Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Review buku “Orang Hubula: Makna Martabat Kolektif Suku Hubula di Lembah Palim, Papua” Oleh Yulia Sugandi
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Editorial > Review buku “Orang Hubula: Makna Martabat Kolektif Suku Hubula di Lembah Palim, Papua” Oleh Yulia Sugandi
Editorial

Review buku “Orang Hubula: Makna Martabat Kolektif Suku Hubula di Lembah Palim, Papua” Oleh Yulia Sugandi

admin
Last updated: January 30, 2025 12:27
By
admin
Byadmin
Follow:
1k Views
1 year ago
Share
ORANG HUBULA Makna Martabat Kolektif Suku Hubula di Lembah Palim, Papua
SHARE

Oleh: Whens Fatubun

Iklan Nirmeke

Buku ini adalah proyek disertasi PhD dari Yulia Sugandi yang diterbitkan oleh Kompas pada tahun lalu (2024). Buku ini memberi informasi etnografi yang rinci dan kaya mengenai orang Hubula di lembah Palim. Buku ini pantas dibaca sebagai pengantar untuk mendalami manusia dan kebudayaan Hubula di Papua.

Bab pertama (halaman 1 – 16) dari buku ini menguraikan tentang teori pembangunan ekonomi yang dilihat dari perspektif ekonomi dan antropologi. Hilmar Farid dengan baik menyimpulkan dengan uraian tentang pembangunan tidak mungkin berjalan dengan konsep sempit homo economicus yang menjadi teori pembangunan yang dominan (halaman xvi). Aspek antropologi punya peran penting dalam pembangunan. Kesan saya, bab pertama ini, Sugandi hendak memberi pendasaran bahwa aspek indigenous knowledge memiliki peran sentral dalam menghadapi teori pembantuan dominan yang berorientasi pada manusia sebagai makhluk ekonomi yang bersandar pada pemenuhan kebutuhan dengan pola untung atau rugi.

Bab-bab selanjut, Sugandi menguraikan manusia dan kebudayaan Hubula dengan data-data etnografi yang kaya dan informatif.

Yang menarik dari buku ini adalah sebutan “Palim” diperkenalkan untuk menggantikan sebutan “Baliem” sebagai nama lembah yang didiami oleh orang Hubula. Sugandi menulis: “Sejak awal kedatangan mereka, berbagai orang luar telah memberi nama pada kawasan-kawasan dataran tinggi, termasuk Lembah Palim dan penduduknya. Penamaan oleh pihak luar pada hakikatnya mencerminkan hubungan kekuasaan…orang luar menamakan lembah terbesar di Jayawijaya itu Lembah Besar atau Lrmbah Baliem atau Balim, bukan Lembah Palim, nama lokalnya.” (Halaman 41-42). Saya membaca hingga akhir dengan satu pertanyaan penasaran: Siapa orang luar pertama yang beri nama Baliem? Pertanyaan saya tidak ditemukan dalam buku Sugandi ini.

Baca Juga:  Kontak Pertama Orang Hugula dan H. A. Lorentz di Wamena

Pertanyaan lain lagi: mengapa dalam “Kata Sambutan”, Hilmar Farid menggunakan “Balim” dan bukan “Palim”? Apakah Hilmar menggunakan sebutan “Balim” untuk merepresentasi sebutan orang luar?

Hal menarik kedua adalah penggunaan “orang Hubula” dan bukan “orang Dani”. Pada bab dua (halaman 17 – 31) dan bab tiga (halaman 32 – 53), Sugandi menyebut “Dani” beberapa kali. Pada halaman 25, Sugandi beri informasi mengenai tiga rumpun bahasa di Lembah Palim Dani Lembah atas, Dani Lembah tengah, dan Dani Lembah bawah. Ini memunculkan pertanyaan: orang Hubula itu masuk dalam rumpun bahasa yang mana? Lalu nama “Dani” itu asalnya darimana? Diganti tidak beri penjelasan yang tegas mengenai “Dani” dan “Hubula”.

Baca Juga:  Daftar Beberapa Operasi Militer yang Terjadi di Papua Dari Tahun 1961 Hingga 2023

Hal menarik yang ketiga adalah pengalaman Sugandi sebagai peneliti yang meneliti orang Hubula. Sugandi menghabiskan bulan pertama untuk melakukan penyesuaian diri agar tidak menimbulkan prasangka aparat pemerintah dan anggota masyarakat (halaman 46); Ada rasa ketakutan sebagai orang luar yang meneliti orang Hubula (halaman 47); dan rokok sebagai bahan kontak dalam menjalin hubungan dengan masyarakat Hubula yang ditelitinya. Pengalaman Sugandi memperlihatkan sesuatu yang umum dilakukan oleh para peneliti (antropolog).

Sebagai pembaca, saya berharap menemukan sesuatu yang unik dan baru dari pengalaman Sugandi, misalnya bagaimana mengikuti protokol orang Hubula dalam memproduksi pengetahuan. Bagi saya, protokol adat itu penting, karena ada pertanyaan kekaguman saya terhadap informasi etnografi Hubula yang diuraikan dengan baik oleh Sugandi pada bab empat hingga bab tujuh. Sugandi sebagai peneliti Indonesia (orang luar) dan perempuan dapat masuk ke dalam “pusat” orang Hubula bahkan hingga ke dalam hal-hal yang sensitif. Bagaimana Sugandi bisa masuk ke dalam sensitifitas Hubula? Apa resepnya? Menarik jika Sugandi menguraikannya dan pasti jadi sumbangan berharga bagi para peneliti utk mengikuti protokol masyarakat adat dalam penelitiannya.(*)

Related

You Might Also Like

Cerita Singkat Awal Kehadiran Gereja Katolik di Wilayah Asmat – Agats

Peta Kekerasan di Papua Barat: 100 Ribu Orang Terbunuh

5 Jenis Mata Pencaharian Hidup Suku Hugula di Papua (Bagian 2)

Pemekaran Sebagai Siasat Pemerintah Indonesia Demi Suksesi Migrasi Pendudukan Tanah dan Manusia Papua

Fenomena Jual-Beli Marga Papua: Telanjangi Diri Sebelum Punah

TAGGED:Buku tentang Orang HubulaReview buku “Orang Hubula: Makna Martabat Kolektif Suku Hubula di Lembah Palim PapuaYulia Sugandi

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Potret Pendidikan di Kampung Yogonima
Next Article Papua Tidak Butuh Makan Siang Gratis. Papua Butuh Pendidikan Gratis Dan Kesehatan Gratis
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Mahasiswa Papua di Makassar Aksi 63 Tahun Aneksasi, Dihadang Aparat dan Ormas di Monumen Mandala
Polhukam Tanah Papua
2 days ago
Komisi C DPRK Jayawijaya Soroti Krisis Layanan Kesehatan, Pendidikan, hingga Masalah Sosial dalam Rekomendasi LKPJ
Papua Pegunungan Tanah Papua
2 days ago
Pegiat Literasi Salurkan Buku Bacaan untuk Pemuda Gereja Baptis Onggeme, Dorong Generasi Muda Cintai Pendidikan
Pendidikan Sastra
2 days ago
Komisi B DPRK Jayawijaya Soroti Sektor Pertanian, Koperasi, dan Pasar dalam Rekomendasi LKPJ 2026
Papua Pegunungan Tanah Papua
2 days ago
Baca juga
EditorialTanah Papua

Cadangan Minyak Indonesia 3,95 Miliar Barel, Terbanyak di Papua

3 years ago
Editorial

Analisis sementara Pilgub Papua Pegunungan

2 years ago
Editorial

Prinsip Dasar Utama Tanah Bagi Orang Hubula

3 years ago
Editorial

Ketika “Pengertian” Berganti Menjadi Pungutan — Krisis Integritas di Pemerintahan Jayawijaya

7 months ago

Penghianatan Gubernur Papua Lukas Enembe (Suatu Kritik)

4 years ago
Editorial

Salibkan Lukas Enembe

5 years ago
EditorialTanah Papua

Demo Damai Rakyat Papua Dibalas dengan Moncong Senjata

5 years ago
EditorialPariwisata

Tiga Pertemuan Rahasia ” Hotel Maraw”

5 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?