Oleh: Muhammad Subhan
BOSAN, malas, atau bahkan “bad mood” yang endingnya menciptakan “writer’s block” seringkali menjadi penyakit yang dihinggapi banyak penulis (pemula).
Pada saat-saat seperti itu, segala ide seolah menjauh, dan kebuntuan menulis menjadi dinding yang sulit dilewati.
Bagaimanapun, ini adalah bagian alami dari proses kreatif seorang penulis (pemula). Namun, kiat si penulis (pemula) menyikapi tantangan ini akan menentukan kesuksesannya di kemudian hari.
Ketika merasa bosan atau malas untuk menulis, faktor pertama yang perlu disadari bahwa barangkali tubuh atau pikiran sedang tidak baik-baik saja, sehingga membutuhkan rehat. Bukan berarti ketika rasa malas atau bosan datang lalu semua harus berakhir. Tidak!
Ini soal perspektif saja dan bagaimana seorang penulis (pemula) bersikap bijaksana dalam segala bentuk tantangan yang menyinggahi dirinya.
Ketika merasa bosan atau malas, lakukan saja perubahan kecil dalam rutinitas menulis. Mungkin mencoba teknik menulis bebas, berpindah tempat untuk mencari suasana yang lebih segar, atau mengubah topik yang sedang ditulis.
Segala macam hal yang mengganggu ataupun sinyal tekanan atau intervensi dari pihak mana pun harus dikesempingkan, lalu berusaha saja menciptakan sesuatu yang sempurna.
Jika semua itu belum mampu menembus dinding kebuntuan, jalan terakhir, bawa tidur saja. Nanti setelah bangun, pasti segar kembali, kok.
“Bad mood” dapat menjadi musuh terbesar bagi kreativitas seorang penulis (pemula). Saat merasa terjebak dalam suasana hati yang suram, menemukan motivasi untuk menulis bisa menjadi tantangan besar.
Salah satu cara terbaik untuk menanggulangi “bad mood” adalah dengan melakukan kegiatan yang menyenangkan atau relaksasi sebelum menulis.
Mendengarkan musik yang menenangkan bisa dicoba, pun berolahraga, atau meditasi dapat membantu mengubah suasana hati.
Selain itu, mencari dukungan dari teman atau rekan penulis lainnya dengan bergabung di sebuah komunitas menulis, misalnya, juga dapat memberikan dorongan emosional yang dibutuhkan si penulis (pemula) untuk memulai kembali aktivitas menulisnya.
Kebuntuan ide seringkali merupakan momok yang menakutkan. Rasanya seperti tidak ada ide yang layak untuk dituangkan ke dalam kata-kata. Namun, kebuntuan ini seringkali merupakan hasil dari tekanan yang datang secara tiba-tiba dan tak diinginkan.
Salah satu cara untuk mengatasi kebuntuan ide itu adalah dengan menerima bahwa menulis tidak selalu harus sempurna.
Sesekali, berikan diri izin untuk menulis dengan bebas, tanpa tekanan untuk menghasilkan karya masterpiece setiap saat.
Lakukan saja latihan menulis bebas atau membuat daftar ide untuk merangsang kreativitas.
Terkadang, hal terbaik yang dapat dilakukan seorang penulis (pemula) adalah menulis dengan tanpa henti, terus-menerus, meski kemudian tulisan itu tidak untuk target dipublikasikan.
Ide atau inspirasi bisa datang dari tempat-tempat yang paling tidak terduga. Amati saja lingkungan sekitar dengan lebih saksama, termasuk kehidupan keluarga. Mungkin ada detail kecil atau peristiwa sehari-hari yang bisa menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan sebuah tulisan.
Seperti halnya pekerjaan lain, seorang penulis (pemula) harus punya disiplin waktu. Apa pun pekerjaan kalau tak disiplin tak akan membuahkan hasil memuaskan.
Menetapkan jadwal rutin untuk menulis dapat membantu membentuk kebiasaan yang kuat dan membangun disiplin dalam proses kreatif yang dijalani. Meskipun pada awalnya mungkin sulit untuk memulainya, tetapi seiring waktu, si penulis (pemula) akan menemukan bahwa menulis menjadi lebih mudah dan lebih alami.
Menulis tidak bisa dilepaskan dari proses membaca. Baca sebanyak mungkin karya orang lain. Ini bisa menjadi cara yang bagus untuk merangsang kreativitas menulis.
Jelajahi berbagai genre dan topik untuk mendapatkan inspirasi baru. Jangan ragu untuk mencatat apa yang ditemui menarik dari hasil bacaan dan bagaimana itu bisa diterapkan pula dalam tulisan yang sedang dikerjakan.
Namun ingat, jangan sekali-kali melakukan plagiat!
Inspirasi bisa juga datang dari orang lain. Maka, jangan sungkan melakukan diskusi-diskusi dengan siapa saja khususnya terkait ide-ide tertentu atau bahkan hanya mendengarkan cerita mereka.
Hal itu akan membuka pikiran si penulis (pemula) terhadap sudut pandang baru dan membantu dirinya menemukan tema atau konsep yang menarik untuk ditulis.
Memperbarui niat dan menentukan tujuan yang jelas untuk menulis juga penting. Apakah itu menyelesaikan bab dalam sebuah buku yang sedang ditulis, menghasilkan artikel untuk blog atau medsos, atau menyelesaikan karya fiksi pendek semisal puisi atau cerpen untuk dikirim ke media massa.
Mengetahui apa yang ingin dicapai dapat memberi motivasi tambahan bagi si penulis (pemula) untuk tetap fokus dan produktif.
Demikianlah. Menulis adalah proses yang dinamis dan penuh tantangan, tetapi dengan pendekatan yang tepat, seorang penulis (pemula) dapat mengatasi hambatan yang mungkin muncul dalam perjalanan proses kreatifnya.
Jeli menyikapi strategi seperti mengamati lingkungan sekitar, membentuk kebiasaan menulis, mencari inspirasi dari karya orang lain, berinteraksi dengan orang lain, bergabung di komunitas menulis, beristirahat, mengubah gaya penulisan, dan menetapkan tujuan yang jelas, si penulis (pemula) akan dapat mengatasi kebuntuan permanen dan ia dapat melanjutkan perjalanan menulisnya dengan semangat yang baru.
Tidak sedikit saya temukan di antara penulis (pemula) yang di tahun pertama dan kedua begitu berkobar semangat menulisnya, tetapi setelah itu hilang dari peredaran. Banyak faktor, terntu, yang menjadi penyebabnya.
Stephen King mengatakan, “Kalau engkau ingin menjadi penulis, ada dua hal yang harus kau lakukan, yaitu banyak membaca dan menulis. Setahuku, tidak ada jalan lain selain dua hal ini. Dan tidak ada jalan pintas.” (*)
Sumber: https://majalahelipsis.com/jadi-penulis-harus-tahan-banting-13/
