Oleh: Maiton Gurik (Pegiat Literasi Papua)
Jayapura, 21 September 2024
Dalam diskursus literasi dan kemanusiaan, nama Brigadir Jenderal Egianus Kogoya—komandan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM)—selalu hadir dengan kontroversi. Namun di balik narasi kekerasan yang melekat padanya, terdapat dimensi lain yang patut dibahas: pemahamannya tentang hukum humaniter dan hak asasi manusia.
Mengacu pada prinsip hukum humaniter internasional, subjek yang wajib dilindungi dalam konflik bersenjata adalah warga sipil, tenaga medis, relawan kemanusiaan, pengungsi, tahanan, serta korban luka dan sakit. Dalam konteks ini, langkah Egianus Kogoya yang membebaskan pilot Susi Air asal Selandia Baru, Philip Mark Mehrtens, setelah ditahan selama lebih dari satu tahun, patut dicermati dari sudut pandang kemanusiaan.
Literasi dan Kemampuan Mengelola Isu
Egianus bukanlah sosok dengan latar pendidikan tinggi—ia disebut hanya menyelesaikan pendidikan setara SMA. Namun demikian, kemampuannya membaca situasi lokal, nasional, hingga global menunjukkan adanya literasi praktis yang hidup. Ia tampak memahami posisi simbolik dari tahanan asing dalam konflik Papua dan memanfaatkannya sebagai alat komunikasi politik dan diplomasi.
Kita dapat merujuk pada pemikiran Frederick Douglass, tokoh pembebasan kulit hitam di Amerika Serikat, yang pernah berkata: “Begitu Anda belajar membaca, Anda akan selamanya bebas.” Dalam hal ini, “membaca” bukan hanya dalam arti harfiah, tetapi juga membaca keadaan sosial, politik, dan kemanusiaan.
Kebebasan yang Lebih Bernilai dari Materi
Tindakan Egianus yang membebaskan sang pilot bukan hanya soal strategi politik, tetapi juga menjadi simbol bahwa nilai kebebasan manusia lebih tinggi daripada kepentingan material. Kebebasan adalah hak dasar yang melekat pada setiap manusia dan harus dijaga oleh siapa pun, termasuk oleh pihak yang sedang berkonflik sekalipun.
Tentu saja, pembebasan itu tidak serta-merta menghapus seluruh pelanggaran hukum atau kekerasan yang terjadi sebelumnya. Namun di balik tragedi, kita bisa menengok ruang refleksi: bahwa pemahaman tentang hak hidup dan kebebasan masih hidup dalam diri seorang pemimpin gerilyawan seperti Egianus Kogoya.
Sebagai penutup, kita bisa belajar bahwa dalam setiap konflik, selalu ada ruang untuk nilai-nilai kemanusiaan. Kebebasan bukan hanya hak, tetapi juga tanggung jawab untuk menghormati kebebasan orang lain.
Salam literasi!
