Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Pucuk jalanan, siapa yang disalahkan !!!
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pucuk jalanan, siapa yang disalahkan !!!

Pucuk jalanan, siapa yang disalahkan !!!

admin
Last updated: August 15, 2019 05:12
By
admin
Byadmin
Follow:
452 Views
7 years ago
Share
Migration linked to prostitution The phenomenon of foreign women, who line the roadsides of Italy, has become a notorious fact of Italian life. These women work in sub-human conditions; they are sent out without any hope of regularizing their legal status and can be easily transferred into criminal networks. Many are Africans working as prostitutes to send money home to their families. 
For nearly twenty years the women of Benin City, a town in the state of Edo in the 
south-central part of Nigeria, have been going to Italy to work in the sex trade and every year successful ones have been recruiting younger girls to follow them. The Nigerian trafficking industry is fueled by the combination of widespread emigration aspirations and severely limited possibilities for migrating to Europe. The term Trafficking of persons is restricted to instances where people are deceived, threatened, or coerced into situations of exploitation, including prostitution. This contrasts with Human smuggling, in which a migrant purchases services to circumvent immigration restrictions, but it is not a victim of deception or exploitation. Most migrant women, including those who end up in the sex industry, have made a clear decision to leave home and take their chances overseas. They are headstrong and ambitious women who migrate in order to escape conflict, persecution, environmental degradation, natural disasters and other situations that affect their habitat and livelihood. One concern is that the anti-trafficking crusade is causing effects opposite to its objectives. What presents itself as a campaign to protect migrants from harm is actually making their efforts to flee home, to find work, to make the most of their lives in often difficult and unforgiving circumstances, much harder.
SHARE

Sebagai Anak Perempuan Perlu Mendapatkan Ekstra Perlindungan, dan mendapatkan perhatian Tumbuh Kembang anak di dalam keluarga dengan baik.

Iklan Nirmeke

GAYANYA soronok. Berbaju ketat menonjolkan anatomi tubuh, dengan kancing baju paling atas terlepas, Rita sebut saja begitu, adalah ABG yang terlanjut dewasa. Bercelana panjang hitam model Jans, bentuk pinggulnya kentara. Rambutnya, hitam keriting sebahu, disisinya belah dua. Hampir setengah jam ia mejeng di kawasan pasar lama, depan Hotel Surya, Sentani kota, Kabupaten Jayapura. Sesekali ia menyapa dan melambaikan tangan dan menyapa seseorang, “ hei, selamat malam, sombong yee, mau kemana kah.”

Tapi belum ada satu transaksi pun. Malam itu, malam minggu, suasana malam minggu di Papua sangat ramai, seperti halnya di jalan Pasar lama. Jangan bilang soal orang yang sedang lagi play alias mabuk, suasana itu terlihat jelas. Walaupun kabupaten Jayapura, ada larangan penjualan Minuman Keras dan berkeliarannya orang mabuk. Tapi malam itu orang mabuk banyak dan bukan hanya malam itu saja, setiap malam pun gambaran yang sama seperti malam minggu suasananya. Tidak tahu Miras itu di dapatkan dari mana, tapi yang jelas, ada penjual Miras, berdagang secara sembunyi-sembunyi dan juga Miras itu diyakini di dapatkan dari luar kota Sentani (kota Jayapura).

Dengan naik Ojek, Rita memilih nongkrong di depan hotel Surya. Ia dan teman-temannya, seperti biasanya lagi mengutak-katik HP, sambil makan pinang dan menghisap rokok. Masyarakat di sekitar situ ramai dan sudah tahu aktivitas mereka seperti apa, karena tempat mangkal itu dekat dengan pasar, terdapat juga rental Warung Internet dan tempat bermain billiar serta berjejeran Rumah Toko (Ruko).

Gayanya yang anggun bagaikan bunga yang baru mekar, di pertontonkan kepada setiap orang termaksud mereka yang sedang Miras. Memang kalau mau dilihat, dari hasil pantauan di lapangan, pelanggan mereka adalah masyarakat kelas sosial di bawah, soal tarifnya tentu muda di jangkau antara Rp. 100.000,- ke atas, dan termasuk hotel yang harus di tanggung para lelaki hidup belang.

Menurut warga sekitar pasar. Dulu tidak ada perempuan yang mejeng-mejeng di depan hotel, namun sekarang ini baru adik-adik perempuan mulai ramai. Saat Komaria Papua mendekati seorang pelanggan, menurutnya dia sudah beberapa kali menikmati ruangan hotel yang berukuran 4 X 4 meter itu, plus kamar mandi dengan kasur, sprei yang sederhana. Pengelola hotel menyewakan Ruangan sederhana itu hanya sekali kencan, dengan biaya Rp. 150.000,- bagi pasangan selingkuan maupun para PSK jalanan.

Uang jerih payahnya itu, dia membagi kepada Mama angkatnya di lokasi, setelah itu dipakai untuk makan dan membeli kebutuhan lainnya.

Rita muda bergaul dengan siapa saja, dia mengutarakan bahwa saat kecil, ibunya mengajarkan untuk berdoa setiap malam. Dia tinggal dengan ibu dan tiga kakak perempuan. Sedangkan ayah tidak terlalu berperan dalam hidup karena selalu mabuk. Sejak meninggalnya ibu. Rita mulai membandel, tidak mau mendengarkan nasihat kakak. Malah dia mengikut teman-teman untuk menunggak minuman keras, mengisap rokok dan pergi ikut acara goyang hingga pulang pada pagi harinya. Dia merasa kecewa, ketika mengenal sosok lelaki yang menurutnya membuat dirinya hancur seperti sekarang ini.

Di dalam UU RI Nomor 10 tahun 2012 tentang pengesahan protokol opsional konvensi hak-hak anak mengenai penjualan anak, prostitusi anak, dan pornografi anak. Sudah jelas isi Pokok-Pokok Protokol Opsional huruf (g) menjelaskan bahwa memberikan perlindungan terhadap hak dan kepentingan anak sebagai korban dari tindakan yang dilarang dalam protokol opsional ini terutama dilakukan dengan:

  1. Menjamin bahwa keraguan mengenai usia korban tidak menghalangi dimulainya suatu penyelidikan;
  2. Mengambil langkah-langkah untuk memastikan pemberian pelatihan yang sesuai, khususnya di bidang hukum dan psikologis bagi para pendamping korban;
  3. Mengambil langkah-langkah untuk menjamin keselamatan dan integritas orang-orang dan/atau organisasi yang melakukan upaya pencegahan dan/atau perlindungan dan rehabilitasi korban.

Kabupaten Jayapura, dulu mempunyai lokalisasi. Namun atas kebijakan pemerintah kabupaten Jayapura dan mendapatkan dukungan dari Kementerian Sosial RI, sehingga lokalisasi prostitusi yang terletak di distrik Sentani Timur itu telah di tutup. Tetapi, sangat di sayangkan, kebijakan tersebut menyebabkan penyakit masyarakat itu malah menyebar di pusat-pusat kota dan salah satunya adalah prostitusi yang memakai jasa Hotel melati. Hingga kini pemda setempat belum bisa melakukan penertiban atau melakukan sweping pada hotel-hotel yang menyewa ruangan sekali kencang.

Rita, sosok perempuan Papua, tergolong masih usia anak-anak ini melewati masa kekanakan dengan bekerja menjajakan tubuh mungil kencurnya. Sangat disayangkan, hak-hak anak yang seharusnya di berikan oleh orangtua tidak didapatkannya. Mungkin dia adalah salah satu sosok anak dari beberapa anak lainnya yang kian hidup menikmati uang dengan perilaku tidak senonoh itu.

 

SUmber: (KOMa-RIA Papua Team)

 

Related

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Penyaluran dana miliaran ke ODHA di Papua dipertanyakan
Next Article Minumnya usaha Bengkel otomotif permanen milik OAP
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Ads Sponsored by
Ad image

Berita Hangat

Tak Terbukti Bersalah, Hakim Bebaskan Terdakwa Kasus Nakes Anggruk 2025
Polhukam Tanah Papua
24 hours ago
Mahasiswa Papua di Gorontalo Demo, Desak Pengusutan Dugaan Pelanggaran HAM di Puncak
Nasional Pendidikan Tanah Papua
2 days ago
Ini 4 Poin Tuntutan Demo di Wamena Hari Ini
Papua Pegunungan Polhukam Tanah Papua
3 days ago
Sempat Ricuh di DPR Papua Pegunungan, Aspirasi Massa Akhirnya Diterima Pimpinan DPRP
Papua Pegunungan Polhukam Tanah Papua
3 days ago
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?