Wamena, nirmeke.com — Upaya mendorong ketahanan pangan berbasis kampung mulai terlihat di Distrik Hubikiak, Kabupaten Jayawijaya. Kebun jagung seluas sekitar 10 hektare binaan Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Papua Pegunungan kini memasuki masa panen bertahap.
Dari total luasan tersebut, baru beberapa hektare yang siap dipanen, sementara sisanya masih dalam proses penanaman dan pertumbuhan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Provinsi Papua Pegunungan, Alpius Yigibalom, mengunjungi kebun jagung binaan di Kampung Musiaima 2, Distrik Hubikiak, Kabupaten Jayawijaya, Sabtu (4/4/2026).
Lokasi kebun jagung seluas sekitar 10 hektar tersebut dikelola oleh tujuh orang sarjana bersama masyarakat setempat sebagai bagian dari upaya mendorong ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi berbasis kampung.
Dalam kunjungannya, Alpius menegaskan pentingnya menggerakkan masyarakat untuk kembali mengolah lahan pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Hari ini kami turun langsung ke kebun untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar kembali menanam. Lahan di sini subur, tapi banyak yang masih ‘tertidur’. Ini yang kami dorong supaya rakyat kembali bekerja di kebun,” ujarnya.
Menurutnya, program pembinaan ini tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga pada pendampingan sumber daya manusia, khususnya generasi muda terdidik.
“Kami kumpulkan tujuh orang sarjana untuk mengelola kebun ini bersama masyarakat. Mereka menjadi motor penggerak, memberikan motivasi dan semangat agar masyarakat aktif bertani,” katanya.
Ia menyebutkan, tanaman jagung yang dikembangkan saat ini sudah memasuki masa panen. Pemerintah menargetkan panen perdana dilakukan dalam waktu dekat.
“Jagung yang ditanam sudah siap panen. Rencana panen dimulai awal minggu depan, sekitar tanggal 6 atau 7 April,” jelasnya.
Lebih lanjut, Alpius menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya mendorong masyarakat untuk menanam, tetapi juga menyiapkan skema hilirisasi dan pemasaran hasil produksi.
“Setelah tanam, harus ada solusi—hasilnya mau dibawa ke mana. Pemerintah siap menampung dan mengolah jagung ini, salah satunya menjadi pakan ternak ayam petelur,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sebagian hasil panen awal bahkan telah mencapai lebih dari satu ton dan saat ini sedang dipersiapkan untuk pengolahan lanjutan.
Program ini, lanjutnya, sejalan dengan arahan pemerintah pusat dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan potensi lokal.
“Kami tidak mau hanya duduk di belakang meja. Kami turun langsung bersama rakyat, dorong mereka tanam jagung, kopi, bawang, dan komoditas lain. Ini bagian dari misi kami untuk bangun ekonomi rakyat,” tegasnya.
Alpius berharap, kehadiran pemerintah melalui program pembinaan ini mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan biaya pendidikan anak-anak.
“Kami ingin rakyat benar-benar merasakan manfaatnya. Mereka bisa bekerja, menghidupi keluarga, dan membiayai sekolah anak-anak dari hasil kebun,” pungkasnya.(*)
Pewarta: Aguz Pabika
