Wamena, nirmeke.com — Pengurus Sekolah Adat Hugulama, Kabupaten Jayawijaya, akan menggelar Festival Sekolah Adat Hugulama I Tahun 2026 pada Januari mendatang. Festival ini menjadi tonggak baru bagi enam sekolah adat di Lembah Hugulama yang selama beberapa tahun terakhir aktif menghidupkan kembali bahasa, budaya, serta pengetahuan lokal masyarakat Hugula.
Sejak tahun 2022, masyarakat adat di Kampung Yogonima, Distrik Itlay Hisage, rutin menggelar perayaan budaya tahunan sebagai bentuk syukur dan refleksi menjelang tahun baru. Dari perayaan itu lahirlah kesepakatan untuk mendirikan sekolah adat sebagai wadah belajar generasi muda Hugula.
Hingga kini, telah berdiri enam sekolah adat di tiga distrik berbeda, yakni: Distrik Itlay-Hisage: Sekolah Adat Santo Yohanis Pembaptis I Yogonima, Sekolah Adat Santo Yohanis Pembaptis II Sumunikama, dan Sekolah Adat Sagesalo Lukaken, Distrik Siep-Kosi: Sekolah Adat Sekan dan Sekolah Adat Sekan Dalam. Dan Distrik Walelagama: Sekolah Adat Walelagama.
Sekolah-sekolah adat ini didirikan sebagai “rahim kehidupan” masyarakat Hugula untuk mempelajari kembali bahasa, budaya, alam, serta nilai-nilai luhur di tengah derasnya arus globalisasi. Sejak awal 2024, para pengurus juga telah mendaftarkan sekolahnya ke Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya agar memperoleh Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN), sekaligus menjalin koordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Pegunungan.
Rangkaian Festival
Festival Sekolah Adat Hugulama I akan berlangsung pada 2–31 Januari 2026 di Kampung Yogonima, Distrik Itlay-Hisage. Kegiatan ini diisi dengan beragam perlombaan antar sekolah adat, di antaranya: Membuat rumah adat, berkebun, dan berburu, Anyaman noken dan gelang, Cerdas Cermat Budaya (CCB), Tarian dan nyanyian tradisional (Le Isa, Marigane, dll.), Cerita rakyat dan puisi rakyat, Pikon ane, lukisan, ukiran, serta kuliner dan busana tradisional.
Selain itu, festival juga akan menghadirkan pentas seni budaya, pasar murah, diskusi, lokakarya, dan pameran hasil bumi.
Kegiatan ini sepenuhnya digagas secara mandiri oleh masyarakat adat dan pengurus sekolah adat tanpa dukungan pihak luar. Tujuannya untuk membuka ruang ekspresi, refleksi hidup, serta memperkuat kesadaran kolektif dalam menjaga identitas budaya Hugula sekaligus memperkaya kebhinekaan Indonesia.
Sejumlah pihak telah mengonfirmasi kehadiran dalam festival ini, baik untuk merayakan maupun melakukan studi banding ke enam sekolah adat yang ada. Panitia berharap, dengan adanya gaung festival ini, pemerintah daerah dan pihak terkait dapat ikut memberikan dukungan, termasuk membantu penyelenggaraan lomba tradisional serta memberikan penghargaan bagi para pemenang. (*)
Pewarta: Soleman Itlay
