Walelagama, nirmeke.com — Petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sukunauak-Welasomon Blok D, Distrik Walelagama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, menghadapi persoalan serangan hama dan keterbatasan sistem irigasi yang mengancam produktivitas lahan persawahan mereka.
Salah satu petani, Amatus Haluk, mengatakan luas keseluruhan lahan yang dikelola kelompok tani tersebut mencapai lebih dari 11 hektare. Sebagian lahan masih dalam proses pengerjaan, sementara sebagian lainnya telah ditanami padi.
Menurut Amatus, lahan yang sudah ditanami mulai mengalami serangan hama. Sekitar delapan petak sawah disebut terdampak.
“Luas lahan keseluruhannya 11 hektare lebih. Sebagian sedang dalam proses pengerjaan dan sebagian lagi sudah ditanami. Di sini lokasi satu hektare punya saya sudah ditanami dan delapan kolam terkena hama,” ujar Amatus. Senin, (24/8/2026).

Ia menjelaskan, tanaman padi yang terserang menunjukkan kondisi bulir yang tidak terisi dengan baik dan mengalami perubahan warna menjadi keputihan.
“Jenis hamanya, padinya tidak terisi baik, berubah warna menjadi keputihan,” katanya.
Petani Minta Irigasi Diperkuat
Selain serangan hama, persoalan utama yang dihadapi petani adalah ketersediaan air dan irigasi.
Amatus mengatakan keberadaan saluran irigasi yang memadai sangat penting untuk memastikan pasokan air dapat menjangkau seluruh lahan persawahan, terutama dalam menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Untuk penanganannya, satu masalahnya adalah air bersih dan irigasi yang memadai agar menyuplai air ke lahan,” jelasnya.
Menurutnya, apabila sistem irigasi dapat diperbaiki dan pasokan air terjamin, petani akan lebih mudah menjaga kondisi tanaman sekaligus meningkatkan produksi.

Karena itu, ia berharap Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dan instansi teknis terkait dapat memberikan perhatian kepada Kelompok Tani Sukunauak-Welasomon Blok D melalui bantuan sarana irigasi, pendampingan pertanian serta penanganan hama.
“Besar harapan agar pemerintah bisa memberikan perhatian, tentunya untuk mengatasi masalah para petani pada saat seperti ini,” ungkap Amatus.
Persoalan yang dihadapi kelompok tani tersebut menjadi gambaran bahwa pengembangan pertanian di Jayawijaya tidak cukup hanya dengan menyediakan lahan. Ketersediaan air, jaringan irigasi, pengendalian hama, pendampingan petani dan dukungan sarana produksi menjadi bagian penting untuk memastikan pertanian sawah dapat berkembang secara berkelanjutan.
Bagi petani di Walelagama, keberhasilan produksi bukan hanya menyangkut pendapatan, tetapi juga berkaitan langsung dengan ketahanan pangan masyarakat Papua Pegunungan. (Red.)

