Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Bagian kedua – Pendidikan ala kebun
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Bagian kedua – Pendidikan ala kebun

Bagian kedua – Pendidikan ala kebun

admin
Last updated: October 20, 2018 06:09
By
admin
Byadmin
Follow:
507 Views
8 years ago
Share
SHARE

 

Iklan Nirmeke

12 November 2017

 

Ini catatan kedua tentang kebun, pertama kalinya saya tulis hampir satu bulan lalu. Catatan itu saya tulis setelah diajar oleh guru berkebun saya. Namanya Lena Daby. Cara mengajarnya simpel.

Sebelumnya saya sempat bertanya tanya, kenapa (di Jayapura) nota/ hipere dijual oleh kebanyakan mama-?ama dari Wamena sedangkan mama dari Paniai lebih banyak jual sayur padahal sebagian suku di Papua tanam nota/ hipere di kebunnya? Dan saya ingat cerita rakyat dari Wamena tentang Nene musanikhe yang dituturkan oleh Almarhum Niko Lokobal. Cerita tentang penghargaan, penghormatan dan perlindungan terhadap hipere yang telah menghidupkan manusia, yang membuat manusia kenyang dan bisa beraktifitas.

Setelah beberapa kali diskusi tentang hipere, melakukan perbandingan cara berkebun, cara olah tanah ala Paniai dan ala Wamena, cara rawat dan cara panen nota/ hipere. Kami diskusikan tentang ini karena kebetulan saya dari paniai dan kawan Lena dari Wamena. Dan untuk catatan ini saya pake konteks Wamena dan Paniai dulu, tidak seperti sekarang yang berkotak-kotak melalui pemekaran.

Diskusi seputar hipere Selesai. perempuan lulusan Sanata Dharma ini langsung ajak saya ke kebunnya. Dia tunjukkan tanah yang ditumpuk dan beberapa tumpukan tanah lagi yang di tanam hipirika ( daun dan batang ubi) dan sebagiannya sudah penuh dengan dedaunan ubi yang kemarinya sudah dibersihkan.

Dia potong beberapa batang ubi sebagai bibit untuk saya tanam. Dia ajar saya tentang buat tumpukan tanah hingga cara tanam. Itulah materi pertama pada bulan lalu.

Materi kedua, dia berikan kemarin tentang cara rawat. Dan itu diberikan setalah bibit yang diberikan itu telah saya tanam dan sekarang masuk pada proses rawat. Mulai dari bersihkan rumput hingga penggemburan tanah dan pemanfaatan batang dan daun yang panjang sebagai sayur dan makanan babi. Dan setelah selesai penyampaian, dia panen ubi untuk saya. Sungguh, ubinya sangat besar (seperti foto dibawah ini).

Perempuan yang juga guru Agama di salah satu SMA di Jayapura ini bilang lagi “ada satu cara lagi yang belum bisa saya sampaikan sekarang dan saya juga tra bisa bahasakan sekarang sehingga kita akan ke kebun kamu untuk selesaikan tahapan itu” dan saya mengiyakanya.

Kali ini tong akhiri sampe disini dolo. Untuk materi selanjutnya Saya belum bisa pastikan kapan dia ajar. Yah, saya sesuaikan dengan waktu yang ditentukan dari kawan hebat ini.

Kata penutup untuk catatan ini bahwa ” kenapa di Papua trada Sekolah berkebun?

 

Oleh: Agustinus Kadepa, aktivis pendidikan Papua dan pengagas komunitas Gerakan Papua Mengajar (GPM) di Jayapura. 

 

Related

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Berita Fhoto – Aksi Demo Tutup Freeport di Jayapura, Papua
Next Article Gubernur Papua: Ekspo Waena akan menjadi pusat seni dan budaya di tanah Papua
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Mahasiswa Papua Demo soal Kasus Dogiyai di Kementerian HAM
Berita Foto Nasional Papua Tengah Polhukam
7 days ago
Mahasiswa Papua di Makassar Aksi 63 Tahun Aneksasi, Dihadang Aparat dan Ormas di Monumen Mandala
Polhukam Tanah Papua
2 weeks ago
Komisi C DPRK Jayawijaya Soroti Krisis Layanan Kesehatan, Pendidikan, hingga Masalah Sosial dalam Rekomendasi LKPJ
Papua Pegunungan Tanah Papua
2 weeks ago
Pegiat Literasi Salurkan Buku Bacaan untuk Pemuda Gereja Baptis Onggeme, Dorong Generasi Muda Cintai Pendidikan
Pendidikan Sastra
2 weeks ago
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?