Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: IPM Sarmi: Angka Naik, Rakyat Masih Jalan di Tempat
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Artikel > IPM Sarmi: Angka Naik, Rakyat Masih Jalan di Tempat
Artikel

IPM Sarmi: Angka Naik, Rakyat Masih Jalan di Tempat

admin
Last updated: April 5, 2026 01:39
By
admin
Byadmin
Follow:
19 Views
23 hours ago
Share
Ilustrasi
SHARE

Oleh: Arius Adeputra Sabarofek (Penulis Muda Papua)

Iklan Nirmeke

Selama tiga tahun terakhir, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Sarmi hanya bergerak di kisaran 0,8 persen. Di atas kertas, angka ini bisa dibaca sebagai kemajuan. Tapi kalau kita turun lihat langsung ke kampung-kampung, ke distrik-distrik yang jauh dari pusat, kita akan temukan satu kenyataan yang berbeda: pembangunan ini seperti jalan pelan di tempat tidak ada lompatan, tidak ada perubahan yang benar-benar terasa.

Dalam pembahasan LKPJ 2025, anggota DPRK Sarmi, Onesias Filep Tiris, melontarkan satu pertanyaan yang sederhana tapi sangat mendasar: distrik mana yang sebenarnya tertinggal? Pertanyaan ini bukan sekadar formalitas rapat. Ini seharusnya jadi pintu masuk untuk melihat realitas pembangunan secara jujur.

Karena selama ini, kita terlalu sering terjebak pada angka rata-rata. Padahal di daerah seperti Sarmi, angka agregat IPM justru bisa menutup fakta bahwa ada wilayah yang maju sedikit, sementara wilayah lain tetap tertinggal jauh tanpa perubahan berarti. Di sinilah masalah mulai kelihatan. Ketika laporan pembangunan tidak mampu menunjukkan peta ketimpangan secara jelas, maka laporan itu kehilangan makna. Pembangunan akhirnya hanya hidup di atas kertas, bukan di tengah masyarakat.

Dinas Pendidikan menjelaskan bahwa IPM adalah hasil olahan Badan Pusat Statistik, bersumber dari data nasional seperti Dapodik. Secara teknis, itu benar. Tapi persoalan di Papua tidak berhenti di teknis. Masalahnya bukan bagaimana angka dihitung, tapi kenapa angka itu tidak mencerminkan kenyataan.

Baca Juga:  Diam yang Terluka

Di wilayah pedalaman seperti Denander dan Wamariri, masalah klasik masih terus berulang: kekurangan guru, fasilitas terbatas, dan akses pendidikan yang belum merata. Untuk pendidikan menengah saja, banyak anak masih harus berjuang lebih jauh bahkan ada yang akhirnya tidak lanjut sekolah. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana mungkin kita berharap angka rata-rata lama sekolah bisa naik signifikan?

Di titik ini, kita melihat satu persoalan yang lebih dalam: cara berpikir kebijakan yang terbalik.

Pemerintah daerah beralasan bahwa pembangunan sekolah menengah belum bisa dilakukan karena jumlah siswa belum memenuhi syarat. Secara aturan, ini mungkin benar. Tapi secara logika pembangunan, ini keliru. Karena tanpa sekolah, tidak akan ada siswa. Dan tanpa siswa, sekolah tidak akan pernah dibangun. Ini lingkaran yang terus berputar dan justru menjaga keterbatasan itu tetap ada.

Masalah lain muncul dalam pelaksanaan program. Ketika target pengadaan perlengkapan belajar tidak tercapai, jawaban yang muncul hanya normatif: “sebagian sudah tersalur.” Tapi sebagian itu berapa? Di mana saja? Siapa yang terima? Tanpa data yang jelas, jawaban seperti ini tidak memberi kepastian, apalagi akuntabilitas.

Hal yang sama terjadi pada distribusi tenaga guru. Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak sekolah di pedalaman yang kekurangan tenaga pengajar. Tapi ketika tidak ada penjelasan yang tegas dari dinas, publik wajar bertanya: apakah persoalan ini benar-benar sedang ditangani, atau justru dibiarkan berjalan seperti biasa?

Kalau persoalan dasar seperti guru dan akses pendidikan saja belum beres, maka wajar kalau IPM hanya naik pelan bahkan cenderung stagnan.

Baca Juga:  Pecandu Kesunyian

Di tengah kondisi itu, pemerintah daerah merencanakan pembentukan puluhan koperasi di tingkat kampung. Di atas kertas, ini terlihat progresif. Tapi pertanyaannya: apakah sumber daya manusia di kampung sudah siap? Jangan sampai program besar hanya jadi daftar panjang kegiatan tanpa dampak nyata. Karena di Papua, kita sudah terlalu sering lihat program datang dan pergi, tapi hasilnya tidak pernah benar-benar tinggal.

Dari semua ini, terlihat satu pola yang terus berulang: tidak sinkron antara data, perencanaan, dan realitas lapangan. Pemerintah bisa menjelaskan angka, tapi belum tentu bisa menjelaskan kondisi yang sebenarnya.

Padahal pembangunan yang benar itu bukan dimulai dari apa yang mudah diukur, tapi dari apa yang paling mendesak untuk diselesaikan.

Stagnasi IPM di Kabupaten Sarmi bukan sekadar soal statistik. Ini adalah cermin dari cara berpikir dalam merancang kebijakan. Ketika kebijakan lebih patuh pada prosedur daripada kebutuhan rakyat, maka pembangunan hanya akan terlihat bergerak di laporan sementara masyarakat tetap berjalan di tempat.

Sarmi sebenarnya tidak kekurangan program. Yang kurang adalah keberanian untuk melihat kenyataan apa adanya, turun sampai ke kampung, dengar langsung suara masyarakat, dan menyusun kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan mereka.

Kalau itu tidak dilakukan, maka IPM mungkin akan terus naik. Tapi naiknya pelan, dan lebih penting lagi: naik tanpa makna. (*)

Related

You Might Also Like

Peran Gereja Katolik Menuju Papua Mandiri dan Sejahtera

Film “The Women King” Kisah Nyata Dalam Perjuangan Perempuan Afrika

SEBUT SAJA OWASI-OWASIKA

Dasar Gereja Katolik di Asmat: Mengangkat Kembali Nama-Nama yang Terlupakan

Sejarah Misi Katolik di Kampung Yogonima

TAGGED:Arius Adeputra SabarofekDPRK SarmiIPM Kabupaten SarmiLKPJ Sarmi 2025

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article SPPMPP Tegaskan Jabatan Sekda Papua Pegunungan Harus Diisi Putra Asli Lapago
Next Article Tinjau Kebun Jagung di Hubikiak, Diskopindag Papua Pegunungan Siapkan Panen Bertahap
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Tinjau Kebun Jagung di Hubikiak, Diskopindag Papua Pegunungan Siapkan Panen Bertahap
Ekonomi & Bisnis Papua Pegunungan Tanah Papua
22 hours ago
SPPMPP Tegaskan Jabatan Sekda Papua Pegunungan Harus Diisi Putra Asli Lapago
Papua Pegunungan Tanah Papua
1 day ago
IMPW Jayapura Tolak Rencana Pembangunan Polda di Tanah Wouma–Wio
Papua Pegunungan Tanah Papua
4 days ago
Pelayanan, Bukan Jabatan: Pesan Tegas Ketua PGBP di Pengukuhan Jemaat Baptis Toladan
Tanah Papua
4 days ago
Baca juga
ArtikelEkonomi & BisnisTanah Papua

Wamena: Saat Rakyat Dipaksa Membeli BBM Mahal Tanpa Solusi

12 months ago
Artikel

Kapan Orang Hugula Menetap Dan Menganut Agama Lokal di Wilayah Hugulama?

3 years ago
ArtikelPerempuan & Anak

Perempuan Genyem Yang Tanguh

2 years ago
ArtikelCatatan Aktivis Papua

Simbol Sakral Bukan Kostum Politik

3 months ago
ArtikelSeni & Budaya

Cinta di Balik Rambut Panjang Lelaki Papua

3 years ago
Artikel

Benyamin Lagowan Dari Aktor Film, Aktivis, Dokter Muda Hingga Caleg Partai Buruh

3 years ago
ArtikelCerpen Papua

Mayat Turis Jepang di Biak Berdarah

2 years ago
ArtikelPena PapuaSeni & Budaya

Perempuan Lani dan Tali atau Cawat

6 months ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?