Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Cerpen: Percuma Sa Berdoa
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Cerpen Papua > Cerpen: Percuma Sa Berdoa
Cerpen Papua

Cerpen: Percuma Sa Berdoa

admin
Last updated: September 23, 2025 11:11
By
admin
Byadmin
Follow:
1 year ago
Share
5 Min Read
Percuma Sa Berdoa - Cover Cerpen
SHARE

Oleh: Nomen Douw

Iklan Nirmeke

Sa lihat sa pu diri di cermin dengan tatapan kosong. Di depan cermin, sa pu wajah tampak lebih pucat dari hari kemarin, meski garis tipis sudah menyamar garis-garis lelah yang su mulai menggaris sa pu wajah.

Tangan kanan secara otomatis menyentuh bagian bawah perut, di rahim yang seharusnya simpan harapan akan kehidupan baru. Tapi, harapan itu sekarang terasa jauh dan tidak terjangkau.

“Apa yang salah deng sa pu tubuh ini?” pikir sa dalam hati.

Sa tidak pernah membayangkan kalau sa akan hadapi kenyataan seperti ini. Patah hati karena gugur, luka yang tak kunjung sembuh, dan sekarang, diagnosis yang membuat terdiam—tumor dalam sa pu kandungan. Penyakit yang jarang terjadi, tapi cukup mengerikan. Dokter jelaskan kalau tumor itu bisa jadi karena gagal hamil. Lebih buruk lagi, tumor itu bisa bikin sa mandul. Tapi tidak, sa pu doa. Sa percaya sa pu Tuhan. Tuhan akan berikan sa anak seperti perempuan lain.

“Dok sarankan saja untuk ko jalani operasi saja,” kata dokter beberapa hari yang lalu. Suara dokter masih terdengar di sa pu telinga, seperti gema yang tidak bisa hindari.

“Kalau ko biarkan, tumor akan besar dan pengaruhi organ-organ lain nanti.” lanjut Ibu Dokter.
Sa tidak tahu apa yang harus sa rasakan. Di satu sisi, sa merasa takut sekali. Takut operasi yang harus dilaluinya. Takut sa pu masa depan gelap, tanpa ada anak yang pernah sa impikan seperti sa pu teman-teman perempuan mereka. Tapi, di sisi lain, sa merasa kecewa—kecewa karena sa pu tubuh yang dulu sehat dan penuh energi, sekarang jadi penghalang besar dalam sa pu perjalanan hidup.

Baca Juga:  Cerita Dengan Wanita Papua

Sa ingat, beberapa tahun yang lalu, sa ingin punya anak, Feri, teman kantor, dia sering bicara tentang dia pu anak-anak. Sa bayangkan bagaimana rasa jadi orang tua, mendengar tawa riang anak-anak di rumah, merawat buah hati bersama cinta. Tapi, kenyataan berkata lain. Setiap bulan, sa pu harapan untuk mendapatkan anak semakin pudar. Dan sekarang, dengan tumor itu, semuanya terasa seperti mimpi yang hancur. Sa bercinta dengan banyak laki-laki untuk memiliki anak tapi belum terjadi. Tidak ada apa-apa.

“Ko harus kuat,” kata Desi saat kami berdua duduk di ruang keluarga malam itu, berbicara tentang pilihan-pilihan yang mereka hadapi.

“Apa pun yang terjadi, sa akan selalu di sini untuk ko.” lanjut Desi.

Namun, meski kata-kata itu menenangkan hati, sa merasa ada kekosongan yang semakin dalam. Bagaimana jika tumor itu membuat benar-benar sa tidak bisa punya anak? Bagaimana kalau seluruh dunia ini hanya memberinya penantian yang sia-sia?

Sa mencoba untuk tetap tegar. Siska sudah banyak berkorban untuk sa, dan sa merasa tak ingin mengecewakan. Sa tahu, jika kami berdua bisa melalui ini bersama, kami akan lebih kuat. Tetapi, perasaan takut itu tetap ada—takut akan masa depan yang tak pasti, dan takut akan kehilangan kemampuan untuk menjadi ibu yang memiliki anak-anak.

Hari-hari setelahnya, sa menjalani serangkaian tes dan prosedur medis untuk persiapan operasi. Rasa cemas itu terus menghantui setiap langkah sa. Namun, satu hal yang selalu menguatkannya adalah sa pu doa. Doa agar sa pu tubuh bisa sembuh, doa agar Tuhan memberinya kesempatan untuk merasakan menjadi seorang ibu.

Baca Juga:  YOKA

Operasi pun akhirnya dilaksanakan. Sa tidak tahu berapa lama waktu berlalu sejak sa dibawa ke ruang operasi, tetapi ketika sa terbangun, Siska sudah ada di samping sa, memegang sa tangan erat-erat.

“Semua sudah selesai,” kata Siska dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.
“Ko baik-baik saja.” Lanjut Siska.

Sa menatap wajah Siska, sa masih terbungkus dalam rasa bingung dan lelah. “Apa… apa sa masih bisa punya anak?” Kata sa.

Siska mengangguk, mata berkaca-kaca. “Dokter bilang kita masih punya peluang. Tumornya sudah diangkat, dan ko bisa mencoba lagi.”

Sa pu air mata menetes, bukan karena rasa sakit, tetapi karena harapan yang perlahan-lahan kembali muncul. Meskipun kami pu jalan masih panjang, dan meskipun tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, satu hal yang pasti: Sa tidak akan menyerah.

Sa dan Siska akan berjuang bersama, menghadapi segala kemungkinan dengan cinta dan harapan yang tak pernah padam.

Dan di tengah segala kesulitan itu, sa tahu bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan untuk terus berharap, meski dunia terasa seolah runtuh di sekitarnya. Ternyata sa tidak hamil dan memiliki anak karena sa dan Siska adalah pasangan lesbi. Kami dua hanya menikmati sentuhan.

(Kedai, 2024)

Related

You Might Also Like

Doa Olipa Menembus Langit Dunia

Kisah Anak Rantau di Bawah Terik Mentari: Saga Youtefa Jayapura

Kesetiaan cinta seorang Pria

Cerpen: Perpisahan Dirumah Sakit Abepura

Untuk-Mu Yang Bernama Veronika

TAGGED:Cerpen PapuaNomen DouwSastra Papua

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Unjuk Rasa di Kantor Gubernur, Pegawai Honorer Tuntut Jawaban Atas Pemecatan Tanpa Alasan
Next Article Masih Pentingkah Disebut Otonomi Khusus Papua? Ketika OAP Disamaratakan dengan Non-OAP?
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Iklan dari Nirmeke.com
Ad image

Berita Hangat

Sidang Perdana Korupsi Dana Kampung Lanny Jaya Digelar, Peran Mantan Pj Bupati Dipertanyakan
Tanah Papua
12 hours ago
Hak Pelatih dan Pemain Belum Dibayar, Persipuja Terancam Tak Ikut Liga 4 Papua Tengah
Olaraga
15 hours ago
15 Februari, Jemaat GB Imanuel Teladan Sentani Gelar Pemilihan Badan Pelayanan 2026–2030
Tanah Papua
15 hours ago
Unika Fajar Timur Papua Resmi Diluncurkan pada Penutupan Sinode Keuskupan Jayapura 2026
Pendidikan Tanah Papua
2 days ago
Baca juga
Cerpen Papua

Cerpen: Tanah yang Terjual

1 year ago
Cerpen Papua

Gemuruh Perang dan Cinta di Pulau Biak

2 years ago
Cerpen Papua

Cerpen | Suara Hati yang Terlupakan

7 months ago
Cerpen Papua

SA MAU BEBAS 

2 years ago
Cerpen Papua

Politik Ala Papua

2 years ago
ArtikelCerpen Papua

Mayat Turis Jepang di Biak Berdarah

1 year ago
Cerpen Papua

Buah Pinang Sarjana Buat Ibunda Terkasih

3 years ago
Cerpen Papua

Cinta Bersemi di Rimba Raya

2 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?