Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Seharusnya Wio Silimo Menjadi Nama Ibukota Di Wamena
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Editorial > Seharusnya Wio Silimo Menjadi Nama Ibukota Di Wamena
Editorial

Seharusnya Wio Silimo Menjadi Nama Ibukota Di Wamena

admin
Last updated: March 4, 2023 02:19
By
admin
Byadmin
Follow:
948 Views
4 years ago
Share
SHARE

Oleh; Soleman Itlay

Iklan Nirmeke

Nama “Wamena” ini seharusnya tidak digunakan sebagai ibu kota ataupun apapun juga. Karena pada hakekatnya itu salah diartikulasikan secara historis, mitologis dan filosofis tua yang pernah dimiliki di kota ini.

Saya pernah tinggal dengan orang tua Wenehule Huby, seorang kepala suku besar dari aliansi Mukoko di “Jantung Kota Dingin”, di Wesaput.

Dia adalah anak kandung dari mama Togaleke Itlay, seorang perempuan dari suku Yali yang kawin dengan ayahnya, yang pertama kali bertemu dengan seorang Belanda di pinggiran kali Wesak, yang kemudian ikut melahirkan nama “Wamena”.

Dia tidak sekolah, tidak pernah menempuh pendidikan tinggi, tidak tahu baca, tidak tahu tulis dan tidak tahu hitung juga. Tetapi perihal pengetahuannya tentang sejarah dan mitologi di kota ini sungguh tidak perlu diragukan lagi.

Seorang profesor, doktor, magister dan sarjana bertitel dan yang pernah menempuh pendidikan tinggi setinggi langit sekalipun, menurut saya, kalau bicara sejarah dan mitologi kota ini harus tunduk kepala kepada orang-orang tua, termasuk orang tua ini, Wenehule Huby.

Pengetahuan yang mereka miliki bukan pengetahuan palsu, bukan juga pengetahuan rekayasa apalagi imitasi. Tidak!

Pengetahuan empiris dan rasionalitas mereka adalah murni dan alamiah. Sungguh teruji di mata tetua adat, dapat dipercaya, diterima dan dipertanggungjawabkan secara alamiah maupun di permukaan umum–dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada kaitannya dengan pengetahuan yang didapatkan dari hasil transaksi pemikiran di bak “sampah” monopoli pendidikan monoton yang asing bagi mereka dan dijadikan sebagai pasar untuk jual beli ilmu pengetahuan dalam sebuah sistem yang dibangun sedemikian rupa dan amat kapitalistik.

Mereka mendapatkan pendidikan, pengajaran, pelatihan dan pembinaan secara spontan dan alamiah. Tentu saja itu menitikberatkan pada dunia lisan.

Dimana orang tua hanya bicara dan menceritakan, sedangkan anak-anak hanya mendengar, melihat, mengingat dan menghafal diam-diam.

Semua ada di kepalanya, walaupun orang tua dulu beritahu kepadanya secara lisan. Secara tidak langsung ini menunjukkan kelebihan dan kekuatan pikiran [orang-orang tua] kita yang luar biasa.

Baca Juga:  Otonomi Khusus Papua, Mengapa Memiskinkan Papua?

Saya termasuk orang yang mendapatkan pengajaran, pelatihan dan pembinaan dari proses pendidikan lisan itu.

Salah satunya saya pernah berguru secara tidak sadar pada seorang profesor, doktor dan ahli strategi perang yang bernama Wenehule Huby itu. Saya banyak dengar cerita darinya tentang “Wamena” satu ini.

Semasa mudanya pernah mengendalikan situasi di jantung kota dari berbagai serangan yang datang dari berbagai sudut kota, bahkan dari mana-mana, yaitu; timur, barat, utara dan selatan.

Dia pernah ada di posisi itu, mengendalikan kota ini dari segala macam ancaman dan bahaya yang menghantui aliansi Mukoko. Namun, dengan segala keahlian dan strategi yang dia maupun pendahulunya terapkan mampu mengendalikannya.

Biasanya, untuk mengendalikan itu, salah satu syarat yang harus dimiliki oleh seorang kepala suku (kainj) adalah mengetahui akan sejarah dan segala sesuatu yang ada di wilayah kekuasaannya.

Tujuannya, agar segala sesuatu yang hidup dan mati yang ada dalam maupun di luar permukaan tanah, udara, kali dan lainnya mendengar, dan mendukung segala kehendaknya.

Kalau tidak didasarkan pada sejarah dan mitologi itu, maka sangat berbahaya. Bahayanya, bisa saja mereka diserang dan dihancurkan oleh pihak lawan ataupun ditimpakan bencana alam, kelaparan dlsb.

Dia tahu banyak hal tentang segala yang ada di jantung kota ini. Beberapa kali pernah menceritakan tentang nama-nama kali, tempat keramat, perbukitan, dan cerita di balik semua nama asli itu.

Dia tak hanya ingin agar nama ibu kota ini dikembalikan pada namanya yang sebenarnya, akan tetapi juga nama-nama kali, tempat, bukit, pegunungan dan jalan-jalan di dalam maupun di luar kota “Wamena* dikembalikan menurut namanya masing-masing–sesuai sejarah dan mitologi kuno.

Karena hanya dengan cara itu–mengembalikan nama-nama sesuai dengan sejarah dan mitologi, menurut dia, kita akan saling menghargai dan menghilangkan.

Dimana kita sebagai manusia menghormati dan menghargai Tuhan melalui karya di alam semesta, dan melalui pesan-pesan yang diturunkan lewat leluhur agar diberikan nama kali, tempat keramat, perbukitan, pegunungan dlsb.

Baca Juga:  Mengapa Saya Tidak Suka Disebut Suku Dani?

Dia yakin bahwa dengan cara menghargai dan menghormati Tuhan, leluhur dan nenek moyang dengan cara demikian, maka mereka pun akan senang dan mendukung penuh apa yang sedang kita lakukan dan ingin capai di dalam kota ini.

Sebelum akhirnya meninggal dunia, dia pernah mempersoalkan nama “Wamena” sebagai ibu kota. Karena bagi dia itu tidak cocok dan bukan nama sebenarnya, walaupun nama itu melibatkan peran mamanya di balik peristiwa di belakang Museum Wesaput.

Nama ibu kota yang tepat menurut dia adalah Wio Silimo dan Agamua. Wio dan Agamua memiliki cerita masing-masing dan tentu saja bagi dia, itulah yang cocok untuk diangkat sebagai nama ibu kota.

Dari kedua nama ini yang lebih tenar ialah Agamua. Tetapi dia lebih suka menggunakan Wio Silimo. Karena baginya Wio lebih tepat ketimbang Agamua.

Sama-sama mempunyai sejarah dan mitologi. Akan tetapi bagi orang tua ini, Wio Silimo itu mengandung mitologi, sejarah dan filosofi dasar yang sangat kuat.

Bagi dia kalau orang menggunakan nama Wio atau Wio Silimo sebagai ibu kota, maka Tuhan, leluhur, enek moyang dan alam akan senang dan mendukung apa yang terjadi di kota ini.

Tatapi kalau tidak, terutama kalau kita membalikkan nama-nama kali, jalan, bukit dan lainnya, juga semuanya kita kasih nama dari luar dan yang asing, maka sebagus apapun keinginan kita, segala yang bisu dan terdiam di balik kota ini tidak akan pernah memberikan restu.

Yang ada pasti kita ini akan kehilangan sejarah, mitologi, filosofi, prestise, dan segala keagungannya. Untuk menjadi hari esok lebih baik dari hari ini atau masa lalu, harus dibangun diatas sejarah, mitologi dan filosofinya.

Wio atau Wio Silimo adalah nama ibu kota yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan kembali. Semoga kita ini semakin jaya, kokoh dan agung karena kita membangun diatas sejarah, mitologi, dan filosofi yang tepat.

Related

You Might Also Like

Disertasi Riedno Graal Taliawo, Gerakan Perlawanan Tanpa Kekerasan Dengan Studi Kasus Gerakan KNPB

Prinsip Dasar Utama Tanah Bagi Orang Hubula

Indonesia Hadir “Tanpa Diundang” di MACFest 2023

Persatuan Itu Modal Pembebasan Dari Penindasan

Memikirkan Jalan “Lepas” dari Cengkeraman Oligarki

TAGGED:Wamena Papua

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article 5 Perempuan Papua Hebat Yang Layak Disebut “Kartini Papua”
Next Article MRP Keluarkan 6 Maklumat Dalam Rangka Perlindungan Hak-hak Orang Asli Papua
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Ketua Baru KPA Jayawijaya Tonius Wenda dan Pengurus Bergerak Cepat, Renovasi Honai Kantor KPA dan Shelter Sebelum Memulai Pelayanan Keluar - Foto: Dok. KPA Jayawijaya
Tonius Wenda Tancap Gas Benahi KPA Jayawijaya
Kesehatan Papua Pegunungan
1 day ago
Kepala Distrik Bugukgona Salurkan Bibit Kelinci dan Ikan, Dorong Kemandirian Ekonomi Kampung
Ekonomi & Bisnis Papua Pegunungan
2 days ago
KNPI Yahukimo Bentuk Panitia Verifikasi OKP, Dorong Persatuan Pemuda dan Pemulihan Kondisi Daerah
Papua Pegunungan
2 days ago
Masyarakat Adat Yahukimo Tolak Pembangunan Pos TNI di Dekai, Sebut Abaikan Aspirasi Warga
Papua Pegunungan Polhukam
2 days ago
Baca juga
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Agama Katolik dan Adat di Huwulrama-Jayawijaya

2 years ago
EditorialTanah Papua

Tujuan Pemekaran Provinsi di Tanah Papua

3 years ago
Editorial

Nakes dan Guru di Papua Terancam Stigma Mata-Mata Militer Pasca Revisi UU TNI

1 year ago
Editorial

Esensi Perang Gerilya

3 years ago
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Orang Papua Terjebak Dalam Skenario Kolonial Dan Kapitalis Untuk Kepentingan Investasi

2 years ago
EditorialPariwisata

Festival Budaya Lembah Baliem: Lebih dari Sekadar Pertunjukan, Ini Penjaga Jati Diri Papua Pegunungan

10 months ago
Editorial

Gereja Bukan tempat Fashion Show

9 years ago
EditorialSeni & Budaya

Mengapa Begitu Banyak Musisi Besar Adalah Orang Kulit Hitam?

2 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?