Oleh: Omikson Balingga
Kakaku, Victor Yeimo Sudah ku dengar kabar tentangmu tadi. Di Boda (perbatasan) seperti hari itu, sebelum Angruk kupu Kita habis dengan senyum pasrah.
Bingung, antara pulang Holandia atau Go long we Vanimo…
Tak kuasa rasanya menahan air mata mendengar ungkapan pilu dalam kepasrahan batinmu.
Menghabiskan umurmu dalam ketabahan menunggu hari pembebasan yang tak pasti. Dalam senja umurmu, engkau masih terlihat seorang patriot pemberani yang gagah, dan membakar naluri kami.
Entahlah tak tahu kapan akhir kisah nan piluh ini.
Kembali malam bersama sunyi, ku dengar lagu-lagu kesayangan kita.
Robert oeka-Hiiri kekeni, Water Lily, Milumilu Saugas Mey, Paramana.
Dalam diam ku teluka.
Aiyo bigpla Barata “smail blo u karai blo me.”
Hidup di alam bebas itu lebih sakti dibanding penjara penjajah. Tapi kami ada dan tetap jalan di jalur kami, tanpa sedikitpun mundur.
Kakakku, merenung dan teruslah belajar tentang seluk-beluk kejahatan Penjajah di dalam trali besi. Karena kedaulatan ada di tangan rakyat. Rakyat Pejuang akan bangkit dan menentukan masa depannya sendiri.
Itu pasti!
