Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
  • Berita Papua
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • Kabupaten Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Alasan Pelajar di Papua Pegunungan Tolak Makan Bergizi Gratis
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
  • Berita Papua
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • Kabupaten Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Catatan Aktivis Papua > Alasan Pelajar di Papua Pegunungan Tolak Makan Bergizi Gratis
Catatan Aktivis PapuaHeadline

Alasan Pelajar di Papua Pegunungan Tolak Makan Bergizi Gratis

admin
Last updated: August 25, 2025 10:59
By
admin
Byadmin
Follow:
11 months ago
Share
5 Min Read
Alasan Pelajar di Papua Pegunungan Tolak Makan Bergizi Gratis - Grace Amelia/Nirmeke
SHARE

Oleh: Victor Yeimo

Daftar Isi
Aksi Tolak Program MBG Oleh Pelajar di PapuaPelajar Papua Trauma Dengan Militer
Iklan Nirmeke

Penjajah di berbagai belahan dunia telah menggunakan makanan sebagai senjata untuk membunuh, melemahkan, dan menundukkan bangsa yang mereka jajah. Di Kanada, 1940-an – 1950-an, penjajah memaksa anak-anak sekolah di asrama makan makanan yang penuh zat kimia. Mereka bilang itu “makanan sehat,” tapi itu membuat anak-anak gizi buruk, lemah, sakit, dan banyak mati.

Selama perang Iran-Irak, ada laporan pasokan susu bubuk yang diberikan kepada anak-anak di sekolah-sekolah di Irak telah terkontaminasi dengan zat beracun. Akibatnya, ribuan anak mengalami keracunan massal, banyak yang meninggal atau mengalami gangguan kesehatan permanen.

Di Afrika Selatan (1980-an, dibawah rezim apartheid, anak-anak sekolah kulit hitam diberi makanan yang telah dicampur dengan zat kontrasepsi dan bahan kimia lain yang melemahkan sistem kekebalan tubuh mereka. Ini dilakukan untuk mengurangi pertumbuhan populasi kulit hitam dan menjaga dominasi kolonial kulit putih.

Di Afghanistan, anak-anak dan pejuang diberikan makanan gratis yang ternyata sudah diracuni oleh Uni Soviet. Setelah mereka makan, tubuh mereka melemah dan banyak yang mati perlahan-lahan.

Sejarah-sejarah diatas mengajarkan bahwa penjajah tidak pernah memberi makan tanpa tujuan. Anak-anak sekolah juga menjadi target karena mereka adalah masa depan dari bangsa yang ingin ditundukkan penjajah.

Sepanjang sejarah, penjajah selalu datang dengan dua wajah, satu tangan menindas, tangan lainnya menawarkan “kebaikan.” Mereka membunuh, merampas, dan menindas, tetapi di saat yang sama, mereka membangun jalan, sekolah, rumah sakit, dan membagikan makanan. Ini bukan karena mereka peduli, tetapi karena mereka ingin memastikan bahwa kita tetap tunduk dan bergantung kepada mereka.

Baca Juga:  Ini Temuan Komnas HAM Tentang Polemik Lokasi Kantor Gubernur di Wamena

Soekarno pernah bilang “Jangan sekali-kali percaya pada manisnya kata-kata penjajah. Mereka hanya ingin kita lupa bahwa kita masih dijajah”. Penjajah memberimu makan gratis tapi tidak pernah memberi pendidikan gratis apalagi menawarkan pendidikan yang membebaskan. Ini adalah siasat licik yang telah digunakan penjajah sepanjang sejarah untuk menguasai tubuh, pikiran, dan tanah air kita.

Artinya, ini sama persis dengan penjara. Disana kita makan gratis, tidur bangun dijaga dalam kurungan gratis, tapi tanpa memiliki kebebasan atau tetap dalam kurungan penjajah.

Aksi Tolak Program MBG Oleh Pelajar di Papua

Trada yang perlu dipersoalkan dari aksi tolak Makan Bergizi Gratis (MBG) dari seluruh pelajar di seluruh Papua. Penolakan mereka jelas: program ini melibatkan TNI. Dorang juga punya alternatif jelas: seharusnya pendidikan gratis, bukan makan gratis.

Kalian-kalian yang ribut itu mending dukung para pelajar ini. Aksi mereka itu menunjukkan sikap kritis mereka. Aksi mereka itu menunjukkan mereka sadar dengan penindasan, dari pada jaman kalian yang sekolah-pulang, kos-kampus saja tanpa menyadari penindasan yang sedang terjadi.

Kita tidak tahu ke depan mereka akan seperti apa, akan jadi apa, tapi kebangkitan ini–harus dilihat dan didukung–sangat penting.

Baca Juga:  Majelis Rakyat Papua Pegunungan Serukan Pemilu Damai untuk 8 Kabupaten pada Pilgub dan Pilbup 27 November 2024

Pelajar Papua Trauma Dengan Militer

Tadi anak-anak pelajar dari pengungsi daerah konflik itu bilang dalam aksi demo tolak MBG:

“Mereka paksa kami makan makanan yang dimasak oleh tangan-tangan militer penjajah yang penuh darah, darah keluarga kami yang telah mereka bantai! Kami dipaksa makan makanan yang penuh rasa amis darah orang-orang yang kami cintai, darah yang mereka tumpahkan demi mempertahankan kekuasaan mereka.”

Sa kastau: “Mengapa kalian dipaksa? Karena ini bukan tentang memberi makan, tapi tentang mengendalikan pikiran dan jiwa kalian dengan tangan besi! Membuat kalian tergantung. Secara psikologis, program ini, merusak kemampuan kalian untuk mengembangkan rasa otonomi, kompetensi, dan keinginan untuk berjuang.”

Mereka ingin kalian menjadi generasi yang dimanja, yang hanya tahu terima tanpa usaha, yang kehilangan daya produktivitas karena semua hal dikelola dan dikendalikan oleh penjajah! Makanan jadi, pendidikan terbatas, kesehatan mahal, semua itu dibuat untuk membuat generasi Papua tetap lemah dan bergantung.

Aksi penolakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua secara sadar akan terus ditolak oleh pelajar di Papua di seluruh wilayah tanah Papua. Sebelumnya aksi penolakan Program MBG ini dilakukan oleh Pelajar tingkat SD, SMP dan SMA di Yahukimo pada 2 Februari 2025. Hari ini, Senin (17/02/2025) di Momentum yang sama, aksi penolakan Program MBG dilakukan di beberapa kabupaten diantaranya Kabupaten Jayawijaya, Yalimo, Dogiyai, Nabire, Timika dan Kota Jayapura. (*)

)* Aktivis Pro Papua Merdeka 

Related

You Might Also Like

Peringati Rasisme dan New York Agreement, KNPB Akan Mobilisasi Rakyat Papua Turun Jalan

Membaca Analisa Dr. Velix Wanggai 2017: Pemilu 2024 Penentu Eksistensi OAP Lapago Papua Pegunungan

Politik Uang Merusak Nilai Demokrasi Di Papua

Sekolah Adat Hugula Akan Dibuka di Kampung Yogonima, Papua Pegunungan

Meski Tidak Terbukti Makar, Viktor Yeimo Divonis Penjara Delapan Bulan

TAGGED:Pelajar di Papua Pegunungan Tolak Makan Bergizi GratisProgram Makan Bergizi Gratis (MBG)

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link
Previous Article INSOS BAWA MELEO PU CINTA PERGI
Next Article Mahasiswa Puncak di Gorontalo Desak Panglima TNI Adili Pelaku Penembakan Terina Murib
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Iklan dari Nirmeke.com
Ad image

Berita Hangat

Wapres Gibran Kunjungi Pasar Potikelek Wamena, Mama-Mama Papua Sampaikan Aspirasi Modal hingga Keamanan
Ekonomi & Bisnis Infrastruktur
1 day ago
Simbol Sakral Bukan Kostum Politik
Artikel Catatan Aktivis Papua
1 day ago
GPMR-I Tuntut Bupati Intan Jaya Temui Massa Aksi, Soroti Krisis Kemanusiaan dan Darurat Militer
Polhukam Siaran Pers Tanah Papua
2 days ago
Relawan Rampai Nusantara Papua Minta Wapres Gibran Buka Kembali Penerbangan Internasional Bandara Biak
Infrastruktur Tanah Papua
2 days ago
Baca juga
Catatan Aktivis PapuaKesehatan

Pentingnya Proteksi Dan Konservasi Kali Baliem Dari Pendangkalan Sampah

2 years ago
Catatan Aktivis PapuaPendidikanSastra

Pentingnya Literasi Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Pemuda Papua

2 years ago
HeadlineTanah Papua

Desak Uskup Mandagi Lakukan Klarifikasi, Umat Katolik Buat Aksi Spontan di Halaman Gereja

1 year ago
HeadlineTanah Papua

Vonis Lukas Enembe Akan Dibacakan 9 Oktober Mendatang

2 years ago
HeadlineTanah Papua

Yeimo: Penyerangan Kantor Jubi Bentuk Pembungkaman Ruang Demokrasi Suara Orang Papua

1 year ago
Catatan Aktivis PapuaHeadline

Kata “Mereka” Untuk Orang Asli Papua

3 years ago
HeadlineTanah Papua

Kantor Redaksi Jubi Dilempari Bom Bolotov, 2 Mobil Terbakar

1 year ago
Catatan Aktivis Papua

Aktivis yang Idealis, Harus Mandiri

3 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?