Tiyom, nirmeke.com – Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya menggelar Festival Budaya Lanny Jaya (FBL) ke-4 selama dua hari, pada 4–5 Agustus 2025. Kegiatan ini dipusatkan di lingkungan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lanny Jaya, Tiyom.
Mengusung tema “Jaga Budaya, Budaya Jaga Kita”, festival ini menekankan pentingnya pelestarian budaya dan identitas masyarakat Lani. Ketua panitia, Nut Kogoya, mengatakan kegiatan ini merupakan wujud nyata menjaga warisan budaya agar tidak punah.
“Kami targetkan 1.000 peserta, tapi karena keterbatasan kondisi dan sumber daya, tahun ini kami hanya libatkan perwakilan dari tiga distrik, yakni Pirime, Melagi, dan Tiomneri,” kata Kogoya kepada wartawan di Tiyom.
Ia menjelaskan, komunitas yang terlibat memamerkan hasil karya tangan seperti noken rajutan mama-mama asli Lani, madu hutan, kopi lokal, dan bunga anggrek.
“Fokus kami kali ini pada produk unggulan seperti anggrek, noken, dan kopi, yang terinspirasi dari desain batik khas Lani,” tambahnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Lanny Jaya menjelaskan, semula panitia menargetkan 20 stand, namun karena keterbatasan logistik, hanya empat stand yang diizinkan beroperasi.
“Empat stand yang tersedia antara lain Woromo Lingga (industri minyak dan tepung), madu, kopi, anggrek, dan noken hasil rajutan mama-mama,” ujarnya.
Kogoya menambahkan, sekitar 20 janda dari wilayah Beam hingga Kwiyawagi dilibatkan dalam pameran noken. “Sebelumnya pemerintah juga telah memberikan bantuan dana hibah kepada mama-mama untuk mendukung produksi mereka, dan festival ini menjadi ajang promosi hasil karya tersebut,” jelasnya.
Pada hari kedua, festival diisi dengan berbagai atraksi budaya dari empat penjuru Lanny Jaya, pentas seni, kuliner khas, serta lomba api tradisional. Menurut panitia, fokus festival tidak hanya pada hiburan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi kreatif masyarakat.
“Festival ini pesta rakyat. Apa pun bentuk karyanya, selama bernuansa budaya, akan kami tampilkan. Kita ingin mendorong industri kreatif lokal dengan kecerdasan dan kreativitas orang Lani,” kata Kogoya.
Dalam sambutannya, Bupati Lanny Jaya, Aletinus Yigibalom, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai festival ini sebagai momentum menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia dan sekaligus promosi kearifan lokal Lanny Jaya.
“Biasanya kami ikut Festival Lembah Baliem, tapi tahun ini kami selenggarakan lebih dulu. Terima kasih kepada semua yang hadir, termasuk tamu dari berbagai daerah,” ujar Yigibalom.
Ia juga menyebut Lanny Jaya sebagai wilayah unik yang berada di ketinggian, yang kerap disebut sebagai “Negeri di Atas Awan”.
Mengakhiri sambutannya, Bupati mengajak masyarakat untuk menjaga bahasa ibu yang mulai tergerus. Ia juga mendorong Dinas Pendidikan untuk memasukkan bahasa daerah ke dalam kurikulum sekolah.
“Bahasa ibu kita perlahan mulai hilang. Saya minta dinas pendidikan mengupayakan agar bahasa daerah bisa diajarkan kepada generasi muda,” tegasnya.(*)
Pewarta: Yance Wenda
Editor: Aguz Pabika
