Setiap bulan Agustus, Lembah Baliem di Wamena berubah menjadi panggung raksasa bagi kebudayaan Papua Pegunungan. Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) bukan hanya pesta tahunan yang memikat ribuan pasang mata, tetapi juga arena sakral yang menyatukan sejarah, tradisi, dan identitas berbagai suku terutama dari Hubula,
Atraksi perang kolosal, prosesi Bakar Batu, karapan babi, hingga musik pikon, bukan sekadar tontonan. Ia adalah narasi hidup tentang bagaimana masyarakat dataran tinggi menjaga memori leluhur di tengah gempuran modernisasi. Dalam setiap tombak yang dilempar, setiap nada pikon yang mendayu, terselip pesan: “Kami ada, kami bertahan.”



























