Oleh: Engwlberto Namsa
ASMAT — “Hari ini saya bersyukur kepada Tuhan. Akhirnya saya menemukan orang-orang asli Asmat yang selama ini saya cari-cari,” ujar saya pada Minggu, 7 September 2025.
Pencarian itu bukan sekadar nostalgia. Ini adalah upaya memperjelas dasar Gereja Katolik di Asmat—bukan hanya dari sisi misionaris Barat, tetapi juga tokoh-tokoh lokal yang membuka jalan bagi karya misi.
Nama para misionaris dan katekis dari luar Papua sudah sering kita dengar: Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville, MSC, Zegwaard, Jan Smit, dan lainnya. Namun nama para penerima misi—penduduk asli Asmat yang pertama kali menerima sakramen baptis, yang menjadi penunjuk jalan, tukang, guru, dan penolong—jarang sekali ditulis. Akibatnya, generasi muda kini sulit mengenal siapa nenek moyang mereka yang telah ikut meletakkan dasar Gereja Katolik di tanah ini.
Ziarah ke Syuru: Menemukan Jejak Pertama
Dorongan itu membawa saya ke Kampung Syuru, tempat di mana misionaris MSC pertama kali diterima masyarakat setempat. Di sana saya bertemu Bapak Imanuel Buyisau (Bapak Manu), tokoh generasi pertama yang kini menjabat Ketua Dewan Stasi Gereja Syuru.
Bersama beliau, saya berziarah ke berbagai lokasi bersejarah: rumah adat Jeuw, lokasi pos misi pertama, sekolah Katolik perdana, hingga pastoran awal. Di sanalah Pastor Gerardus Zegwaard, MSC, pada awal 1953 membangun relasi dengan masyarakat dan memulai pewartaan Injil.
Empat Tokoh Lokal, Dasar Gereja Katolik Asmat
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa ada empat tokoh kunci dari Asmat yang menjadi dasar berdirinya Gereja Katolik di wilayah ini:
- Dua penerima Pastor Zegwaard: Bapak CO dan Bapak FD.
- Dua penerima baptis pertama: Mama OCY dan WAB.
Nama lengkap mereka belum diungkapkan demi menghormati pertimbangan keluarga, namun akan dimuat secara resmi dalam buku sejarah yang sedang kami susun: “Sejarah Perkembangan Misi Katolik di Tanah Papua.”
Menariknya, sejarah keuskupan selama ini mencatat hanya satu baptisan pada 3 Februari 1953. Namun hasil penelusuran menunjukkan bahwa dua perempuan dari marga lokal dibaptis pada hari itu—sebuah koreksi penting bagi catatan sejarah.
Harapan untuk Gereja
Jika Santo Petrus menjadi dasar Gereja universal di Roma, maka Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville adalah peletak dasar misi Katolik di Papua, dimulai dari Sekru, Fakfak, pada 22 Mei 1894. Demikian pula, Pastor Zegwaard meletakkan dasar misi apostolik di Asmat pada pundak empat orang Asmat tersebut.
Mereka bukan sekadar penerima Injil, melainkan subyek misi—pendiri Gereja lokal bersama para misionaris. Karena itu, gereja perlu memberi penghargaan yang layak bagi mereka.
Saya berharap, selain menulis ulang sejarah dengan lebih lengkap, ke depan ada rekonsiliasi dan wisata religi di lokasi bersejarah ini. Ini bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi meneguhkan identitas iman umat Asmat hari ini.
Noth, Asmat – Senin, 8 September 2025
