Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Bangsa Ini Bangsat
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Editorial > Bangsa Ini Bangsat
EditorialHeadline

Bangsa Ini Bangsat

admin
Last updated: March 5, 2023 17:12
By
admin
Byadmin
Follow:
1.3k Views
4 years ago
Share
SHARE

Oleh: Maiton Gurik

Iklan Nirmeke

DALAM kamus KBBI kata ‘bangsat’ diartikan sebagai orang yang bertabiat jahat, gembel miskin, suka mencuri dan orang yang tidak tahu diri. Dari arti kata bangsat diatas, apakah Indonesia bagian dari bangsa yang bangsat? Berikut beberapa bukti kelakuan dan kejahatan bangsa Indonesia yang bertabiat jahat, suka mencuri dan tidak tahu diri.

Kekerasan Indonesia Secara Non-Verbal

Pada 5 November 2003 lalu, Yustinus Murib bersama delapan orang ditembak mati oleh aparat keamanan dikampung Yeleka, Kabupaten Jayawijaya”. (sumber: Tebing Terjal Perdamaian Di Tanah Papua:Yoman.hal.96). Dalam buku yang sama, “Pendeta Elisa Tabuni tewas di bunuh pada 16 Agustus 2004 di Tingginambut, Puncak Jaya.”(hal:97). Kemudian, pada 6 Februari 2008 saya datang ke Puncak Jaya terkait dengan laporan yang saya terima bahwa seorang warga sipil bernama Omanggen Wonda ditembak oleh anggota Batalyon 756 yang bertugas di Tingginambut”.(hal.98).

Tragedi kemanusiaan dan terbunuhnya para pemimpin Papua seakan tidak pernah berhenti. Pada 16 Desember 2009, Jenderal Kelly Kwalik dieksekusi oleh Detasemen Khusus 88, satuan khusus anti teror Kepolisian RI di Timika”.(Yoman:2009:99). Dilanjut dengan; ‘Kematian Wakil Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Musa Mako Tabuni adalah peristiwa yang kembali mengkoyak-koyak rasa kemanusiaan orang Papua.

Mako Tabuni tewas ditembak dalam operasi penyerangan pada 14 Juni 2012 di Waena, Jayapura”. (hal.102). Dalam buku, Socrates Yoman; Melawan Rasisme Dan Stigma Di Tanah Papua’, juga menyebutkan; “… penembakan empat siswa di Paniai, 8 Desember 2014..”.(hal:133). Kemudian dalam buku yang sama; “Kejahatan kemanusian baru saja terjadi pada 19 Desember 2018, TNI menembak mati Pendeta Geyimin Nigiri (83) tokoh Gereja dan Perintis Gereja Kemah Injil di Kabupaten Nduga”.(hal:166).

Dalam buku; surat-Surat Gembala, Forum Kerja Oikumenes Gereja – Gereja Papua: Beny Giay (editor):hal:35); dituliskan; “Penyiksaan dan pembunuhan Yawan Wayeni pada 13 Agustus 2009 oleh Kapolres Serui AKBP Imam Setiawan”. Kemudian, Pada 15 Februari 2013, Dago Ronald Gobay (laki-laki/30) ditangkap di Depapre , Kabupaten Jayapura oleh polisi dan dalam proses interogasi disiksa diruangan kerja Intelkam Polres Jayapura”.(hal:34). Dibuku yang sama, “Hari Jumat, 13 Juli 2018, Elibas Karunggu, warga sipil ditangkap jam 14.30 ol h TNI, yang kemudian bawahnya dia Kodim 1702 dan interogasi disertai teror; membacakan nama yang mereka (TNI) curian sebagai OPM dan memaksanya mengaku merasa sebagai OPM, kemudian TNI POLRI berkeliling dari rumah ke rumah untuk tangkap orang-orang tersebut yang disebutkan oleh Elibas”.(hal:127-128). Lalu, “17 Juli 2018, Satulus Nggwijangge, PNS mantan kepala distrik, Mugi, ditangkap TNI dan dibawah ke Kodim untuk diinterogasi, kemudian dibebaskan”.(2018:hal.128).

Dibuku yang dirilis LBH Papua; ‘Pendokumentasian Kasus Dugaan Pelanggaran HAM Berat Tahun 2020: Emanuel Gobay & Jhonny T. Wakum:hal.52); menyebutkan “dugaan pelanggaran HAM berat terhadap lima orang masyarakat sipil Papua pada masa operasi militer di Nduga, berikut identitas kelima korban masyarakat sipil, 1).Yulince Bugi(25) perempuan, 2).Yuliana Doronggi (35) perempuan, 3). Masem Kusumburue (26) perempuan, 4). Tolop Bugi (13) perencanaan, 5). Hardius Bugi (15) laki-laki”.(hal.57). Didalam buku yang sama; “Dua orang masyarakat sipil korban penembakan oknum anggota TNI di Timika sebagai berikut, 1). Ronny Wandik (21) laki-laki, 2). Eden Armandi Bebari (19) laki-laki (hal.76). Dihalaman lain juga disebutkan, Elias Karunggu (40) dan Seru Karunggu (20), korban pelanggaran HAM berat dan oknum anggota TNI”(hal.98). Dilanjutkan dengan, penembakan terhadap rohaniawan Katolik, Rufinus Tigau (meninggal) (hal.115). Kemudian, penembakan terhadap 5 masyarakat sipil di Kabupaten Puncak, 1). Atanius Murid (17) meninggal, 2). Amanus alias Maluk Murib (17) hidup, 3). Aki Alom (35) meninggal, 4). Wapenus Tabuni (13) meninggal 5). Warius Murid (17) meninggal”.(hal.129).

Baca Juga:  Benny Wenda: Rakyat West Papua Harus Menyambut Baik Hasil KTT ULMWP

Lebih lengkap baca dibuku yang sama pada halaman, 8-9. Kasus dugaan pelanggaran HAM tahun 2020; 1. Kabupaten Nduga,– Pengungsi; 37.000 orang– Pelanggaran hak hidup atas nama: 1). Yulince Bugi (2019), 2). Yulianus Doronggi (2019), 3). Masen Kusumburue (2019), 4). Tolop Bugi (2019), 5). Hardius Bugi (2019), 6). Elias Karunggu (2020) dan 7).Seru Karunggu (2020). 2. Kabupaten Intan Jaya– Pengungsi: 1.237 orang– Luka Tembak: 1). Agustinus Duwitau (2020)– Pelanggaran hak hidup atas nama: 1). Pdt.Yeremia Zanambani (2020), dan 2). Rufinus Tigau (2020). 3. Kabupaten Mimika– Pengungsi: 1.582 orang– Pelanggaran hak hidup: 1). Ronny Wandik (2020) dan 2). Eden Armandi Bebari (2020). 4. Kabupaten Puncak Jaya– Luka Tembak: Amanus alias Maluk Murib (2020)– Pelanggaran hak hidup atas nama: 1). Atanius Murid (2020), 2). Aki Alom (2020), 3). Wapenus Tabuni (2020), dan 4). Warius Murid (2020).

Kekerasan Negara Secara Verbal

Mitos-mitos kolonial Indonesia yang paling halus yang dialamatkan kepada orang asli Papua, yaitu: belum bisa, belum mampu, terbelakang, terbodoh, dan tertinggal. Sedangkan, mitos-mitos yang paling kasar, yaitu orang asli Papua sebagai gerakan pengacau keamanan (GPK), gerakan pengacau liar (GPL), anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM), Gerakan Separatis, pembuat Makar, dan kelompok pemberontak. Mitos terbaru yang diciptakan TNI-POLRI adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)”. (sumber: Jejak Kekerasan Negara Dan Militerisme Di Tanah Papua: Yoman.hal.67). Belum lagi, dengan kekerasan verbal seperti, penguasa Indonesia bilang orang Papua sebagai monyet, tikus dan sampah.

Yang terbaru dan ter-update, “Cemas Ada Konflik Bersenjata di Maybrat, Ratusan Penduduk Bertahan Mengungsi di Hutan”.(sumber:sindonews.com/14 Sep.2021). Papua: Kekerasan bersenjata ‘meluas’ ke Kabupaten Puncak, Polri-TNI dan OPM diminta ‘hentikan baku tembak’.(sumber:bbcnewsindonesia:16 April 2021). Rakyat Papua: Sekolah dan Klinik Diambil Tentara, Kami Mengungsi ke Hutan. (sumber: suara.com; 11 Mei 2021). PAHAM dan KontraS Papua sebut sepanjang 2020 terjadi 63 kasus kekerasan. (sumber: jubi/1 April 2021). Nestapa Nduga Selama 2019: 37.000 Orang Mengungsi, 241 Orang Tewas. (sumber:tirto.id/30/12/2021). Kasus Penembakan terhadap Ferianus Asso, Jokowi Didesak Segera Tarik Pasukan dari Papua. (sumber: suara.com/24/8/2021).

Kekerasan Dibungkus Dengan Kebohongan

Tiga Tipu Daya Atas Perjanjian New York Agreement, 15 Agustus 1962. Pertama; Perjanjian ini untuk menghakiri pertengkaran antara pemerintah Belanda dengan Indonesia tentang status politik dan masa depan rakyat dan bangsa Papua Barat. Tujuan kedua dari New York Agreement untuk kepentingan membendung perkembangan komunisme di kawasan Asia Pasifik. Tujuan ketiga pada perjanjian New York adalah kepentingan Amerika Serikat untuk menguasai Emas di Papua. (sumber bacaan: Jejak Kekerasan Negara Dan Militerisme Di Tanah Papua. Yoman.hal.30-32).

Kekerasan serupa, ‘status politik West Papua dalam wilayah Indonesia melalui proses Pepera 1969 yang tidak jelas. Rakyat dan bangsa West Papua menggugat hasil pepera 1969 yang tidak demokratis dan melawan hukum internasional. Pelanggaran berat HAM yang merupakan kekejaman dan kejahatan negara selama 54 tahun. Kekejaman ini bagian yang tak terpisahkan dari usaha sistematis dan terstruktur pemusnahan etnis bangsa West Papua. Tersingkirnya Penduduk Asli West Papua dari tanah leluhur dan pusaka dalam segala aspek. Rakyat dan bangsa West Papua telah kehilangan kepercayaan kepada pemerintah Indonesia. (sumber: artikel. Socratez Yoman. Wamena/11/09/2017).

Baca Juga:  Tim Investigasi Bersama Warga Puncak Papua Adukan Pelanggaran HAM ke Komnas HAM RI

Presiden Joko Widodo; meminta Kepolisian RI agar segera menyelesaikan kasus penembakan di Kabupaten Paniai, pada 8 Desember lalu, hingga tuntas. Lanjut, Jokowi; “Saya ikut berempati terhadap keluarga korban kekerasan. Hal itu disampaikan Presiden di depan masyarakat Papua saat ibadah Natal nasional di Stadion Mandala, Jayapura. “Saya ingin kasus ini diselesaikan secepat-cepatnya, agar tidak terulang kembali di masa yang akan datang. Kita ingin, sekali lagi, tanah Papua sebagai tanah yang damai. (sumber: bbc.com/28 Desember 2014). Dari janji Presiden Jokowi diatas, faktanya Jokowi mengirim militer dengan jumlah besar untuk operasi dan lakukan kekerasan terhadap rakyat Papua.

Lebih ironis lagi Aparat Intelijen, TNI, dan Polri menjadikan kaum pendatang sebagai mitra, informen bahkan pasukan milisia. Secara sengaja atau tidak aparat menggiring pendatang orang sipil tidak berdosa yang sedang mengadu nasib di tanah Papua sebagai kelompok milisia. (sumber:rmol.id:Natalius Pigai.30 September 2019). Yang terbaru, ‘jika ingin tahu peristiwa di intan Jaya “TNI menyamar sebagai pilot sipil”. Peristiwa Kiwirok “tenaga kesehatan pegang pistol”.(sumber:watshap:Natalius Pigai/18 September 2021).

Indonesia Datang Ke Papua Tanpa Diundang

Dikampung Puay (Jayapura), penulis diskusi dengan salah satu mantan satgas Papua Merdeka (JI), yang juga salah satu anak buahnya tokoh Papua Merdeka, Theys Eluay (alm). Beliau cukup cakap dan vokal bicara tentang Papua Merdeka. Banyak hal yang kami diskusikan termasuk cerita tentang pembunuhan tokoh populer, Theys Eluay (alm). Penulis baru tahu otak pembunuh tokoh Theys Eluay (alm) dan tokoh Musa Mako Tabuni (alm). Sebagai anak Papua, mendengar cerita-cerita begini telinga panas dan otak miring tapi itulah realita bangsa yang bangsat ini memperlakukan orang Papua. Penulis akan ingat dalam hati dan pikiran tentang orang yang membunuh kedua tokoh milik rakyat Papua ini.

Penulis juga tahu nama dan muka pelaku namun penulis tidak bisa sampaikan nama dalam tulisan ini. Semakin lama kami diskusi, otak juga semakin panas. Sudah tahukan, diskusi sesama orang Papua. Emosi dan otakpun panas apalagi diskusi soal Papua Merdeka. Dengan situasi panas itu, ada satu pertanyaan menarik yang datang dari mantan satgas satu ini. Ini pertanyaannya; ‘Yang suruh indonesia datang ke papua siapa?

Mendengar pertanyaan itu, dalam hati penulis ‘ia juga yang suruh Indonesia datang ke Papua siapa? Jawabannya; ‘Tidak ada yang suruh datang dan tidak ada orang papua yang undang tapi indonesia yang datang sendiri’. Sudah sangat jelas kan, Indonesia itu datang sendiri tanpa diundang, sudah begitu memaksakan orang Papua harus menjadi orang Indonesia. Datang juga sebagai tamu lalu bikin diri tuan rumah. Lebih biadab lagi, sudah pendatang lalu mengambil sumber daya alam dan membunuh pemiliknya sesuka hati, sungguh tidak tahu diri dan tidak punya hati kemanusiaan. Karena itu, bangsa Indonesia adalah bangsa yang bangsat, sebab sudah bertabiat jahat, perampok, pembunuh dan tidak tahu diri. Semoga!

Fornumbay,18 September 2021.

Penulis:
– CEO & FOUNDER; Lembaga Riset Ekonomi Politik (LEMPAR) Papua.
– Alumnas: Magister Ilmu Politik Konsentrasi Politik Indonesia Pada Universitas Nasional Jakarta, 2018.
– Peserta, Sosialisasi Hak Konstitusi Warga Negara’, Cisarua 2017.
– Peserta, Pendidikan dan Pelatihan Legislative Drafting Training Basic Level, yang diselenggarakan oleh Jimly School of Law and Government (JSLG) Jakarta 2017.

Related

You Might Also Like

Majelis Rakyat Papua Pegunungan Serukan Pemilu Damai untuk 8 Kabupaten pada Pilgub dan Pilbup 27 November 2024

Militer Terus Dikerahkan ke Papua, Bukti Adanya Operasi Militer di Tanah Papua

Ini Temuan Komnas HAM Tentang Polemik Lokasi Kantor Gubernur di Wamena

Papua, ATM Militer: Konflik yang Dipelihara demi Proyek Keamanan

Sekolah Adat Santo Yohanes Pembaptis II Diresmikan: Upaya Menyelami dan Merawat Jati Diri Papua

TAGGED:Kekerasan di Papua

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Amnesty Internasional: Perubahan Kedua UU Otsus Papua Cacat Formal Prosedural dan Material Subtansial
Next Article GIDI Pantura Klasis Wayu Wanggar Gelar Konferensi Badan Pekerja Klasis Ke-II 
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Mahasiswa Papua di Makassar Aksi 63 Tahun Aneksasi, Dihadang Aparat dan Ormas di Monumen Mandala
Polhukam Tanah Papua
1 week ago
Komisi C DPRK Jayawijaya Soroti Krisis Layanan Kesehatan, Pendidikan, hingga Masalah Sosial dalam Rekomendasi LKPJ
Papua Pegunungan Tanah Papua
1 week ago
Pegiat Literasi Salurkan Buku Bacaan untuk Pemuda Gereja Baptis Onggeme, Dorong Generasi Muda Cintai Pendidikan
Pendidikan Sastra
1 week ago
Komisi B DPRK Jayawijaya Soroti Sektor Pertanian, Koperasi, dan Pasar dalam Rekomendasi LKPJ 2026
Papua Pegunungan Tanah Papua
1 week ago
Baca juga
Editorial

Memikirkan Jalan “Lepas” dari Cengkeraman Oligarki

3 years ago
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Apa Yang Berubah? Sebuah Refleksi Tentang Perempuan Baliem

2 years ago
Editorial

Mengenal Istilah Lembah Baliem

4 years ago
HeadlineTanah Papua

Saksi Ahli: Teror Bom Terhadap Victor Mambor Adalah Tindak Pidana

2 years ago
Editorial

Penegakan Korupsi di Papua, Membela Rakyat Atau Koruptor?

3 years ago
HeadlineTanah Papua

Ini Agenda Umat Katolik di Kampung Yogonima Sambut Tahun Baru 2024

3 years ago
HeadlineTanah Papua

Benny Wenda: Rakyat West Papua Harus Menyambut Baik Hasil KTT ULMWP

3 years ago
Bendera Papua Barat Diperlihatkan kepada Paus Fransiskus (Foto: Milk)
HeadlineTanah Papua

Bendera Papua Barat Dikibarkan Dalam Kunjungan Paus Fransiskus di Timor Leste

2 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?