Wamena, nirmeke.com – Menjelang Pleno tingkat kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan di Wamena telah meresahkan warga masyarakat, pasalnya para Caleg membawa masa saat kegiatan Pleno berlangsung dilengkapi alat tajam seperti Panah, Parang dan juga Pedang panjang mirip Samurai.
Beberapa titik yang menjadi tempat kegiatan Pleno berlangsung dipadati massa dari masing-masing Caleg dengan membawa Sajam dan dijaga ketat oleh aparat keamanan Brimob dan Polisi.
Menangapi situasi terkini kota Wamena, Isak Wetipo Mantan Sekjen Pemuda Adat Papua meminta semua pihak dari masing-masing pendukung Caleg untuk menahan diri dan turut ikut menjaga Kamtibmas di kota Wamena sebagai ibukota Induk Provinsi Papua Pegunungan.
“Situasi Kamtibmas di Wamena mulai tidak kondusif akibat masa pendukung Caleg yang membawa senjata tajam berupa pisau panjang berbentuk samurai yang dibuat dari bar sensor, kapak, parang dan juga panah (Jubi) di semua mata jalan dalam kota,” kata Wetipo.
Situasi ini, menurut Wetipo membuat warga masyarakat yang beraktivitas semakin menjadi takut.
“Mereka yang pegang alat tajam ini, kami sesama Orang Asli Papua saja takut apalagi masyarakat Nusantara, pasti mereka juga lebih takut lagi untuk beraktifitas. Situasi ini juga membawa kekhawatiran kami antra kelompok A dan B seandainya terjadi salah paham tentang politik bisa menimbulkan konflik horizontal,” tuturnya.
Ia berharap masing-masing Caleg untuk tidak mengorbankan masyarakatnya (masa) hanya karena politik praktis yang kapan saja bisa berubah.
“Artinya kita kembali berkebun seperti biasa terutama untuk masyarakat kabupaten Jayawijaya dan kabupaten tetangga bisa beraktivitas seperti biasa dan ketua Partai dan Caleg bisa arahkan basis kembali atau menahan diri sambil menunggu hasil dari KPU masing-masing kabupaten,” kata Wetipo.
Ia jua memohon kepada aparat keamanan Brimob dan Polisi bisa sita alat-alat tajam yang berhamburan kota Wamena. Ini menggangu kenyamanan warga lain yang sedang beraktifitas, baik mereka yang bekerja di kantor Dinas, anak sekolah, pedagang dan juga mama-mama Papua yang berjualan di pasar. (*)
