)* Oleh: Aguz Pabika
JELAJAH PAPUA 2025 — Di bawah kaki pegunungan yang membentang sunyi, sebuah kampung kecil bernama Tangma menyimpan cerita yang tak hanya menggugah mata, tetapi juga hati. Di tempat ini, perjalanan fisik berubah menjadi perjalanan batin yang menghangatkan jiwa.
Setelah sekian lama tidak melakukan perjalanan jauh, saya akhirnya kembali menapaki jalur-jalur terjal Papua yang memesona. Tujuan saya kali ini adalah Tangma—kampung yang selama ini hanya menjadi impian, namun kini telah saya pijak dengan syukur dan kekaguman yang mendalam.
Tangma bukan sekadar lanskap yang elok. Ia adalah pelukan alam yang dingin namun menyimpan hangatnya manusia. Di sana, saya disambut oleh senyum-senyum tulus: dari anak-anak kecil yang berlari menyongsong, hingga orang-orang tua yang dengan penuh hormat menjabat tangan kami. Tak ada kemewahan, tapi ada kejujuran yang membuat dada sesak—bahwa di balik wajah-wajah ramah itu, masih tertinggal jejak trauma akibat operasi militer yang pernah mengguncang kampung ini.
Beberapa bulan lalu, Tangma menjadi saksi bisu penyisiran aparat bersenjata pasca-kontak senjata antara militer Indonesia dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM). Meski tak ada lagi bunyi tembakan, ketakutan belum benar-benar pergi. Tapi mereka bertahan—dengan senyum, dengan doa, dan dengan terus hidup bersama alam.
Udara di Tangma begitu menusuk kulit, tapi justru di sanalah saya merasakan kehangatan yang jarang saya temui di tempat lain. Kehidupan di kampung ini sederhana: bergantung pada hutan, ladang, dan tangan-tangan terampil yang membentuk hari-hari. Tapi justru dari kesederhanaan itulah saya belajar: bahwa hidup bukan hanya soal bertahan, tapi juga merayakan. Merayakan napas, merayakan keluarga, merayakan setiap pagi yang datang meski dengan luka yang belum sepenuhnya pulih.
“Terima kasih, Tangma,” bisik saya dalam hati. Untuk pelajaran tentang syukur, tentang keberanian, dan tentang ketulusan yang tidak dibuat-buat. Suatu saat, saya ingin kembali—bukan hanya sebagai pelintas, tapi sebagai teman yang tak ingin melupakan.
Catatan:
Tulisan ini merupakan bagian pertama dari serial “Jelajah Papua 2025”, yang merekam pengalaman penulis menjelajahi kampung-kampung di wilayah pegunungan tengah Papua. Kisah selanjutnya akan mengangkat realitas masyarakat pasca operasi militer di Tangma dan suara-suara yang jarang terdengar dari pelosok yang tersembunyi.(*)
