Oleh: Engwlberto Namsa
Sekilas Kehadiran Misi Awal Katolik di Papua
Kehadiran misi Katolik di Papua berawal dari karya seorang misionaris Yesuit, Pater Le Cocq d’Armandville, SJ. Saat masih bertugas di Pulau Geser, Pater Le Cocq mendengar cerita-cerita tentang Pulau Papua dari pemerintah Belanda dan warga setempat.
Sebagai seorang misionaris yang tangguh dan pemberani—sering disamakan dengan Rasul Paulus—Pater Le Cocq memutuskan untuk melaksanakan misi ke Tanah Papua. Ia berangkat dari Geser menggunakan kapal laut dan pada 22 Mei 1894 untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Kampung Sekeru, Fak-Fak.
Setelah tiba, ia berusaha menjalin kontak dengan penduduk setempat. Sekeru saat itu bukanlah kampung besar; rumah-rumah warga berdiri jauh satu sama lain. Pater Le Cocq bahkan mendaki pegunungan untuk mencari penduduk, namun jarang bertemu orang. Malam harinya ia kembali ke pantai dan berjumpa dengan beberapa warga. Di situlah ia mulai berbicara tentang Tuhan dan karya keselamatan-Nya.
Hanya sehari di Sekeru, Pater Le Cocq sudah membaptis delapan anak, dan dalam sembilan hari berikutnya jumlah baptisan bertambah menjadi 65 orang. Selain di Sekeru, ia juga berkarya di Bomfia.
Sayangnya, karya misi Pater Le Cocq tidak berlangsung lama. Pada 27 Mei 1896, ia meninggal dunia setelah perahunya diterpa ombak besar di Pantai Kipia dan Mapar, Mimika. Saat itu ia memaksa pergi ke pantai untuk membayar utang kepada warga serta menjemput anak-anak yang akan dibawa ke Kapaur untuk sekolah.
Misionaris MSC dan Suster PBHK
Selama Perang Dunia II, orang Asmat mengalami pendudukan tentara Jepang. Perjumpaan dengan dunia luar membuat mereka mulai menuntut agar pemerintah membuka pos di wilayah mereka.
Sejak 1928, banyak orang Asmat muncul di pantai Mimika, menyebabkan keresahan di kalangan penduduk setempat. Pemerintah akhirnya menampung mereka di Yapero, di perbatasan Agats dan Timika, sekaligus membuka sekolah untuk anak-anak.
Tahun 1940, pemerintah mengutus pegawai Felix Maturbongs untuk menyiapkan tempat pembukaan pos pemerintah di Asmat. Namun karena perang dunia berkecamuk, tiga sekolah yang sempat dibuka ditutup kembali.
Pada 1950, Pastor G. Zegwaard, MSC, melakukan peninjauan ke Asmat, disusul Pastor A. Weling setahun kemudian. Mereka menempatkan katekis dari Mimika untuk membantu. Perjalanan mereka mengelilingi wilayah Asmat memakan waktu tujuh minggu dengan perahu dayung.
Tanggal 3 Februari 1953, Pastor Zegwaard dan Pastor Weling menetap di Kampung Syuru dan memulai karya pastoral. Jumlah penduduk Asmat saat itu diperkirakan sekitar 40.000 jiwa, menggunakan bahasa yang sama dengan beberapa dialek.
Pada 1 Februari 1954, baptisan pertama diadakan di Syuru dengan 54 orang muda menerima sakramen. Pada periode ini pula pemerintah membuka kantor KPS (Kepala Pemerintah Setempat) di Agats. Namun konflik antarsuku (perang saudara) masih sering terjadi, bahkan pada 1956 terjadi pembunuhan besar di Ayam yang menewaskan 30 orang Yipaier.
Misi Katolik terus berkembang dengan pembukaan tiga pusat misi:
- Syuru (Agats) pada 1953 oleh Pastor Zegwaard.
- Ayam dan Yamasy oleh Pastor Weling (1953 & 1956).
- Atsy pada 1956.
Pada tahun yang sama, tiga suster tiba untuk membantu karya pastoral.
Kehadiran Misionaris OSC dan Suster TMM
Tahun 1956, jumlah umat Katolik di Asmat telah mencapai 2.000 orang, sebagian besar anak-anak dan kaum muda. Ayam menjadi kampung pertama yang memiliki sekolah dasar bersubsidi. Para suster membuka asrama untuk anak perempuan dan poliklinik untuk merawat orang sakit.
Pada 15 Desember 1958, Ordo Salib Suci (OSC) datang menggantikan MSC dalam karya pastoral di Asmat. Sejak 1 November 1961, OSC mengambil alih seluruh wilayah secara penuh, meskipun MSC masih membantu khususnya di pantai Kasuari.
Para pastor OSC kemudian menyusun program kerja baru agar orang Asmat tidak tertinggal dari kemajuan zaman. Mereka membuka penggergajian kayu, mendirikan koperasi di 11 kampung, dan menjadikan paroki-paroki sebagai pusat pembinaan masyarakat.
Pada masa peralihan dari pemerintah Belanda ke Indonesia, terjadi tragedi: Pastor Yan Smit, OSC, ditembak mati oleh KPS W. Fimbay pada 28 Februari 1965 ketika sedang mengurus sekolah.
Tahun 1966, Suster TMM dari Ambon datang menggantikan Suster PBHK dari Merauke.
Akhirnya, pada 21 Agustus 1969, diumumkan bahwa Asmat menjadi keuskupan sendiri dengan uskup pertamanya Mgr. Alphons Sowada, OSC, yang telah berkarya di Asmat sejak 1961 dan membuka Paroki Saowa-Erma pada 1962.
Sumber:
- Keuskupan Agung Merauke, Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan, Merauke, 1995.
- Ikhtisar Kronologis Gereja Katolik Irian Barat, Jilid II.
- P. Treunschuh, OSC, Mengenal Daerah Asmat: An Asmat Sketch Book, Jilid I & II, 1970.
- R. Kuris, SJ, Sang Jago Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2001.
