakan untuk memutarbalikkan fakta dan membenarkan tindakan kejam militer kolonial. Pejuang yang berani melawan penjajahan akan dicap sebagai pemberontak atau teroris. Setiap tindakan kekerasan yang dilakukan oleh militer kolonial dijustifikasi sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas dan keamanan.

Kenapa mereka bertindak sekejam itu, selain motivasi ekonomi politik, juga karena kesadaran mereka telah dirusak oleh konsep nasionalisme palsu yang disebarkan oleh para penguasa kolonial. Nasionalisme palsu ini digunakan untuk menciptakan loyalitas buta dan membenarkan segala bentuk kekerasan dan penindasan.

Baca Juga:  Kekerasan Seksual Jadi Jenis yang Paling Banyak Dialami Korban Sepanjang 2022

Mereka diajarkan untuk melihat penjajah sebagai pahlawan dan pelindung, sementara rakyat terjajah dianggap sebagai ancaman dan musuh. Mereka bersedia melakukan tindakan kejam tanpa mempertanyakan moralitas atau keadilan dari perintah yang diberikan. Pembantaian dan penyiksaan menjadi bagian dari rutinitas mereka.

Nasionalisme palsu memberikan justifikasi bahwa segala bentuk kekerasan adalah demi “kepentingan Nasional” dan “kemajuan peradaban”. Militer kolonial merasa tidak bersalah atau bertanggung jawab atas kekejaman mereka. Mereka percaya bahwa tindakan mereka adalah demi kebaikan yang lebih besar dan bahwa mereka adalah pembawa peradaban dan kemajuan.

Mereka didoktrinasi untuk melihat budaya dan identitas lokal sebagai sesuatu yang primitif dan perlu dihapuskan atau diubah agar sesuai dengan nilai-nilai penjajah. Mereka aktif terlibat dalam penghancuran budaya, bahasa, dan tradisi lokal. Segala bentuk perlawanan budaya dianggap sebagai pemberontakan dan dihancurkan dengan kekerasan.

Sementara, para petinggi militer kolonial memanfaatkan darah dan nyawa prajurit bawahannya untuk menjaga dan memperluas kekuasaan mereka. Prajurit menjadi alat yang diperas dan dikorbankan, sementara para petinggi militer menikmati keuntungan ekonomi dan status politik yang meningkat. Para petinggi militer kolonial menerima dukungan politik dan ekonomi sebagai imbalan atas kesetiaan mereka dan kontribusi mereka dalam menindas perlawanan rakyat terjajah.

Baca Juga:  60 Tahun Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Papua Barat (1963-2023)

Rakyat terjajah yang menunjukkan perlawanan secara terbuka sering kali menghadapi konsekuensi yang berat, termasuk penyiksaan dan kematian. Oleh karena itu, banyak yang terpaksa menyesuaikan diri dengan tuntutan penjajah untuk menghindari kekerasan. Konformitas terpaksa ini menciptakan ilusi bahwa penjajah memiliki dukungan luas, padahal sebenarnya itu adalah hasil dari intimidasi dan ketakutan.

Di bawah ancaman kekerasan dan penindasan, banyak rakyat terjajah terpaksa berpura-pura mendukung penjajah. Mereka menggunakan simbol-simbol penjajah dan kata-kata pujian untuk menyelamatkan diri dan keluarga mereka dari bahaya. Tindakan ini sering kali terlihat sebagai pengkhianatan oleh pejuang kemerdekaan, tetapi dalam kenyataannya, ini adalah strategi bertahan hidup di bawah rezim yang kejam.

Maka, sangat penting bagi rakyat pejuang untuk menyadari bahwa perjuangan ini adalah bagian dari upaya besar untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan mendapatkan kembali hak-hak yang dirampas. Rakyat terjajah harus bersatu, mengorganisir diri, dan menggunakan semua sumber daya yang ada untuk melawan penjajahan dan mencapai kemerdekaan yang sejati. (*)

)* Juru Bicara Internasional Komite Nasional Papua Barat (KNPB)

Related

You Might Also Like

Perempuan Papua Dalam Perjuangan

Pengesahan UU TNI: Kepentingan Politik Prabowo 2029 Korbankan Supremasi Sipil

 HITAM-PUTIH: Fakta 10 Tahun  BTM Menakhodai Kota Jayapura 

Review buku “Orang Hubula: Makna Martabat Kolektif Suku Hubula di Lembah Palim, Papua” Oleh Yulia Sugandi

25 Tahun Biak Berdarah, Negara Lindungi Pelaku Kejahatan

TAGGED:Kekerasan Aparat Terhadap Warga Sipil PapuaKonflik Bersenjata di PapuaMiliter di PapuaOperasi Militer di PapuaSDA Papua Incaran Investor Asing

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Miras Dan Narkoba Telah Mengancam Eksistensi Kehidupan Orang Papua
Next Article OPD di Provinsi Papua Pegunungan  Didominasi Honorer Non OAP
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

MRP Papua Pegunungan Soroti Dugaan Tertutupnya Pengelolaan Dana Otsus, Desak Evaluasi Kabag Keuangan
MRP Papua Pegunungan Papua Pegunungan
1 day ago
Refleksi 100 Hari Kerja, Sekretaris MRP Papua Pegunungan Fokus Perbaikan Tata Kelola
MRP Papua Pegunungan Papua Pegunungan Tanah Papua
1 day ago
IKBD-KLPUW2 Gelar Ibadah Paskah Bersama di Jayapura, Tekankan Spiritualitas dan Kebersamaan
Pendidikan
1 day ago
MRP Papua Pegunungan Tegaskan Kepala Daerah Tak Berwenang Ubah Hasil Pansel DPRK
MRP Papua Pegunungan Papua Pegunungan Tanah Papua
6 days ago
Baca juga
Catatan Aktivis PapuaPendidikan

Saatnya Kaum Sarjana Berdiri Bersama Rakyat

2 years ago
Raga Kogeya Koordinator Pengungsi Nduga di Wamena - Yefta/nirmeke
Catatan Aktivis PapuaTanah Papua

Raga Kogeya: Pengungsi Nduga Masih Diabaikan Oleh Pemerintah Indonesia

2 years ago
Editorial

Hukum Tanah Setempat

3 years ago
Catatan Aktivis Papua

Isu Naiwerek dan Propaganda Penantang: Respons Bijak bagi Orang Baliem

2 years ago
Editorial

Nakes dan Guru di Papua Terancam Stigma Mata-Mata Militer Pasca Revisi UU TNI

1 year ago
Editorial

Penegakan Korupsi di Papua, Membela Rakyat Atau Koruptor?

3 years ago
Papua Jungle - Ilustrasi
Catatan Aktivis Papua

Ayat-ayat Papua Untuk HUT Kemerdekaan RI

3 years ago
Editorial

Kolonialisme Primitif di Papua

2 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?