Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
  • Berita Papua
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • Kabupaten Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Memikirkan Jalan “Lepas” dari Cengkeraman Oligarki
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
  • Berita Papua
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • Kabupaten Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Editorial > Memikirkan Jalan “Lepas” dari Cengkeraman Oligarki
Editorial

Memikirkan Jalan “Lepas” dari Cengkeraman Oligarki

admin
Last updated: February 28, 2025 15:32
By
admin
Byadmin
Follow:
2 years ago
Share
5 Min Read
SHARE

Oleh: Wahyu Eka S (FNKSDA)

Iklan Nirmeke

Kekerasan demi kekerasan terus bermunculan seiring dengan meningkatnya eskalasi pembangunan fisik sebagai konsekuensi proyek strategis nasional (PSN). Proyek tersebut dan tak lain merupakan bagian dari perluasan geografi kapital atau perluasan titik-titik bisnis yang difasilitasi oleh Negara melalui serangkaian regulasi. Misal UU Cipta Kerja yang terus dipakai meski inkonstitusional, seperti munculnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 21 Tahun 2021 terkait penyelenggaraan tata ruang, yang terus dipakai untuk melegalisasi praktik perampasan melalui kebijakan tata ruang.

Selain itu juga terdapat Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 109 Tahun 2020 tentang percepatan proyek strategis nasional dan PP Nomor 42 Tahun 2021 tentang kemudahan pembangunan PSN. Semua aturan tersebut melegitimasi perampasan ruang, baik dalam level konseptual, perencanaan, hingga pembangunannya. Bahkan sampai pada tataran bagaimana menghilangkan hambatan dalam implementasi proyek tersebut.

Melalui UU Nomor 2 tahun 2012, lalu munculnya PP Nomor 19 Tahun 2021 terkait bagaimana penyelenggaraan pengadaan tanah untuk kepentingan umum, yang setahun berselang direvisi lagi menjadi PP Nomor 39 Tahun 2023, memulai babak baru praktik perampasan tanah dan lebih luasnya ruang hidup untuk kepentingan umum yang tak lain adalah kepentingan investasi bisnis kartel oligarki.

Kekerasan sampai penyingkiran orang dari kampung atau lahan-lahan pertaniannya tidak lebih merupakan praktik dorongan ekonomi—dalam hal ini pasar—yang terus meluaskan jangkauan tempat mengambil bahan mentah, lalu produksi, tenaga kerja hingga pasar konsumsi. Dorongan tersebut direspons oleh Negara dengan menggunakan kekuasaannya melalui skema kebijakan, regulasi dan pengerahan aparatusnya untuk melancarkan praktik dari perampasan hingga penyerapan profit.

Baca Juga:  Dukung Perjuangan Masyarakat Adat Awyu, Ampera PS Sampaikan 10 Pernyataan Sikap

Tidak cukup di situ, skema legalisasi praktik perampasan telah mendorong legitimasi kekerasan hingga normalisasi bahwa kepentingan umum (bisnis) menjadi bagian dari pembangunan untuk banyak orang, alias kesejahteraan bersama, tetapi itulah narasi yang dibangun untuk menutupi bagaimana perampasan melalui kekerasan hingga eksklusi dijalankan seolah-olah tidak ada apa-apa.

Kekerasan yang selalu muncul bukan tiba-tiba atau sebuah kebiasaan, tetapi memang terskema dan bagian dari skema pembangunan untuk kepentingan umum.

Aparatus sebagai alat negara menjalankan pengamanan hingga menyakiti orang tidak berdosa adalah bagian dari wujud kekuasaan untuk memaksa orang tunduk, patuh dan menerima setiap ketetapan yang dibuat. Penyingkiran dan peminggiran tidak melihat sejarah lokal, bahkan tidak melihat siapa yang lebih dulu mendiami sebuah wilayah.

Pembangunan PSN melahap semua wilayah adat, nilai, norma bahkan kearifan lokal, tanpa pandang bulu. Jika tidak sesuai skema, pengusiran paksa tidak segan-segan dijalankan. Inilah yang terjadi di Pulau Rempang Batam, Wadas dan proyek-proyek lainnya.

Kekuasaan oligarki yang berbalut dengan pengaruh modal besar dari kelompok bisnis global, telah memunculkan sebuah perampasan dan kekerasan. Setiap tahun kita akan selalu disuguhkan peristiwa-peristiwa ini, tanpa bisa berbuat apa-apa kecuali menyuarakannya dengan segala keterbatasan sampai ketakutan menjadi korban kekerasan hingga kriminalisasi.

Baca Juga:  Sejarah Hari HAM Dan Realitas Indonesia

Tentu di sini muncul sebuah pertanyaan sampai kapan kita akan terus-terusan seperti ini? Sampai kapan akan mampu bertahan di tengah gempuran perampasan yang semakin masif? Kita sudah tahu pola dan alurnya, betapa kuasa eksklusi dan eksploitasi melalui perampasan hak telah menjelaskan setidaknya mengapa semuai ini terjadi?

Setiap 5 tahun sekali kita disuguhkan opera sabun mandi pemilihan umum yang tidak signifikan mengubah apapun. Bahkan sejak demokrasi dibuka sejak era Soeharto demokratisasi telah dibelokkan untuk memfasilitasi kekuasaan baru yang tak jauh berbeda dengan Soeharto yakni rakus. Dan, sistem dan struktur kekuasaan sejatinya tidak pernah berubah hanya berganti mekanisme operasionalisasinya.

Lantas, apa yang akan kita lakukan dalam menghadapi perampasan dan kekerasan yang terus berulang ini? Apakah cukup dengan solidaritas? Atau buih utopia idealisme is-me dan is-me yang hanya hadir dalam pergunjingan dan diskusi? Tentu kembali ke masing-masing, mau sekedar menjawab atau mulai memikirkan jalan “lepas” dari cengkraman oligarki. (*)

)* Tulisan ini awalnya dimuat di fnksda.or.id pada 17 September 2023. Dimuat ulang lagi di nirmeke.com untuk tujuan pendidikan dan propaganda di Papua khususnya bagi Masyrakat Adat.

Related

You Might Also Like

Ketika “Pengertian” Berganti Menjadi Pungutan — Krisis Integritas di Pemerintahan Jayawijaya

Cycloop Bukan untuk Digali: Menolak Tambang demi Masa Depan Papua

Persatuan Itu Modal Pembebasan Dari Penindasan

Transmigrasi Sebagai Alat Kolonisasi di Melanesia Barat (Papua Barat)

Salibkan Lukas Enembe

TAGGED:Perampasan Lahan di PapuaPerampasan Lahan Masyarakat Adat di IndonesiaPerampasan Lahan Masyarakat Adat di Papua

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link
Previous Article Komitmen Deklarasi Kota DANI Harus Menjadi Nyata di Wamena
Next Article Ribuan Rakyat Papua Antusias Sambut Viktor Yeimo di Jayapura
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Iklan dari Nirmeke.com
Ad image

Berita Hangat

Wapres Gibran Kunjungi Pasar Potikelek Wamena, Mama-Mama Papua Sampaikan Aspirasi Modal hingga Keamanan
Ekonomi & Bisnis Infrastruktur
3 days ago
Simbol Sakral Bukan Kostum Politik
Artikel Catatan Aktivis Papua
4 days ago
GPMR-I Tuntut Bupati Intan Jaya Temui Massa Aksi, Soroti Krisis Kemanusiaan dan Darurat Militer
Polhukam Siaran Pers Tanah Papua
4 days ago
Relawan Rampai Nusantara Papua Minta Wapres Gibran Buka Kembali Penerbangan Internasional Bandara Biak
Infrastruktur Tanah Papua
4 days ago
Baca juga
EditorialPendidikan

Nasionalisme Indonesia Di Papua Dalam Ancaman Serius

2 years ago
EditorialOlaraga

Mengorbankan Sepak Bola Indonesia Untuk Popularitas

3 years ago
Editorial

Fenomena Jual-Beli Marga Papua: Telanjangi Diri Sebelum Punah

3 years ago
EditorialEkonomi & Bisnis

Kopi Dalam Komoditas Ekonomi Orang Asli Papua

3 years ago
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Daftar Beberapa Operasi Militer yang Terjadi di Papua Dari Tahun 1961 Hingga 2023

2 years ago
EditorialHeadline

Populasi Suku Hugula (Wamena) Sudah Mulai Merosot?

4 years ago
Editorial

Peta Kekerasan di Papua Barat: 100 Ribu Orang Terbunuh

3 years ago
Editorial

Kalau Otsus dan Pemekaran Dilanjutkan di West Papua

4 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?