Wamena, nirmeke.com – Namatus Gwijangge Anggota DPR Papua Komisi V menegaskan sejak Desember 2018 sampai dengan Juni 2024, kurang lebih 7 tahun terakhir masyarakat Nduga ada dibawah intimidasi bayang-bayang konflik berkepanjangan antara Militer Indonesia dan TPNPB-OPM.
Hal tersebut disampaikan Namatus gwijangge anggota DPR Papua Komisi V saat di hubungi telepon seluler pada Kamis (13/6/2024) kemarin.
Ia mengatakan konflik bersenjata yang terjadi di Nduga melibatkan Aparat keamanan TNI/Polri versus TPNPB-OPM dan juga konflik horizontal perang internal antar suku melibatkan sesama saudara dan keluarga.
“Pada umumnya seluruh masyarakat Nduga berada di bawah depresi akut, karena dari tahun ke tahun mereka berada dibawah tekanan, intimidasi dan juga ikut mengalami serta merasakan konflik berkepanjangan. Sesungguhnya mereka tidak berada di bawah kata damai, aman dan sejahtera,” ujarnya.
Konflik yang berkepanjangan di kabupaten Nduga membuat masyarakat takut, trauma, depresi karena setiap hari yang selalu masyarakat dengar dan liat itu bunyi tembakan senjata api, pembunuhan, perang suku.
“Hampir semua masyarakat Nduga berada di bawah bayang-bayang tekanan dan ketakutan yang membuat mereka bertindak diluar nalar hukum sehingga mudah melakukan tindakan melawan hukum. Situasi saat ini membuat masyarakat tidak bisa berpikir jernih lagi, Masyarakat Nduga saat ini dalam bayang-bayang intimidasi membuat mereka mudah depresi karena konflik yang berkepanjangan,” ujarnya.
Namatus, melihat masyarakat Nduga sangat rentan dengan depresi, hari ini mereka membutuhkan sentuhan-sentuhan kasih dari semua pihak serta memberikan perlindungan dan jaminan keamanan bagi masyarakat untuk kembali ke kampung masing-masing agar mereka bisa beraktifitas seperti sedia kala.
“Hampir kebanyakan masyarakat mengungsi dari kampung-kampung ke kota mencari perlindungan namun mereka tidak terbiasa hidup di kota dan susah menyesuaikan diri. Mau balik ke kampung takut karena konflik bersenjata masih saja terus terjadi. Tinggal di kota juga masih terjadi perang suku sesama mereka sehingga membuat mereka depresi sehingga seakan-akan mereka rasa orang perang dan baku bunuh anggap sesuatu hal yang biasa, ini yang sangat kami takutkan,” ujarnya.
Sehingga Anggota DPR Papua ini berharap ada intervensi dan perhatian serius dari Pemerintah Pusat, Provinsi dan juga Pemda Nduga untuk mengatasi seluruh masalah yang terjadi di Nduga. Ia juga minta bantuan kemanusiaan dari semua pihak terutama LSM, NGO, serta lembaga non Pemerintah untuk melindungi dan menyelematkan masyarakat Nduga.
“Perlu juga dilakukan rekonsiliasi total dalam penyelesaian konflik berkepanjangan di Nduga melibatkan semua pihak baik Forkopimda, tokoh adat, tokoh gereja, tokoh perempuan dan tokoh pemuda agar Nduga bisa aman dan damai seperti dulu lagi,” harapnya. (*)
Pewarta: Liwan Wenda
Editor : Grace Amelia
