Jayapura, nirmeke.com – Solidaritas Mahasiswa West Papua menggelar aksi mimbar bebas di Jayapura untuk mengecam kekerasan aparat terhadap rakyat Papua serta penahanan empat pimpinan Negara Republik Federal Papua Barat (NRFPB) di Sorong, Papua Barat Daya. Aksi ini digelar pada Selasa (2/9/2025) mulai pukul 09.00 hingga 14.00 WIT di kawasan Lingkaran Abepura.
Empat pimpinan NRFB yang kini berstatus tahanan politik (Tapol) ditangkap setelah mengantar surat permintaan dialog kepada pihak berwenang. Permintaan itu ditolak, dan mereka justru dijerat dengan pasal makar. Rencana pemindahan mereka ke Makassar pada 27 Agustus 2025 memicu gelombang protes di berbagai wilayah Papua.
Dalam pernyataannya, para mahasiswa menilai aparat kepolisian dan militer bertindak represif terhadap warga yang menyuarakan aspirasi.
“Rakyat Papua melakukan aksi damai menuntut pembebasan empat Tapol, tapi dihadapi dengan moncong senjata, penangkapan sewenang-wenang, bahkan penembakan terhadap massa aksi. Ruang demokrasi di Papua seolah hilang,” ujar salah satu orator aksi.
Menurut catatan mahasiswa, aksi protes sejak 27–29 Agustus 2025 di Sorong diwarnai penembakan, intimidasi, hingga penyisiran ke rumah-rumah warga. Sebanyak 36 orang dilaporkan ditahan tanpa prosedur hukum yang jelas.
Aksi mimbar bebas di Abepura dihadiri puluhan mahasiswa dari berbagai organisasi di Jayapura. Mereka secara bergantian menyampaikan orasi mengecam tindakan represif aparat di Sorong.
Para mahasiswa menilai militerisme telah menimbulkan trauma bagi masyarakat Papua. “Negara Indonesia mengaku negara hukum, tapi aparat justru melanggar hukum dengan tindakan kekerasan terhadap rakyat sendiri,” tegas salah satu perwakilan organisasi mahasiswa.
Aksi mimbar bebas berjalan damai dan tertib sesuai selebaran pemberitahuan yang telah disebarkan sebelumnya.(*)
Pewarta: Agus Wilil
