Wamena, nirmeke.com — Saat ribuan warga Kabupaten Jayawijaya menggelar doa bersama untuk perdamaian dan rekonsiliasi, warga Kampung Ibele di Distrik Ibele justru diliputi kecemasan. Pagi ini, warga setempat menemukan satu butir amunisi kaliber jenis M16 yang diduga milik anggota TNI non-organik.
Penemuan ini memperpanjang kekhawatiran warga yang sejak beberapa pekan terakhir melaporkan kehadiran aparat militer di wilayah hutan sekitar kampung mereka. Ini merupakan temuan amunisi kedua dalam beberapa waktu terakhir, setelah sebelumnya kejadian serupa terjadi di wilayah Opatima.
Menurut keterangan warga, sejak Selasa (29/7), sejumlah anggota TNI terlihat memasuki hutan di sekitar Kampung Papisin dan wilayah sekitarnya. Di lokasi tersebut, warga menemukan beberapa jejak keberadaan militer, seperti bekas tempat tidur, bungkus makanan, dan sisa-sisa aktivitas lainnya.
“Tadi pagi ditemukan lagi satu peluru. Warga sempat menyerahkannya kepada anggota TNI non-organik yang tinggal di distrik. Ketika ditanya, mereka membenarkan bahwa amunisi itu milik mereka,” ujar Iberanus Hilapok koordinator Forum Peduli Masyarakat Peleima di Kabupaten Jayawijaya, mewakili warga.
Warga juga melaporkan adanya dua kendaraan TNI yang keluar dari hutan pada malam hingga dini hari tadi, sebelum penemuan amunisi dilakukan.
Situasi ini membuat masyarakat Kampung Peleima dan sekitarnya merasa terancam, bahkan ketakutan untuk beraktivitas seperti biasa. Mereka menilai kehadiran militer non-organik justru mengganggu ketenteraman dan membuat situasi semakin tidak stabil, terlebih pada momen penting seperti hari doa rekonsiliasi seluruh warga Jayawijaya.
“Ini sudah terjadi dua kali. Kami mohon Bapak Bupati dan Wakil Bupati Jayawijaya segera menarik TNI non-organik dari Distrik Ibele. Kami juga mohon kepada Bapak Dandim 1702/Jayawijaya untuk mendengar suara kami,” tegas Iberanus perwakilan warga Peleima.
Warga menyampaikan bahwa gangguan ini telah berlangsung lebih dari satu bulan. Dalam suasana doa dan harapan untuk damai, mereka justru merasa tidak aman di tanah sendiri. (*)
Pewarta: Aguz Pabika
