Oleh: Akia Wenda
Wamena — Di jantung Pegunungan Jayawijaya, berdiri Hutan Habema, benteng hijau yang dahulu menjadi kebanggaan Papua. Hutan ini bukan sekadar bentangan pohon dan tanah, tetapi rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna, penjaga keseimbangan iklim, sekaligus sumber kehidupan bagi masyarakat adat. Namun, wajah Habema kini kian pudar. Penebangan liar dan eksploitasi sumber daya alam perlahan menggerus keindahan dan fungsi ekologisnya.
Perjalanan yang Tak Lagi Sama
Perjalanan sejauh 40 kilometer dari Kota Wamena menuju Danau Habema dulunya penuh pesona. Suara burung saling bersahutan, udara dingin memeluk setiap langkah, dan pepohonan menjulang menciptakan lorong hijau alami yang memanjakan mata.
Kini, keheningan menyelimuti. Burung-burung menghilang, udara sejuk yang menjadi ciri khasnya terasa memudar, dan pepohonan yang dulu menjadi perisai gunung kini hanya tersisa sebagian. Perubahan suhu ini bukan sekadar fenomena alam. Hilangnya hutan berarti hilangnya penyeimbang iklim, memicu potensi bencana seperti tanah longsor. Beberapa ruas jalan menuju Habema bahkan mulai retak, pertanda rapuhnya tanah tanpa pelindung akar pepohonan.
Camp Jalan Berubah Fungsi
Di sepanjang jalur menuju Habema, terdapat camp yang awalnya dibangun untuk para pekerja jalan. Kini, bangunan-bangunan tersebut dimanfaatkan warga sebagai tempat singgah sementara ketika mereka mencari kayu. Kayu-kayu itu ditebang, dipotong menjadi balok dan papan, lalu dijual sebagai bahan bangunan. Aktivitas tanpa pengawasan ini mempercepat hilangnya hutan.
Lebih dari Sekadar Pohon
Hutan Habema adalah sumber oksigen, rumah bagi burung dan satwa liar, gudang tanaman obat, hingga pusat spiritual masyarakat adat. Namun ironisnya, kawasan yang dulunya dikelola masyarakat adat kini masuk dalam Taman Nasional Lorentz yang berstatus kawasan konservasi negara. Alih-alih terlindungi, banyak bagian hutan justru luput dari perhatian.
Keajaiban Alam yang Terlupakan
Habema berada di kaki Gunung Trikora, gunung bersalju yang menjadi ikon Papua. Di dalamnya, Danau Habema membentang tenang, dikelilingi pepohonan dan menjadi habitat hewan endemik. Kawasan ini sejatinya bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga laboratorium alam dan simbol kekayaan budaya Papua. Kehilangan hutan berarti kehilangan warisan leluhur yang selama berabad-abad menjaga tanah ini.
Seruan untuk Melindungi
Hutan Habema adalah masa depan. Melindunginya berarti menjaga kehidupan, budaya, dan identitas Papua. Pemerintah, masyarakat, dan generasi muda memikul tanggung jawab yang sama: memastikan Habema tetap hidup.
Mari menjadikan Habema bukan sebagai kisah kehilangan, melainkan contoh sukses pelestarian alam. Jaga hutan, jaga Papua.(*)
Wamena, 28 Agustus 2025
)* Penulis: Ketua Departemen Pemuda Baptis West Papua, Tinggal di Wamena
