Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Mengajar ala Gerakan Papua Mengajar
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Jendela Papua > Features & Sosok Inspiratif > Mengajar ala Gerakan Papua Mengajar
Features & Sosok InspiratifSastra

Mengajar ala Gerakan Papua Mengajar

admin
Last updated: September 21, 2026 17:41
By
admin
Byadmin
Follow:
501 Views
9 years ago
Share
SHARE

 

Iklan Nirmeke

Jayapura, nirmeke.com – Tidak seperti di kelas pada umumnya yang selalu tegang dan tenang, bermain dan belajar menjadi pola belajar sekelompok anak. Mereka menyatu dengan alam sekitar. Canda dan tawa mereka sontak pecah di tengah-tengah proses belajar. Keceriaan mereka seringkali membuat guru harus berhenti sejenak untuk tertawa bersama murid-muridnya.

Mereka adalah anak-anak dari kelompok belajar Gerakan Papua Mengajar (GPM) yang berada di Kota Jayapura, Provinsi Papua, yang didirikan 20 Februari 2013. GPM digagas Yohana Pulalo, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Provinsi Papua.

Seorang murid GPM adalah Elvius Wakur yang berumur 13 tahun. Ia tinggal di Buper dan bergabung dengan kelompok belajar GPM karena menganggap belajar itu penting.

“Biasanya kami belajar menggambar, menghitung, mendengar dongeng rakyat, membaca buku, serta menulis dan membaca. Saya lebih senang membaca buku dongeng, belajar menghitung dan baca buku, serta belajar bersama,” ujar siswa yang duduk di kelas VI-A SMP YPPK Padang Bulan tersebut.

Elvius Wakur adalah anak dari Westen Wakur yang berdomisili di Buper, Waena. Untuk mencapai sekolahnya Elvius harus naik taxi dari Expo menuju Padang Bulan, sesekali juga nebeng bersama kakaknya yang belajar di STM Kotaraja.

Ketua Gerakan Papua Mengajar (GPM), Aleks Giyai, mengatakan organisasi tersebut didirikan atas inisiatif Yohana Pulalo. Dia mengumpulkan anggota GPM sekarang karena merasa penting membuat kegiatan mengajar.

“Lalu digelarlah diskusi pertama yang dihadiri Agus Kadepa, Andi Tangihuma, Aleks Giyai, Alfonsa Wayap, Hengky Yeimo, dan Arnold Belau. Setelah itu kegiatan dijalankan,” katanya kepada Jubi, Senin, 19 Februari 2018.

Sebelumnya, lanjutnya, aktivitas mengumpulkan anak-anak dilakukan Pulalo. Kemudian anggota lainnya merasa penting untuk terlibat mengajar.

Baca Juga:  Sekolah Adat Hugulama Diharapkan Jadi Pusat Pendidikan Budaya di Papua Pegunungan

Terbentuknya GPM, katanya, terinspirasi dari Bumi Perkemahan (Buper) Waena. Pulalo ketika ia melihat anak-anak dari mama-mama Papua yang berjualan di Expo, Waena.

“Anak-anak banyak di Buper sehingga ia mengumpulkan anak-anak tersebut dan mengajar mereka tiap sore sendirian selama dua bulan sehingga teman-teman lain juga tergerak untuk sama-sama mendorong kelompok belajar ini,” ujarnya.

Kehadiran GPM penting karena anak-anak korban perkembangan kota, karena orang tua mereka mencari nafkah dari pagi sampai sore dengan mengorbankan anak-anak mereka. Anak-anak mereka tidak dididik atau dinasihati secara baik.

Faktor berikutnya di seluruh Tanah Papua, terkhusus di Jayapura, anak-anak banyak yang terlantar akibat orang tua yang tidak memperhatikan dengan baik.

“Kita memperhatikan orang-orang pinggir kota karena mereka dianggap terpinggrkan dari kemajuan pembangunan,” katanya.

Ada 12 relawan yang terlibat di GPM, namun yang aktif mengajar hanya lima orang. GPM mengajar di dua tempat yaitu di Buper dan di sebuah kedai di Kotaraja. Dalam seminggu kegiatan mengajar dilakukan tiga hari di Buper dan tiga hari di kedai Kotaraja.

Anak-anak dibagi dalam dua kelompok dengan tiga aktivitas belajar. Tingkat satu untuk mereka yang benar-benar belum bisa membaca dan menulis. Tingkat ini diajar membaca, berhitung, menggambar, serta pengenalan huruf dan angka.

Tingkat dua diajar berhitung, memperlancar membaca, dan menulis yang masih putus-putus. Sedangkan tingkat tiga atau tingkat atas adalah anak-anak yang sudah bisa membaca. Anak-anak tingkat tiga ini diberikan arahan dan bacaan novel, cerita rakyat, dan buku pengetahuan.

Tingkat tiga umumnya berada di bangku SMP dan SD kelas empat ke atas. Tingkat dua anak-anak yang di kelas formal di kelas 1 hingga 3 SD. Sedangkan tingkat satu mereka yang belum sekolah dan kelas 1 SD yang belum bisa membaca. Kelas belajar buka pukul 15.30 WP hingga pukul 18.00 WP.

Baca Juga:  10 Tahun Berjualan Rujak Ambon, Yosepina Mampu Memikat Hati Pelangan

“Sejauh ini anak-anak yang terlibat dalam kelompok belajar GPM di Buper lebih 20 anak dan di Kotaraja 16 anak,” katanya.

Giyai mengatakan, anak-anak yang diajar tidak semuanya murid sekolah formal. Tetapi juga ada yang tidak sekolah karena umur sudah lewat. GPM mengajar anak-anak usia 6 tahun hingga 17 tahun.

Ia mengatakan keinginan GPM dengan kegiatan belajar adalah membangun pendidikan yang berkonteks. Kemudian supaya Papua tidak buta aksara pada generasinya agar generasi ini ke depan bisa menjadi pemimpin dan tuan di negerinya sendiri.

“Perkembangan di GPM sangat signifikan karena sejak kami dirikan GPM pada 2013 sampai 2018 sudah lima tahun,” katanya.

Indikatornya, peserta sudah ada yang bisa membaca dan berhitung. Bahkan juga ada yang mendapat juara dua di kelasnya.

“Tantangan kami selama ini sebagian orang tua ada yang belum percaya kami sebagai kelompok relawan yang benar-benar mengajar,” ujarnya.

Aktivis GPM, Tresia Tekege, mengaku alasan bergabung di kelompok belajar karena ia ingin berbagi apa yang ia punya untuk adik-adik.

“Harapan saya kelak mereka akan berkembang memberikan yang terbaik untuk negerinya dan menjadi tuan atas Negeri Mutiara Hitam yang kaya akan susu dan madu,” katanya.

Mewakili orang tua murid, Pendeta Welkiles Kogoya, mengapresiasi kegiatan GPM.

“Awalnya kami tidak percaya dengan kehadiran mereka untuk mengajar anak-anak kami, namun ketekunan selama lima tahun ini membuat kami percaya mereka benar-benar mengajar dan mendidik anak-anak kami,” ujarnya.(*)

 

Editor  : Admin

Related

You Might Also Like

Cinta di Balik Rambut Panjang Lelaki Papua

Secangkir kopi asli Wamena dari Rosanti

Mediol Stiovanny Yoku, Pemain Terbaik Putri Proliga 2023 Asal Papua

Asrama Samuel Danowage, Korowai Batu

Pegiat Literasi Salurkan Buku Bacaan untuk Pemuda Gereja Baptis Onggeme, Dorong Generasi Muda Cintai Pendidikan

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Lukas pu cerita (Bagian kedua)
Next Article Berita Fhoto – Kopkedat dan Misionaris GIDI lakukan pelayanan di Korowai
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

30 Atlet Taekwondo Jayawijaya Dipersiapkan Hadapi Papua Open dan Pra-PON
Olaraga
19 hours ago
HUT HMPT ke-22, KPA Tolikara Edukasi Mahasiswa tentang HIV/AIDS
Kesehatan Pendidikan
1 day ago
Pencaker Papua Pegunungan Desak Pemprov Beri Kejelasan Nasib CPNS Formasi 2024
Papua Pegunungan
2 days ago
Mardi Hiluka Kembali Pimpin KNPB Wilayah Balim-Wamena
Tanah Papua
2 days ago
Baca juga
Catatan Aktivis PapuaPendidikanSastra

Pentingnya Literasi Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Pemuda Papua

2 years ago
Features & Sosok InspiratifPendidikan

Kisah Penghuni Berjuang di Asrama Mahasiswa Daerah

9 years ago
Ekonomi & BisnisFeatures & Sosok Inspiratif

Nahindah Wari,  Home Industry Sagu kering Papua 

8 years ago
Catatan Aktivis PapuaFeatures & Sosok Inspiratif

Mungguar, Pejuang Kharismatik nan Pemberani itu Telah Pergi

6 years ago
PendidikanSastra

SMA Negeri 1 Tiom Gelar Pengenalan Lingkungan Sekolah, Bekali Siswa Baru dengan Pendidikan Karakter dan Literasi

2 months ago
PendidikanSastra

Pemdidikan Dimulai Dari Honai

2 years ago
Sastra

Desember Kelabu 

3 years ago
Ekonomi & BisnisFeatures & Sosok Inspiratif

Noken buah tangan Mama; yang dibanggakan, yang dilarang

8 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?