Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: 25 Tahun Biak Berdarah, Negara Lindungi Pelaku Kejahatan
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Catatan Aktivis Papua > 25 Tahun Biak Berdarah, Negara Lindungi Pelaku Kejahatan
Catatan Aktivis Papua

25 Tahun Biak Berdarah, Negara Lindungi Pelaku Kejahatan

admin
Last updated: July 8, 2023 19:25
By
admin
Byadmin
Follow:
1.1k Views
3 years ago
Share
25 Tahun Biak Berdarah, Negara Lindungi Pelaku - Ist
SHARE

Oleh: Ambrosius Mulait

Iklan Nirmeke

Tragedi Biak Berdarah, 6 Juli 1998, merupakan tragedi kemanusiaan yang mengorbankan banyak orang dan menyisakan penderitaan di hati Orang Papua. Peristiwa bermula dari aksi damai dihadiri 500 – 1.000 peserta. Aksi protes merupakan bentuk resistensi bangsa Papua terhadap sejarah integrasi Papua kedalam Indonesia melalui Pepera yang dianggap tidak demokratis dan catat hukum.

Aksi damai direspon dengan penembakan secara brutal oleh aparatus negara mengakibatkan ribuan peserta aksi menjadi korban. Dari Hasil investigasi Elsham Papua berjudul “Papua Tanpa Nama, Nama Tanpa Pusara”, menyebutkan tragedi Biak Berdarah tercatat 230 korban, diantaranya;

8 orang meninggal, 

3 orang hilang; 

4 korban luka berat 

33 orang ditahan sewenang-wenang 

150 orang mengalami penyiksaan

32 mayat ditemukan di perairan Laut Biak

Setelah Bunuh Orang Papua Jadi Pahlawan Negara

Jenderal (purn.) Wirantomantan Panglima ABRI pada era Orde Baru diduga ikut terlibat dalam peristiwa penyerangan 27 Juli 1996, Tragedi Trisakti, Peristiwa Semanggi I dan II, penculikan dan penghilangan aktivis pro demokrasi tahun 1997-1998 serta peristiwa Biak berdarah.

Dan nama Wiranto disebut-sebut di dalam sebuah laporan khusus setebal 92 halaman yang dikeluarkan oleh Badan Peserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bawah mandat Serious Crimes Unit.

Baca Juga:  Papua Merdeka: Jalan Pemberontakan Rakyat yang Sadar

Walaupun Wiranto memiliki masa lalu yang kelam atas kejahatan kemanusia, sejak 2016 Jokowi melantik sebagai Menkopolhukam, cara ini negara turut memperpanjang impunitas.

Jalan Panjang Mencari Keadilan 

Kasus Biak Berdarah 1998 berusia 25 tahun negara terus abaikan, justru pemerintahan Jokowi tidak serius memproses Pelaku kejahatan, hingga saat ini sama sekali tidak nampak adanya kemauan politik pemerintah, termasuk pemerintahan Presiden Jokowi, untuk menyelesaikan kasus Biak Berdarah.

Justru Para penguasa di Negara Indonesia ikut memelihara impunitas (pihak yang melakukan kejahatan tidak bisa dihukum) dalam penyelesaian kasus pelanggaran HAM di Papua.

Proses penyelesaian kasus biak berdarah masih menyimpan dibenak korban mama Tineke dalam cerita “Saya dipukul popor senjata. Tangan saya diiris sangkur. Mereka yang sudah dibunuh diangkut menggunakan truk sejak pagi hingga malam. Entah dibawa ke mana.”

“Kami sudah tidak mau lagi berbicara tentang penyelesaian, atau musyawarah atau ganti rugi karena kami tahu bahwa sudah banyak sekali korban-korban pelanggaran HAM di Papua dan negara pasti tidak akan meminta maaf kepada kami,” ujarnya.

Baca Juga:  Aktivis yang Idealis, Harus Mandiri

Selain itu korban maupun saksi Almarhum, Filep Karma “tidak akan berharap pada negara untuk penuntasan tragedi kemanusiaan yang terjadi di bawah Menara Air, Kota Biak, Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada 6 Juli 1998.

Korban secara jelas menjeskan apa yang dilakukan oleh negara dalam tragedy biak berdarah dengan pembubaran paksa oleh aparat keamanan itu menyebabkan jatuhnya korban jiwa, korban luka, korban cacat seumur hidup, dan trauma berkepanjangan.

Rekomendasi Deklarasi (Desember 2017) “Menagih Janji Negara Untuk Menuntaskan Kasus Pelanggaran HAM Berat di Papua”.

  1. Mendesak Komnas HAM agar segera membentuk Tim Ad Hoc untuk melakukan penyelidikan kasus Biak Berdarah.
  2. Laksanakan Pengadilan HAM Ad Hoc untuk mengadili kasus Pelanggaran HAM Biak Berdarah
  3. Memberikan keadilan dan pemulihan bagi korban Biak Berdarah
  4. Selesaikan Semua Pelanggaran HAM Di Papua
  5. Memberikan Hak Menentukan Nasip Sendiri Bangi Bangsa West Papua Sebagai Solusi Demokratis.

)* Sekjen AMPTPI

Related

You Might Also Like

Hendaknya Uskup Agung Merauke Berpihak Pada Masyarakat Adat Wogikel dan Wanam

Isu Naiwerek dan Propaganda Penantang: Respons Bijak bagi Orang Baliem

Saat Jalan Damai Dipasung Senjata (Sabda Minggu)

Butuh Kepedulian Bersama Untuk Berantas Buta Aksara Di Kampung Kumuluk, Lanny Jaya

PMKRI, Uskup Mandagi, dan PSN

TAGGED:25 Tahun Biak BerdarahJalan Panjang Orang Papua Mencari KeadilanOperasi Militer di PapuaPapua Merdeka

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Sidang Pembuktian Perdana Pimpinan Marga Woro Mengugat Pemerintah Provinsi Papua di PTUN Jayapura
Next Article Pemakaian Busana Adat Koteka di Ivent Papua Street Carnival Lecehkan Budaya Masyarakat Lapago dan Meepago
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Ketua Baru KPA Jayawijaya Tonius Wenda dan Pengurus Bergerak Cepat, Renovasi Honai Kantor KPA dan Shelter Sebelum Memulai Pelayanan Keluar - Foto: Dok. KPA Jayawijaya
Tonius Wenda Tancap Gas Benahi KPA Jayawijaya
Kesehatan Papua Pegunungan
1 day ago
Kepala Distrik Bugukgona Salurkan Bibit Kelinci dan Ikan, Dorong Kemandirian Ekonomi Kampung
Ekonomi & Bisnis Papua Pegunungan
2 days ago
KNPI Yahukimo Bentuk Panitia Verifikasi OKP, Dorong Persatuan Pemuda dan Pemulihan Kondisi Daerah
Papua Pegunungan
2 days ago
Masyarakat Adat Yahukimo Tolak Pembangunan Pos TNI di Dekai, Sebut Abaikan Aspirasi Warga
Papua Pegunungan Polhukam
2 days ago
Baca juga
Catatan Aktivis PapuaTanah Papua

Kenapa Keanggotaan ULMWP di MSG Ditolak?

3 years ago
Catatan Aktivis PapuaPendidikan

Pemuda Pendobrak Perubahan

2 years ago
Catatan Aktivis PapuaKesehatan

Ronny Situmorang, Si Maling Uang Rakyat Kabupaten Keerom 2020 Kini Berjaya Di Dinkes Papua Pegunungan

2 years ago
Catatan Aktivis PapuaSiaran Pers

Masyarakat Tiga Aliansi Suku Hubula Butuh Dukungan Semua Komponen Suku di Lapago

3 years ago
Catatan Aktivis Papua

Masih Pentingkah Disebut Otonomi Khusus Papua? Ketika OAP Disamaratakan dengan Non-OAP?

1 year ago
Catatan Aktivis Papua

Kekejaman Amerika Serikat dan Indonesia Terhadap Bangsa Papua Barat

3 years ago
Catatan Aktivis Papua

Genap Satu Tahun, Indonesia Abaikan Pilot Philip Marthens Ditangan Brigjen Egianus Kogeya

2 years ago
Catatan Aktivis PapuaPendidikanSastra

Pentingnya Literasi Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Pemuda Papua

2 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?