Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Pernikahan usia dini penyebab meningkatnya AKI/AKB di Korowai
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pernikahan usia dini penyebab meningkatnya AKI/AKB di Korowai

Pernikahan usia dini penyebab meningkatnya AKI/AKB di Korowai

admin
Last updated: August 1, 2018 12:38
By
admin
Byadmin
Follow:
8 years ago
Share
3 Min Read
SHARE

 

Iklan Nirmeke

 

Danowage, nirmeke.com – Perkawinan anak di bawah umur di Korowai menjadi tradisi turun-temurun di lakukan oleh masyarakat setempat kepada anak perempuan yang baru beranjak 9 hingga 12 Tahun.

Hal tersebut di sampaikan  penginjil pos PI GIDI suku Kopkaka Alo Sobolim ketika di wawancarai. Sabtu, (21/10/2017), Danowage, Korowai Batu.

Banyak anak perempuan yang berusia 2 Tahun sudah di jodohkan atau di kasih tanda oleh calon suami dengan persetujuan orang tua perempuan dengan memberi tanda ke sang gadis memakaikan kalung gigi anjing di lehernya dengan bukti seperti itu tidak bisa di ganggu lagi oleh orang lain.

“Anak perempuan baru berusia 2-3 tahun sudah kasih tanda oleh suaminya ada juga sudah bersama dengan suami dan suami sendiri yang membesarkan mereka dan 3 tahun sudah di berikan ke suami,” Heran Penginjil Sobolim.

Lanjutnya, anak perempuan yang sudah di beri tanda tidak bisa di ganggu oleh orang lain, bila hal tersebut terjadi akan terjadi perang antar suku atau keluarga. Anak perempuan yang baru lahir maupun masih dalam kandungan sudah di beri tanda oleh sang suami dan itu terjadi rata-rata di wilayah dataran rendah suku Korowai dan suku Kopkaka.

“Anak perempuan umur 9 – 12 Tahun sudah hamil dan ada juga yang sudah punya anak dan menjadi tradisi mereka saat hamil ibu di larang makan makanan daging dan sayur-sayuran sehingga anak yang lahir tidak sehat dan kurang gizi.”

Ia menambahkan dengan tradisi seperti itu banyak ibu hamil dan baru melahirkan usia 9-12 Tahun akan kurang darah dan anak yang lahir juga tidak sehat jadinya kurang darah dan meninggal dunia baik ibu dan bayinya karena ibu sendiri janinnya belum kuat dan siap untuk mengandung dan melahirkan.

“Budaya seperti ini tidak bisa lepas dari masyarakat Korowai sehingga banyak ibu baru melahirkan meninggal dunia. Karena tradisi itu juga anak perempuan di larang bersekolah karena sudah bersuami dan kami penginjil sering mengingatkan mereka tapi tidak bisa dengar dan itu menjadi kebiasaan mereka.”

Sementara itu Jimmy Weyato guru perintis di Korowai juga mengatakan hal yang sama karena anak perempuan yang di ajar di kelas biasa di paksa pulang atau di ambil oleh suamo dan orang tua mereka.

“Kita bisa lihat sekarang paling banyak ikut belajar anak laki-laki Korowai kalaupun ada itu 1 atau 2 orang yang sudah mengerti pentinggya pendidikan bagi anak mereka.”

Kami berharap Pemda maupun Pemprov dan dinas terkait harus melihat hal ini agar mencegah kematian ibu dan anak ketika melahirkan karena kematian yang paling banyak terjadi di Korowai ibu dan anak. (*)

Editor  : Agus Pabika

Related

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Pelayanan Kesehatan Misionaris GIDI Sangat Membantu Masyarakat Korowai
Next Article Penginjil : Kami Minta RS Sentral Korowai di Danowage
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Iklan dari Nirmeke.com
Ad image

Berita Hangat

Pemkab Yahukimo Luncurkan Penyaluran Bantuan Pangan ke 51 Distrik
Papua Pegunungan Tanah Papua
5 hours ago
Dari Rumah Sederhana di Wamena, Noken Rasta Menjelajah Indonesia hingga PNG
Ekonomi & Bisnis Perempuan & Anak
13 hours ago
Sidang Perdana Korupsi Dana Kampung Lanny Jaya Digelar, Peran Mantan Pj Bupati Dipertanyakan
Tanah Papua
1 day ago
Hak Pelatih dan Pemain Belum Dibayar, Persipuja Terancam Tak Ikut Liga 4 Papua Tengah
Olaraga
1 day ago
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?