Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Paradoks Pembangunan Papua
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
    • Kriminal
  • Jendela Papua
    • Features & Sosok Inspiratif
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel & Kuliner
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Artikel > Paradoks Pembangunan Papua
ArtikelPena Papua

Paradoks Pembangunan Papua

admin
Last updated: October 26, 2025 02:55
By
admin
Byadmin
Follow:
22 Views
11 months ago
Share
Sejumlah mama-mama merajut noken saat mengikuti pameran di halaman Kantor Majelis Rakyat Papua (MRP) , Jayapura, Papua, Jumat (29/10/2021). ANTARA FOTO/Indrayadi TH
SHARE

Keanekaragaman hayati di Papua yang menghasilkan hasil hutan dan laut yang bagus dan bergizi tinggi harus dibenahi kembali. Potensi perikanan yang dahsyat harus dioptimalkan pemanfaatannya.

Oleh: Andre Notohamijoyo

Iklan Nirmeke

Pembangunan infrastruktur secara intensif saat ini di Papua diharapkan mengakselerasi pembangunan di tanah Cendrawasih yang selama puluhan tahun sejak era Orde Baru tersendat. Meskipun demikian, pembangunan infrastruktur tersebut perlu diwaspadai dampak negatifnya.

Hasil kajian dari lembaga swadaya masyarakat Elsam tahun 2020 membahas secara kritis berbagai dampak dan potensi konflik pasca pembangunan infrastruktur di Papua. Pemerintah dipandang cenderung membangun infrastruktur yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi namun luput dari keberlanjutan kehidupan komunitas lokal.

Kecenderungan itu dinilai berakibat pada terpinggirkannya komunitas lokal yang hidup berkembang di tanah leluhur mereka. Perlu dipahami bahwa nilai-nilai sosial budaya merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pembangunan. Kearifan lokal dan identitas budaya harus dipahami sebagai bagian penting yang tak terpisahkan dalam pembangunan di suatu daerah termasuk Papua.

Ekses tendensi pembangunan ini  tercermin dari temuan dari liputan khusus Kompas tentang Ekspedisi Tanah Papua memberikan gambaran yang memprihatinkan bagaimana perusakan hutan, alih fungsi lahan, pencederaan hak ulayat dan kearifan lokal dilakukan secara masif di tanah Papua. Bencana banjir dan longsor di Jayapura di awal tahun 2022 ini menjadi bukti nyata perlunya evaluasi terhadap seluruh program pembangunan yang dilakukan di Papua.

Penanaman kelapa sawit dan jagung oleh segelintir perusahaan menyebabkan sulitnya akses masyarakat untuk menggantungkan hidup pada hutan alam. Perambahan hutan secara masif sudah sangat mengkhawatirkan.

Hal ini juga terlihat dari hasil kerjasama investigasi khusus Tempo dengan media Earthsight, Mongabay (Inggris) dan Malaysiakini (Malaysia) pada tahun 2019 lalu. Dari liputan bersama itu, terbeber adanya dugaan penyelewengan  konsesi penanaman kepala sawit seluas ratusan ribu hektar di Kabupaten Boven Digoel..

Dua paparan liputan berbeda itu menunjukkan hal menyedihkan, mengingat kearifan lokal masyarakat di tanah Papua sangat menjaga kelestarian ekosistem hutan di sana.

Baca Juga:  Hari Misi Pekabaran Injil di Lembah Hugulama

Tidak hanya kearifan lokal yang tercederai. Ketahanan dan keanekaragaman pangan masyarakat juga terimbas. Masyarakat dihadapkan kepada sistem pertanian monokultur seperti padi dan jagung yang mengesampingkan budaya dan kearifan lokal. Tidak ada upaya dari Pemerintah Pusat maupun Daerah untuk mengembangkan sistem multikultur dengan ekosistem hutan yang lestari.

Mirisnya, tanaman pangan yang jauh lebih produktif seperti sagu, sukun, umbi-umbian dan lainnya diabaikan. Padahal, harusnya juga disadari, upaya mendorong sistem pertanian monokultur dan melindungi perdagangan komoditas yang dikuasai hanya oleh segelintir pengusaha tak akan pernah berdampak positif.

Diversifikasi pangan terancam hilang dari Papua. Penulis sendiri sulit menemukan Papeda, makanan khas Papua berupa bubur yang terbuat dari sagu, khususnya di wilayah perkotaan. Masyarakat mulai terbiasa mengkonsumsi beras dan makanan olahan seperti mie instan. Ini merupakan kekeliruan sejak era Orde Baru yang memaksakan penyeragaman pola konsumsi masyarakat Indonesia termasuk di Papua.

Pembenahan Perikanan
Selain di persoalan pertanian, sejatinya, keanekaragaman hayati di Papua yang menghasilkan hasil hutan dan laut yang bagus dan bergizi tinggi harus dibenahi kembali. Potensi perikanan yang dahsyat harus dioptimalkan pemanfaatannya. Banyaknya kapal penangkap ikan ilegal yang ditahan di Pelabuhan Merauke merupakan bukti nyata potensi perairan laut Papua.

Sayangnya, potensi itu juga tak terlihat dari kondisi kesejahteraan nelayan di Papua yang masih memprihatinkan. Padahal, sumber daya ikan di perairan Samudera Pasifik sangat berlimpah.

Jumlah kapal penangkap ikan berbendera Indonesia sangat minim di perairan tersebut. Data terbaru per Maret 2022 dari The Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC) menunjukkan hanya ada 13 kapal asal Indonesia beroperasi di sana!

Hingga saat ini belum ada kebijakan yang tepat sasaran dalam mengatasi hal tersebut meskipun landasan hukum terkait kesejahteraan nelayan kecil telah ada yaitu Undang-Undang No. 7 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam. 

Dari beberapa hal di atas, pemerintah pusat dan daerah harus kembali meninjau capaian pembangunan di Papua. Pembangunan sumber daya manusia yang masih tertinggal di Papua harus dapat didorong melalui pendekatan aspirasi dan kearifan lokal. Ini merupakan tantangan yang tidak mudah, terlebih dengan adanya gangguan dari kelompok kriminal bersenjata (KKB) dan teroris di beberapa wilayah di Papua. Belakangan, berbagai kasus penyerangan yang dilakukan oleh KKB termasuk Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) kian  meresahkan masyarakat.

Baca Juga:  Melihat 7 Buku Karya Markus Haluk Tentang Perjuangan dan Masa Depan Papua

Awal tahun 2022 ini rangkaian kasus penembakan terjadi di berbagai kabupaten seperti Nduga, Intan Jaya, Puncak Jaya, Bintang dan Maybrat yang menyebabkan gugurnya beberapa prajurit TNI/Polri serta masyarakat. Kasus terakhir pada Rabu, 2 Maret 2022 menimpa 8 orang pekerja Palapa Ring Timur Telematika yang tewas dibunuh oleh KKP saat melakukan perbaikan tower BTS 3 di kabupaten Puncak Jaya.

Menilik kompleksnya permasalahan, perlu terobosan dalam penentuan kebijakan pemerintah untuk menggerakkan pemberdayaan masyarakat. Berbagai bantuan tanpa analisis kebijakan yang tepat dan menyeluruh akan sia-sia manfaatnya.

Di sinilah perlunya pelibatan ahli-ahli sosial dan budaya dalam perencanaan pembangunan di Papua. Keterlibatan para ahli sangat diperlukan untuk dapat menyelami lebih jauh karakter dan budaya masyarakat di masing-masing wilayah Papua baik masyarakat pegunungan maupun pesisir.

Berbagai kebijakan pembangunan kelak diharapkan dapat bertumpu pada karakteristik sosial budaya masyarakat Papua. Dan, harus diinggat bahwa keberhasilan program pembangunan di Papua tidak hanya menjadi kesuksesan pemerintah. Lebih jauh, kesuksesan pembangunan di sana adalah etalase penghargaan negara terhadap kearifan lokal dan penerapan nilai-nilai Pancasila di bumi Cendrawasih yang juga dilihat dunia luar.

*) Penulis adalah Pemerhati Pembangunan Berkelanjutan

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mencerminkan kebijakan instansi tempat penulis bekerja.

Tulisan ini juga sebelumnya di terbitkan oleh :https://validnews.id/   

Related

You Might Also Like

Seni, Musik, dan Aksi Peduli Hutan Papua Bersama WALHI & KORK Papua

Pers Release: Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali Menyikapi Situasi HAM dan Demokrasi di Papua

Sang Sejarawan Gereja Katolik Dan Martir Bagi Generasi Manusia Papua

Cerpen: Membawa Cinta Ke Papua

Ini Alasan Krisdahim Kogoya menempuh Pendidikan di China

TAGGED:Andre NotohamijoyoKemajuan PapuaPembangunan Papua

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Umat Katolik Pegunungan Tengah Gelar Pasar dan Pameran Pangan Lokal di Wamena
Next Article Senator Sopater Sam Pertanyakan Urgensi Pembentukan Komite Eksekutif Otsus Papua
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Solidaritas Merauke Desak Kapolda Papua Hentikan Proses Hukum terhadap Masyarakat Adat Moiwend
Polhukam Siaran Pers Tanah Papua
15 hours ago
KPA Tolikara Tempuh Jalan Darat ke Jayapura, Terima Penghargaan Edukasi HIV/AIDS
Kesehatan
15 hours ago
30 Atlet Taekwondo Jayawijaya Dipersiapkan Hadapi Papua Open dan Pra-PON
Olaraga
2 days ago
HUT HMPT ke-22, KPA Tolikara Edukasi Mahasiswa tentang HIV/AIDS
Kesehatan Pendidikan
2 days ago
Baca juga
PendidikanSastra

Mahasiswa Ber-Literasi Melalui Demonstrasi

2 years ago
PolhukamSastraTanah Papua

Usai Nonton Bareng Film Pesta Babi, Pegiat Literasi Sepi Wanimbo Salurkan Dua Buku Karya Anak Papua

3 months ago
ArtikelCatatan Aktivis Papua

Simbol Sakral Bukan Kostum Politik

8 months ago
Artikel

Jejak Sunyi Bruder Eligius Fenenteruma, OFM: Fransiskan Pertama dari Orang Asli Papua

3 weeks ago
Catatan Aktivis PapuaKesehatan

Ronny Situmorang, Si Maling Uang Rakyat Kabupaten Keerom 2020 Kini Berjaya Di Dinkes Papua Pegunungan

2 years ago
ArtikelEkonomi & BisnisTanah Papua

Wamena: Saat Rakyat Dipaksa Membeli BBM Mahal Tanpa Solusi

1 year ago
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Sejarah Hari HAM Dan Realitas Indonesia

3 years ago
Papua PegununganPendidikanSastra

Sekolah Adat Hugulama Diharapkan Jadi Pusat Pendidikan Budaya di Papua Pegunungan

8 months ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?