Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Bekerja Keras Menekan Angka Penderita HIV/AIDS
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Jendela Papua > Features & Sosok Inspiratif > Bekerja Keras Menekan Angka Penderita HIV/AIDS
Features & Sosok InspiratifKesehatan

Bekerja Keras Menekan Angka Penderita HIV/AIDS

admin
Last updated: September 21, 2026 17:36
By
admin
Byadmin
Follow:
497 Views
9 years ago
Share
SHARE

Jayapura, nirmeke.com – Memang berat bagi ibu dua anak yang tinggal di Distrik Hinekombe, Kabupaten Jayapura ini. Ia harus mengurus anak dan mengurus dirinya sendiri yang positif HIV/AIDS. Sehari-hari perempuan 27 tahun ini mesti bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama kedua anaknya.

Iklan Nirmeke

“Saya tidak pernah membayangkan akan seperti ini, saya bingung harus bagaimana ketika saya dengar kalau saya sudah kena ‘barang’ ini, hati sakit, tapi mau bagaimana lagi, saya harus berjuang membesarkan kedua anak saya ini,” ucap Saligwe, bukan nama sebenarnya, kepada wartawan.

Sejak suaminya meningal dunia, ia orang berikutnya yang menghadapi penyakit ini sejak dinyatakan positif pada 2014. Rasa malu dan kecewa pun menghantui dirinya. Terkadang ia malu untuk bermain bersama keluarga di sekitarnya.

“Ini terjadi karena pengaruh Pace, dia suka jajan sembarangan di luar, saya harus seperti ini sekarang, namun ada keluarga yang selalu memberikan semangat kepada saya walaupun banyak yang sudah tahu saya positif,” katanya.

Saligwe mengatakan, awalnya rumit untuk pergi mengambil obat ke rumah sakit. Namun lama kelamaan sudah terbiasa dan tidak direpotkan. Ia juga mengaku dilayani dengan baik.

“Mau ambil obat itu gampang saja, cuma saya kadang mengalami kendala biaya transportasi karena harus mengambil obat di Abepura,” tuturnya.

Wajahnya terlihat pucat. Bibirnya yang gemetar membuat dirinya seakan berat untuk menyampaikan apa yang ia mau sampaikan. Walau dalam kondisinya seperti itu, ia selalu bersemangat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan selalu memberikan semangat kepada kedua anaknya untuk rajin ke sekolah minggu.

“Sambil minum obat yang penting anak-anak ini bisa saya urus hingga dewasa, kalau orang lain yang urus itu memang berat dan nanti bagaimana nasib anak-anak saya ini ke depan,” katanya sedikit menahan air mata.

Baca Juga:  Baju rajutan khas Papua di Elisabet Salon Jayapura

Tak sedikit potret ODHA (Orang Dengan HIV/ AIDS) seperti Saligwe di Kabupaten Jayapura. Mereka tertular bukan karena gaya hidup bebas, melainkan karena berhubungan dengan orang-orang yang mereka sayangi. Namun yang positif, sekarang para ODHA sudah mulai sadar untuk menanggulangi penyakitnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura Pungut Sunarto mengatakan, upaya menekan angka penderita virus menular tersebut terus dilakukan.

Data terakhir sementara per Desember 2017, kata Pungut, pengidap HIV/AIDS di kabupaten itu 2.675 orang dengan 1.258 HIV dan 1.417 AIDS.

“Tertinggi masih di wilayah Sentani Kota 40 persen dari keseluruhan, disusul Sentani Timur, Kemtuk, dan Nimboran, tapi jika digabung sebanyak 60 persen berada di Sentani,” katanya kepada Jubi di ruang kerjanya, Rabu (10/1/2018).

Program yang telah dilakukan pada 2017, jelasnya, penyuluhan di setiap puskesmas dan masyarakat agar mereka mengenal bahaya HIV/AIDS. Selain itu juga melakukan tes ke berbagai kalangan untuk menemukan ODHA yang belum terdeteksi.

“Upaya penemuan masih terus dilakukan di puskesmas, termasuk inisiatif petugas untuk melakukan tes kepada siapa pun yang datang ke puskesmas dan bagi yang terinfeksi untuk segera mendapatkan pengobatan,” ujarnya.

Dinas Kesehatan juga mendukung KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) dan LSM untuk melakukan sosialisasi  dan pendampingan. Sosialisasi telah dilakukan di sejumlah tempat dengan pemutaran film dan mobile city di beberapa kampung. Di antaranya di Sinas Mas dan Depapre dengan diakhiri tes darah oleh petugas puskesmas kepada masyarakat.

“Ada juga kita berikan bantuan uang sedikit untuk memajukan sosialisasi untuk menyampaikan kepada masyarakat agar tahu status HIV, sehingga ia mau melakukan pengobatan dan mendapatkan pendampingan dari teman-teman yang sudah terinfeksi sehingga ia mau minum obat seumur hidupnya,” jelasnya.

Baca Juga:  Mantan Ketua Harian KPA Papua Dihukum 8 Tahun Penjara Karena Kasus Korupsi Dana Hibah

Kewajiban meminum obat antiterroviral (ARV), kata pungut, tidak hanya sebentar, tetapi hingga ajal menjemputnya. Dengan cara itu penularan akan berkurang.

Di Kabupaten Jayapura, tambahnya, pada 2015 sebanyak 357 ODHA meninggal dunia. Pada 2016 lebih 300 dan pada 2017 sebanyak 157 orang.

“Dari segi jumlah sedikit menurun, namun akan akan dilakukan pencarian, karena fenomena  penderita HIV ini makin meningkat dan dari hasil STBP pada 2012 sebanyak 2,4 persen dan sebelumnya pada 2006-2007 sebanyak 2,6 persen,” katanya.

Karena jumlah ODHA dari tahun ke tahun tidak berbeda jauh, lanjut Pungut, maka upaya mencari pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Jayapura terus digencarkan dan diobati. Bahkan baru-baru ini ditemukan 90 orang terinfeksi dan bersedia memeriksakan diri dan diharapkan bisa diobati hingga 90 persen.

“Jika ini dilakukan maka penularan HIV itu tidak akan terjadi karena anti bodi dari pasien tersebut terus meningkat dan untuk mencapai itu tidak hanya dari KPA, puskesmas, tetapi dari mitra juga, baik LSM, komunitas, maupun orang-orang yang terinfeksi HIV/AIDS,” ujarnya.

Jika pengobatan ARV tidak dilakukan, tambahnya, maka semua orang Papua akan habis. Sebab penderita ibu rumah tangga cukup besar. Karena itu program khusus untuk ibu hamil diprioritaskan dengan penawaran tes darah. Jika positif HIV maka akan diberikan obat ARV sehingga anak yang dikandungnya tidak tertular.

“Sekarang kita tidak fokus pada orang yang beresiko tinggi, namun kita mencari siapa saja yang terinfeksi HIV,” katanya. (*)

Related

You Might Also Like

KPA Jayawijaya Catat 5.000 Kasus HIV, 3.400 Lebih Pasien Lost Follow Up

Cinta di Balik Rambut Panjang Lelaki Papua

KPA Provinsi Papua Beri Sosialisasi Bahaya HIV AIDS ke Mahasiswa Jayawijaya di Jayapura

Infeksi Jadi Penyebab Utama Tingginya Angka Kematian di Kabupaten Jayapura

Menahan serangan malaria dengan kelambu

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Menahan serangan malaria dengan kelambu
Next Article Antropologi Uncen, Kisah di Usia 40 Tahun
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Solidaritas Merauke Desak Kapolda Papua Hentikan Proses Hukum terhadap Masyarakat Adat Moiwend
Polhukam Siaran Pers Tanah Papua
6 hours ago
KPA Tolikara Tempuh Jalan Darat ke Jayapura, Terima Penghargaan Edukasi HIV/AIDS
Kesehatan
6 hours ago
30 Atlet Taekwondo Jayawijaya Dipersiapkan Hadapi Papua Open dan Pra-PON
Olaraga
1 day ago
HUT HMPT ke-22, KPA Tolikara Edukasi Mahasiswa tentang HIV/AIDS
Kesehatan Pendidikan
1 day ago
Baca juga
Kesehatan

Momentum Hari Kartini ke – 138 Tahun, Ini yang Dilakukan TP PKK Yahukimo

2 years ago
Features & Sosok Inspiratif

Menjual sayur dari kebun sendiri

9 years ago
KesehatanPemkab Lanny Jaya

Wabup Lanny Jaya Sidak Dua Puskesmas, Tinjau Langsung Pelayanan Kesehatan

1 year ago
Kesehatan

Mahasiswa Papua Dalam Ancaman Kematian HIV/AIDS

3 years ago
Kesehatan

Satgas Covid KAP Papua Kembali Salurkan Bama Untuk Mama-mama Papua

5 years ago
KesehatanTanah Papua

Pengaktifan Kembali Aloisius Giyai Sebagai Direktur RSUD Jayapura Sudah Sesuai Aturan

3 years ago
Kesehatan

Bupati Yahukimo Resmi Luncurkan Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Puskesmas Dekai Kota

1 year ago
KesehatanTanah Papua

Yefta Lengka Ajak Pemuda Papua Perangi Miras dan Napza

1 year ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?