Wamena, nirmeke.com — Festival Sekolah Adat Hugulama Ke-I Tahun 2026 akan digelar di Kampung Yogonima, Distrik Itlay Hisage, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan pada 2–31 Januari 2026. Kegiatan ini mengusung tema besar “Membangun Pagar Kehidupan Orang Hugula” sebagai upaya memperkuat identitas dan ketahanan budaya masyarakat Hugula di tengah arus modernisasi.
Ketua Panitia Festival Sekolah Adat Hugulama, Yeremias Hisage, menjelaskan bahwa pagar kehidupan merupakan simbol nilai, moral, dan prinsip yang selama ini menjadi penopang hidup masyarakat Hugula. “Pagar ini bukan untuk membatasi, tetapi untuk melindungi jati diri dan martabat orang Hugula agar tetap kuat menghadapi perkembangan zaman,” ujarnya.
Konsep pagar kehidupan terdiri atas delapan pilar utama: moralitas, spiritualitas dan penghormatan leluhur, pengetahuan, ekonomi dan kemandirian, sosial-kemasyarakatan, kebudayaan, tanah dan hutan adat, serta kepemimpinan adat. Seluruh pilar ini akan menjadi dasar pendidikan karakter bagi generasi muda melalui Sekolah Adat Hugulama.
Festival juga disiapkan sebagai ruang belajar bersama bagi masyarakat, terutama anak muda, agar tidak tercerabut dari akar adatnya.
“Kami ingin memastikan bahwa anak-anak kita maju dalam pendidikan modern, tetapi tetap berpijak pada nilai adat,” katanya.
Selama satu bulan pelaksanaan, peserta akan mengikuti berbagai perlombaan dan pertunjukan budaya, di antaranya membuat kebun, mendirikan rumah adat tradisional, pagar honai, noken, kerajinan tangan, serta nyanyian tradisional (etai). Selain itu, akan ditampilkan dokumentasi sejarah, filosofi hidup, dan hikayat leluhur sebagai media edukasi publik.
Penyelenggara berharap festival ini mendapat dukungan gereja, pemerintah, lembaga pendidikan, serta tokoh adat untuk memperkuat keberlanjutan sekolah adat.
“Pagar kehidupan harus dibangun bersama keluarga, kampung adat, gereja, dan pemerintah,” tambahnya.
Dengan menggerakkan kembali nilai kerja keras, kejujuran, solidaritas, dan kecintaan terhadap tanah adat, penyelenggara yakin festival ini akan menjadi momentum kebangkitan budaya Hugula.
“Kalau kita tidak bangun pagar sekarang, kita bisa kehilangan arah di masa depan,” tegasnya.
Masyarakat dari berbagai kampung di Jayawijaya dan Papua Pegunungan diundang hadir menyaksikan langsung festival tersebut. “Ko tra datang, ko rugi. Sampai jumpa. Noth!” tutupnya.(*)
Pewarta: Soleman Itlay
