Oleh: Maryam Yanengga
Awal pertemuan kisah cinta yang begitu indah, dengan segalah canda tawa, senyumu, pelukan, kecupan manis dan manjamu membuat ku hanyut dalam gelapnya asmara cinta mu, kau mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya, dengan ketulusan hati mu membuat aku nyaman dalam pelukanmu, kau mengajarkanku arti hidup yang sesungguhnya, banyak hal yang aku belajar dari mu. Banyak hal yang kita lalui bersama entah itu susah maupun senang, banyak hal-hal konyol-konyol dan canda tawa kita lakukan bersama.
Kau mencintai-ku seperti seorang ibu mencintai anaknya, impian kita tiba-tiba sirnah karena kau lebih memilih mereka yang ber-uang dari pada aku yang seorang anak yatim piatu yang memilih nasibnya sendiri tampa membebankan orang lain.
Kenangan kita akan selalu di kenang di dalam sanubari ini, kecupan hangat mu di kala pagi dan peluk mu di kala malam tidak akan bisa aku lupakan dari dalam benak ku, karena cinta dan ketulusan mu membuat ku sangat di hargai dan di sayang. Nimbirak norak nen kar ti pilir-pilir an niniki andi, yabu eruok ow time Allah Karum Wa.
Mencintai mu adalah anugerah terindah yang pernah sang pencipta titipkan buat ku. Aku telah melakukan semua yang terbaik buat mu dan sebisa ku, tampa harus berpura-pura menjadi orang lain agar terlihat baik di depan mu. Kau pergi dari hidup ini tampa kepastian yang jelas seakan-akan kau menggangap cinta dan ketulusan ku padamu hanya permainan semata. Terlalu cepat kau melupakan aku setelah banyak kisah indah yang kita ukir bersama.
Jikalau benar-benar saya yang bersalah, saya mau memperbaiki itu semua tidak ada tempat bersandar yang tepat lagi untuk aku mencurahkan semua isi hati, dan kesedihan ini biarkan semuanya ku serahkan kepada sang pencipta yang menjadi tempat sandaran dan tempat curhat ternyaman. Aku terluka dan aku sembuhkan sendiri, aku memberi ruang untuk tinggal, tetapi kamu memilih memaksa menepi, aku bertahan meski kau berusaha merobohkan tembok kita bangun dan hingga akhirnya aku sadar aku mencintai orang yang salah, ketulusan dan kasih sayang ku benar-benar tidak berharga di mata mu. (*)
