Ditulis oleh: Akia Wenda
Di sebuah gang kecil bernama Damai, di tengah kota Wamena yang sering dikaitkan dengan konflik dan keterbatasan, sekelompok anak-anak berdiri tegap dengan seragam putih-merah. Mereka bukan sekadar siswa biasa—mereka adalah simbol harapan dari tanah yang lama terbungkam oleh kekerasan.
Untuk pertama kalinya, SD Kristen Duma, sebuah sekolah swasta kecil di bawah naungan Yayasan Alfera Papua, meluluskan 17 siswa angkatan pertamanya. Mayoritas dari mereka adalah anak-anak pengungsi dari Kabupaten Nduga, yang sejak 2018 harus meninggalkan kampung halaman akibat konflik berkepanjangan antara TNI dan TPNPB.
Dari Pengungsian Menuju Bangku Sekolah
Konflik yang memanas sejak tujuh tahun lalu memaksa ribuan warga Nduga mengungsi ke Jayawijaya. Dalam pelarian itu, banyak anak kehilangan akses terhadap pendidikan. SD Kristen Duma hadir sebagai respons kemanusiaan, bukan sekadar lembaga pendidikan.
Sebagian besar anak-anak datang tanpa kemampuan dasar—tak mengenal huruf, belum memahami Bahasa Indonesia, bahkan tak terbiasa duduk tenang dalam ruang belajar. Tapi guru-guru di sekolah ini menerimanya dengan tangan terbuka dan hati lapang.
“Usia mereka bervariasi, kemampuan pun berbeda-beda. Tapi kami percaya, setiap anak bisa belajar kalau diberi kasih,” kata Kepala Sekolah Lidia Tabuni, mengenang awal mula perjuangan mereka.
Belajar di Bawah Pohon
Tanpa gedung sekolah yang layak, kegiatan belajar mengajar dilakukan di bawah naungan pohon rindang, atau di dua ruangan kecil bekas TK Kristen Duma. Tidak ada papan tulis digital, tidak ada meja belajar berderet rapi. Tapi semangat belajar begitu kuat.
Guru-guru di SD Kristen Duma adalah para relawan dan guru honorer yang tak menerima gaji. Satu-satunya bayaran yang mereka kantongi: senyum anak-anak dan secercah harapan yang mulai menyala.
Ujian Akhir, Ujian Kehidupan
Berkat ketekunan guru dan kegigihan siswa, 17 anak mengikuti ujian akhir di sekolah mitra yang diakui pemerintah. Hasilnya: semua dinyatakan lulus. Tangis haru pun pecah dalam acara pelepasan sederhana yang sarat makna.
“Mereka dulu datang tanpa bisa membaca, menulis, atau berhitung. Tapi hari ini, mereka lulus dengan air mata bahagia,” ujar Lidia dengan suara bergetar.
Puisi “Guruku Pahlawanku” dan lagu “Kini Tiba Saatnya Kita Berpisah” menggema di antara isak tangis para orang tua, guru, dan tamu undangan. Di antara keterbatasan, lahirlah satu generasi baru yang berhasil menembus batas.
Gedung Belum Rampung, Mimpi Belum Padam
Saat ini, Yayasan Alfera Papua tengah membangun gedung sekolah dua lantai dengan enam ruang kelas. Namun, proses pembangunan baru mencapai 75 persen karena keterbatasan dana.
“Kami tidak punya banyak uang. Tapi kami punya hati yang besar untuk generasi ini,” kata Dius Wenda, Penasehat Yayasan Alfera, dengan mata yang tak mampu menyembunyikan kebanggaannya.
Apresiasi Pemerintah dan Pesan untuk Masa Depan
Kalep Asso, perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya, turut hadir dan menyampaikan apresiasinya. Ia menyebut SD Kristen Duma sebagai bukti kuat bahwa peran masyarakat sipil sangat penting dalam menyelamatkan masa depan pendidikan anak-anak Papua.
Dalam khotbah perpisahan, Vero Tabuni menyampaikan pesan yang menyentuh:
“Masa depan sungguh ada. Harapanmu tidak akan hilang. Tinggalkan masa lalu. Kejarlah mimpimu demi negerimu.”
Sekolah yang Menjadi Simbol Kemanusiaan
SD Kristen Duma bukan sekadar sekolah. Ia adalah tempat pulih, tempat bangkit, dan tempat tumbuhnya cahaya dari reruntuhan luka. Dalam keterbatasan, cinta bekerja diam-diam, dan hasilnya terlihat dalam 17 senyum yang kini memandang dunia dengan penuh harapan.
“Selamat jalan anak-anak Papua. Teruslah nyalakan pelita masa depan kalian.”
)* Ketua Departemen Pemuda Baptis West Papua & Jurnalis di Wamena
