ADA nama yang selalu kembali, bahkan ketika jarak mencoba membuatnya menguap. Nama itu: Veronika.
Sederhana, tapi anehnya selalu meninggalkan gema—semacam gema yang tidak mencari perhatian, namun tetap tinggal di kepala terlalu lama untuk diabaikan.
Aku pertama kali mengenalnya bukan dalam keadaan luar biasa. Tidak ada lampu kuning senja atau angin yang membawa melodrama. Hanya pertemuan biasa, percakapan biasa, dan perasaan yang tumbuh perlahan seperti tanaman yang tidak tahu dirinya sedang tumbuh. Namun perlahan, sosoknya mengubah “biasa” menjadi sesuatu yang lain—sebuah perhatian yang tidak kupaksakan, tapi tetap membawaku kembali ke dirinya.
Hubungan kami tidak pernah berjalan lurus.
Sejak awal kami sama-sama tahu: apa pun yang kami bangun, akan selalu diuji oleh cara kami berdua menghadapi dunia.
Kadang terlalu sensitif, kadang terlalu diam, kadang terlalu ingin merasa benar.
Di sinilah kisah itu bermula: dalam ketidaksempurnaan yang justru membuatnya nyata.
Ada masa ketika kami berjalan beriringan, tetapi tidak sepenuh hati saling memahami. Ucapan sederhana bisa berubah menjadi sebab pertengkaran. Tatapan yang kosong sesekali terasa seperti penilaian. Lalu muncul cemburu—yang kadang tidak beralasan, namun cukup kuat untuk membuat jarak yang tadinya kecil menjadi jurang yang tak terduga.
Kami pernah berhenti.
Benar-benar berhenti.
Bukan perpisahan yang dramatis, hanya sebuah jeda panjang yang menampung kalimat-kalimat yang tidak sempat kami ucapkan. Pada saat itu, aku benar-benar percaya bahwa kisah kami sudah selesai. Bahwa sesuatu yang dimulai dengan hati-hati tidak selalu berakhir dengan pegangan tangan.
Namun ternyata, perasaan adalah makhluk membingungkan.
Ia tidak menghilang hanya karena kami memutuskan begitu.
AKU mencoba menjalani hari-hari tanpa Veronika.
Semula kupikir akan mudah: aku pernah hidup tanpa dirinya sebelumnya. Namun setiap langkah justru mengantarkan pada kesadaran baru: Veronika bukan hanya seseorang yang mampir, ia adalah seseorang yang meninggalkan ruang kosong ketika tidak ada.
Saat itu, aku belum tahu bahwa ia merasakan hal yang sama.
Kami hanya saling diam, saling menunggu, saling menahan ego yang terlalu besar untuk mengizinkan sebuah pesan sederhana keluar: “Bagaimana kabarmu?”
Pada akhirnya, sesuatu yang tidak kami rencanakan justru mendekatkan kami kembali.
Percakapan kecil.
Sebuah kebetulan.
Kalimat yang tidak mengandung harapan, tapi menyimpan rindu yang sulit disembunyikan.
Kami kembali bukan karena semuanya sudah beres,
tapi karena kami masih ingin mencoba.
Perjalanan panjang yang penuh tanjakan, beberapa tikungan yang hampir membuat kami tersesat, dan banyak sekali hari biasa yang entah bagaimana terasa berharga.
Veronika bukan sosok sempurna.
Dan aku jauh lebih tidak sempurna.
Namun di antara ketidaksempurnaan itulah kami belajar.
Kami belajar bahwa cinta bukan tentang selalu setuju.
BUKAN tentang selalu mengerti tanpa perlu dijelaskan.
Bukan tentang tidak pernah salah.
Cinta, ternyata, adalah tentang memilih bertahan
meski kita pernah terluka oleh hal-hal yang tampak sepele.
Tentang memberi ruang ketika emosi terlalu penuh.
Tentang kembali berbincang bersama setelah badai lewat, meski obrolan masih berantakan oleh kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan.
Ada hari-hari ketika Veronika menjadi alasan bagiku untuk menenangkan diri.
Ada hari-hari ketika akulah yang harus menjadi tenang untuknya.
Kami saling belajar mengimbangi langkah,
meski ritme kami sering tidak sama.
Ada momen ketika ia merasa takut kehilangan.
Ada momen ketika aku merasa tidak cukup baik.
Ada momen ketika kami berdua saling memandang dan menyadari bahwa hubungan ini tidak selalu mudah, tetapi memiliki arah.
Dan arah itu—tanpa perlu dijanjikan secara dramatis—tetap menuju satu sama lain akan menjadi satu.
WAKTU yang lama hubungan tanpa pertemuan ternyata membentuk ruang yang berbeda—ruang yang tidak diisi dengan sentuhan atau tatapan langsung, tapi oleh percakapan larut malam, pesan yang panjangnya tidak terukur, dan panggilan suara yang entah bagaimana mampu mengisi kekosongan jarak.
Kadang aku bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang yang belum pernah kusentuh dan kutemui bisa begitu dekat. Bagaimana suara yang datang melalui speaker bisa terasa lebih jujur dari banyak pertemuan yang pernah kulalui dalam hidupku. Dan bagaimana nama “Veronika” bisa menjadi sesuatu yang kukenali hanya dari jeda napasnya, cara ia tertawa, atau perubahan kecil dalam nada ketika ia sedang tidak baik-baik saja.
Kami tidak memiliki foto berdua, tidak memiliki ingatan tentang berjalan berdampingan, tidak memiliki cerita tentang bertemu di suatu tempat dan melakukan hal-hal yang dilakukan banyak pasangan.
Yang kami punya hanyalah kehadiran yang dikirimkan lewat kata-kata—dan anehnya, itu cukup untuk membuat kami bertahan sejauh ini.
Ada malam-malam ketika keraguan datang, bertanya apakah hubungan seperti ini bisa benar-benar tumbuh. Namun setiap kali aku berpikir begitu, Veronika selalu hadir dalam bentuk yang sama: suara yang menenangkan, tawa yang kukenal, kalimat sederhana yang terasa seperti tangan yang mengusap bahuku dari jauh.
“Kita sudah sejauh ini,” katanya suatu hari. “Kadang aku tidak percaya kita bisa bertahan tanpa pernah bertemu.”
Aku tersenyum, meski ia tidak bisa melihatnya.
“Mungkin karena yang kita jaga bukan pertemuan,” jawabku, “tapi perasaan.”
Ia terdiam sebentar, lalu napasnya terdengar lebih lembut dari biasanya—sejenis kelegaan kecil yang merayap melalui jarak.
“Aku ingin percaya itu,” katanya. “Aku ingin percaya bahwa hubungan ini nyata.”
“Menurutku,” kataku pelan, “sesuatu tidak harus terlihat untuk menjadi nyata. Kita berdua membuktikannya.”
Tidak ada adegan pertemuan manis, tidak ada pelukan yang akhirnya terjadi, tidak ada kepastian kapan semua ini berubah menjadi nyata secara fisik. Namun ada kejujuran, ada usaha, ada kenyamanan yang tidak bisa dijelaskan oleh jarak berapa pun.
Veronika,
nama yang belum pernah kulihat berdiri di hadapanku,
tetapi justru menjadi salah satu kehadiran paling konsisten dalam hidupku.
Dan meski dunia mungkin bertanya bagaimana cinta seperti ini bisa bertahan,
kami tidak membutuhkan jawaban besar.
Yang kami tahu hanya satu:
“meski belum pernah bertemu, kami tetap memilih satu sama lain”.
Hari demi hari,
tahun demi tahun,
tanpa genggaman tangan,
namun dengan ikatan yang tetap menemukan cara untuk tetap percaya satu sama lain.
Karena mungkin, bagi sebagian orang pertemuan adalah awal,
tapi bagi kami—perasaanlah yang memulai segalanya.
Ingat ” ADA AKU BUKAN WAKTU”
Berlanjut ….
