Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Sampai Kapan Pembunuhan Menjadi Cara Menyelesaikan Masalah di Papua?
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
    • Papua Pegunungan
    • Papua Tengah
  • Kabar Daerah
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • MRP Papua Pegunungan
    • Pemkab Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Sampai Kapan Pembunuhan Menjadi Cara Menyelesaikan Masalah di Papua?

Sampai Kapan Pembunuhan Menjadi Cara Menyelesaikan Masalah di Papua?

admin
Last updated: March 23, 2022 14:03
By
admin
Byadmin
Follow:
6 years ago
Share
4 Min Read
Caption: Situasi ini betul menjadi suatu kenyataan yangmengajaksemua orangyangberkehendak baik untukberelfleksi. Bagaimanakeadaanini dapatdiatasi secara bermartabat? TheovandenBroek-Dok.Jubi
SHARE

Oleh : Theo vanden Broek

Iklan Nirmeke

 KEJADIAN di Nduga 2 Desember 2018, dimana sekian orang dibunuh, mendapat kutukan dari banyak pihak. Benar dan jelas bahwa tindakan demikian patut dikutuk. Makna kejadian semacam ini masih bertambah kalau di ingat pula segala penderitaan yang akhir-akhir ini dilaporkan kepada kita semua, termasuk sekian banyak pembunuhan di Papua selama 8 tahun terakhir (laporan Amnesty International, July 2018), termasuk laporan mengenai ratusan orang ditangkap karena ingin mengungkapkan pendapatnya, termasuk sekian kantor kegiatan KNPB diserang dan dihancurkan (laporan 1-2 Desember 2018), dan banyak laporan lainnya. Tambah lagi daftar korban di kalangan aparat polisi/tentara, dan lebih-lebih jangan lupa semua orang sangat sederhana dan tanpa dosa yang terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya karena rumahnya, kebunnya, lingkungannya dihancurkan demi kepentingan pengoperasian ‘penegakan hukum’. Kejadian di Nduga bukan suatu kejadian yang terisolir! Penderitaan serupa sudah dialami selama puluhan tahun di Papua dan banyak saksi hidup sudah turut mati.

Situasi ini betul menjadi suatu kenyataan yang mengajak semua orang yang berkehendak baik untuk berelfleksi. Bagaimana keadaan ini dapat diatasi secara bermartabat?

Di belakang kenyataan ini adalah satu masalah dasar saja: penyangkalan hak bangsa Papua untuk menentukan nasibnya sendiri secara bebas; penolakan itu paling dialami selama tahun tahun enam puluhan, namun dampaknya bertumbuh artinya selama 50 tahun terakhir ini. Partisipasinya signifikan walaupun selama proses pengintegrasian dalam Republik Indonesia ditolak dan dihindari para penguasa pada saat itu, termasuk saat penyelenggaraan Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) A c t o f  F r e e  C h o i c e , tahun 1969. Itulah masalahnya dan semua orang yang berkesempatan membaca/mendengar informasi mengenai sejarah Papua tahu hal demikian, termasuk tokoh Pemerintah Pusat, tokoh Pemerintah Papua, tokoh kalangan Aparat Negara, dan kalangan luas bangsa Papua.

Sampai saat ini masalah yang nyata itu selalu ditutup, disangkal dan pendekatan lainnya seperti pendekatan keamanan/pemakaian kekerasan, peningkatan ekonomi, peningkatan infrastruktur, kesejahteraan dan lainnya dipakai untuk menutup masalah yang sebenarnya. Kapan saatnya para tokoh Indonesia yang menjunjung tinggi demokrasi, dan yang ada dalam kedudukan menentukan arah perkembangan Republik ini, mulai menyadari bahwa penyelesaian masalah satu satunya itu secara bermartabat tidak dapat di hindari kalau mau menciptakan damai dan sejahtera di Papua.

Sebenarnya jalan keluar sederhana saja: semua pihak yang berkepentingan duduk bersama dan mengakui bahwa memang ada masalah sejarah ini! Langkah sederhana itu adalah satu satunya dasar untuk mengembangkan suatu penyelesaian yang berarti dan sejati. Sulit dipahami kenapa begitu sulit untuk memilih pendekatan yang wajar dan bermartabat demikian? Berhentilah melakukan segala kekerasan, berhentilah mengucapkan bahasa seremonial, di mana istilah ‘demokrasi’ atau pun ‘negara hukum’ menjadi bahasa munafik, berhentilah main kuasa, berhentilah merusak lingkungan alam, berhentilah merampas kekayaan dan membunuh manusia.

Mari mulai mendengarkan suara orang yang turun temurun memiliki tanah Papua ini dengan sah! Bukan kepemimpinan kekuasaan yang kita butuhkan di Papua, melainkan suatu kepemimpinan yang bermartabat manusia. Tidak pernah terlambat! Kesempatan masih ada untuk mengikuti suara hati besar dan suara hati nurani yang membuat kita bersama mencari jalan yang sesuai martabat kita semua tanpa pengecualian. Dalam bulan Natal dan menjelang Tahun Baru itulah saatnya untuk bertobat dan memilih suatu jalan yang benar, suatu jalan yang menghidupkan. Duduklah bersama dan mengangkat masalahnya dengan jujur, rendah hati,  dan terbuka untuk menciptakan suatu dunia yang ramah manusia. Hanya dengan demikian ucapan “Damai Natal” dan “Selamat Berbahagia memasuki Tahun Baru 2019” nanti akan mempunyai arti.(*)

)* Penulis  adalah  pengamat  masalah  Papua.  Tinggal  di Kota Jayapura.

Tulisan ini sudah di publis di Link:http://tabloidjubi.com/artikel-21854-sampai-kapan-pembunuhan-menjadi-caramenyelesaikan-masalah-di-papua.html 

Related

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Previous Article Pesawat Jenis Caravan Tiba di Tiom, KAPP Lanny Jaya Beri Apresiasi Pemkab
Next Article Terkait Dana Studi Akhir, Mahasiswa Jayawijaya Akan Hadirkan BPK
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Iklan dari Nirmeke.com
Ad image

Berita Hangat

Unika Fajar Timur Papua Resmi Diluncurkan pada Penutupan Sinode Keuskupan Jayapura 2026
Pendidikan Tanah Papua
8 hours ago
12 Klub Resmi Lolos Screening, Liga 4 Papua Pegunungan Siap Bergulir
Olaraga
2 days ago
HMPJ Gelar Raker dan POF 2026–2027, Dorong Kualitas Mahasiswa di Era Globalisasi dan Digitalisasi
Pendidikan
2 days ago
Sekolah Adat Hugulama Diharapkan Jadi Rumah Belajar Budaya bagi Generasi Muda
Papua Pegunungan Pendidikan Seni & Budaya
2 days ago
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?