Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
  • Berita Papua
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • Kabupaten Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Peta Kekerasan di Papua Barat: 100 Ribu Orang Terbunuh
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
  • Berita Papua
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • Kabupaten Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Editorial > Peta Kekerasan di Papua Barat: 100 Ribu Orang Terbunuh
Editorial

Peta Kekerasan di Papua Barat: 100 Ribu Orang Terbunuh

admin
Last updated: April 25, 2023 10:52
By
admin
Byadmin
Follow:
3 years ago
Share
7 Min Read
Kekerasan di Papua - Ilusrasi
SHARE

Dengan menunjukkan tingkat kekerasan yang diberi lampu hijau oleh negara selama beberapa dekade, itu dapat mendorong jenis pengawasan internasional yang akhirnya mengarah pada intervensi.

Daftar Isi
Proyek baru untuk memetakan kekejaman masa laluPeta kekerasan di Papua BaratMengapa dunia tetap diam?
Iklan Nirmeke

Pemerintah baru-baru ini mengindikasikan, pihaknya sedang mempertimbangkan untuk menyelidiki pembunuhan ratusan ribu orang dalam pembantaian “anti-komunis” 1965 di bawah pimpinan otoriter Suharto.

Jika penyelidikan berlanjut, itu akan menandai pergeseran kegagalan lama pemerintah untuk mengatasi kekejaman masa lalu. Tidak jelas apakah mereka akan memasukkan tindakan-tindakan brutal lainnya yang diduga dilakukan oleh rezim Indonesia di wilayah Papua.

Menurut Amnesty International, setidaknya 100.000 orang Papua telah terbunuh sejak pengambilalihan Papua oleh Indonesia pada 1960-an.

Sementara kasus pembunuhan memuncak pada 1970-an, jumlahnya meningkat lagi karena adanya aktivisme baru untuk menuntut kemerdekaan di wilayah itu. Pada September 2019, sebanyak 41 orang terbunuh dalam bentrokan dengan pasukan keamanan dan milisi yang terinspirasi oleh jihad.

Bentrokan antara pasukan keamanan dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat telah memanas sejak Januari, yang menurut kelompok hak asasi manusia telah mengakibatkan setidaknya lima kematian. Setidaknya dua warga sipil lainnya tewas dalam insiden lain, menurut laporan The Conversation.

Kekerasan terbaru dipicu oleh serangan rasial terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, tahun lalu, yang mendorong ribuan orang Papua untuk memprotes pemerintah. Protes itu mengangkat kembali narasi pelanggaran hak asasi manusia di wilayah tersebut dan perjuangan puluhan tahun Papua untuk mendapatkan otonomi.

Namun, karena media internasional telah dilarang memasuki Papua Barat, konflik yang lebih luas hanya mendapat sedikit perhatian dari dunia luar.

Proyek baru untuk memetakan kekejaman masa lalu

Akhir tahun lalu, proyek untuk memetakan kekerasan yang terjadi di Papua Barat di bawah pendudukan Indonesia dimulai. Proyek ini dilakukan oleh Camellia Webb-Gannon, dosen University of Wollongong; Jaime Swift, kandidat PhD di University of Oxford; Michael Westaway, peneliti di Australian Research Council Future, University of Queensland; dan, Nathan Wright, peneliti di University of Queensland, yang juga menulis artikel terkait di The Conversation.

Proyek ni sebagian diilhami oleh proyek pemetaan pembantaian masyarakat adat di Australia oleh The Guardian dan University of Newcastle, dan pemetaan kekerasan Pusat Advokasi Kepentingan Publik di Sri Lanka.

Baca Juga:  Persatuan Itu Modal Pembebasan Dari Penindasan

Tujuan mereka adalah menyoroti krisis berkepanjangan di Papua Barat. Mereka berharap, dengan menunjukkan tingkat kekerasan yang diberi lampu hijau oleh negara selama beberapa dekade, mereka dapat mendorong jenis pengawasan internasional yang akhirnya mengarah pada intervensi.

Peta yang mereka buat hanya mendokumentasikan beberapa pembantaian yang telah terjadi di Papua Barat sejak tahun 1970-an. Kondisi di wilayah tersebut telah menghalangi pencatatan dan verifikasi kematian secara akurat. Tantangannya termasuk kurangnya sumber daya untuk pencatatan, perpindahan internal, properti yang telah dihancurkan, dan ketakutan untuk melaporkan kematian.

Mereka juga menemukan kelangkaan data dari 1990-an hingga 2010-an, sebagian karena sedikit wartawan yang melaporkan insiden selama periode ini.

Untuk keperluan proyek kami, kami sangat mengandalkan laporan dari Komisi Hak Asasi Manusia Asia dan Koalisi Internasional untuk Papua (keduanya memiliki koneksi kuat di Papua Barat), serta penelitian oleh sejarawan Robin Osborne, ELSHAM, TAPOL, dan laporan komprehensif oleh para akademisi di Yale Law School yang diterbitkan pada 2004.

Salah satu serangan terbaru adalah penyiksaan dan pembunuhan sejumlah demonstran di Pulau Biak pada 1998. Beberapa perkiraan mengatakan jumlah korban jiwanya mungkin mencapai 200.

Peta kekerasan di Papua Barat

Meskipun jauh dari selesai, proyek pemetaan mereka mengungkapkan beberapa tren luas dari kurun 1970-an hingga 2010-an. :

  • Mayoritas pembantaian terjadi di dataran tinggi Papua Barat, wilayah dengan rasio penduduk asli Papua tertinggi.
  • Banyak pembunuhan dilakukan ketika orang Papua secara damai memprotes menuntut kemerdekaan dari Indonesia
  • Mengingat jumlah pasukan yang dikirim ke Papua Barat dan jenis senjata yang mereka miliki, pemerintah seharusnya mengetahui tentang tingkat kehancuran yang disebabkan oleh serangan oleh pasukan keamanan dan kelompok-kelompok milisi. (Pasukan keamanan Indonesia terkenal berada di luar kendali pemerintah)
  • Dalam sebagian besar pembunuhan, para pelaku tidak pernah dimintai pertanggungjawaban oleh pemerintah.

Pemerintah mengklaim Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sedang melakukan penyelidikan atas beberapa insiden yang lebih baru, meskipun ada kekhawatiran badan tersebut tidak memiliki kekuatan yang cukup dan pemerintah sebelumnya enggan menerima temuan pelanggaran.

Baca Juga:  Sulitnya Membasmi TPNPB - OPM

Mengapa dunia tetap diam?

Baik Australia dan Selandia Baru ragu-ragu untuk campur tangan dalam krisis HAM di kawasan ini, terutama jika Indonesia terlibat.

Pada 2006, Australia menandatangani Perjanjian Lombok, yang meyakinkan pemerintah Indonesia bahwa Australia akan menghormati kedaulatan negara Indonesia dan tidak mendukung “gerakan separatis”.

Namun, Australia, dan seluruh dunia, akhirnya mengambil tindakan mengenai referendum kemerdekaan di Timor Timur.

Dalam memoarnya, mantan Perdana Menteri John Howard menyebut kemerdekaan Timor Timur sebagai salah satu pencapaian utamanya. Namun, saat ia menjabat, ia menunjukkan sedikit keinginan untuk mendukung kemerdekaan Timor Timur dan mencampuri urusan Indonesia.

Liputan media memainkan peran penting dalam membujuk dunia untuk mengambil tindakan. Di Papua Barat, media tidak memiliki efek yang sama.

Pasukan keamanan Indonesia telah memahami tentang bagaimana mengendalikan media. Pemerintah Indonesia telah sering memblokir internet di Papua Barat, memberlakukan larangan penuh terhadap jurnalis asing, dan menolak permintaan dari Komisi Hak Asasi Manusia PBB untuk menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia.

Meskipun demikian, beberapa video rekaman ponsel yang menunjukkan kekejaman di Papua terus bocor ke luar Papua.

Dengan tidak adanya liputan media yang luas, advokat pro-demokrasi Papua dan pendukungnya telah menyerukan penyelidikan hak asasi manusia yang disetujui PBB. Ada juga dukungan signifikan dari para pembela HAM di Indonesia untuk penyelidikan semacam itu.

Mengingat Indonesia sekarang duduk di kursi Dewan HAM PBB, Indonesia harus sepenuhnya mendukung langkah tersebut. Namun, militer tetap memiliki pengaruh besar di Indonesia, dan menahan para komandan yang diduga melakukan pelanggaran HAM berisiko secara politis.

Dengan tantangan-tantangan ini, apa yang dibutuhkan dunia untuk menunjukkan keberanian moral yang cukup untuk memaksa perubahan di Papua?

Jalan ke depan jelas, kata mereka. Sebagai anggota Dewan Hak Asasi Manusia PBB, Indonesia perlu mengakhiri larangan media di Papua Barat, mendukung penyelidikan independen PBB, dan meminta pertanggungjawaban atas tindakan kekerasan mereka.

Jika Indonesia tidak mengambil tindakan ini, maka tekanan diplomatik dari dunia akan diperlukan.

Sumber: matamatapolitik.com

Related

You Might Also Like

Negara Ingin Orang Asli Papua Angkat Senjata

Konflik dan Kekerasan Terus Terjadi di Papua, Adakah Kepentingan Bisnis Aparat Keamanan?

Bangsa Ini Bangsat

Ada 9 Julukan Kota ‘Wamena’ Yang Belum Anda Ketahui Saat Ini

Esensi Perang Gerilya

TAGGED:Dewan Hak Asasi Manusia PBBPeta Kekerasan di Papua Barat

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link
Previous Article Diam yang Terluka
Next Article Tokoh Intelektual Papua Kritik Pilihan Lokasi Pembangunan Kantor Gubernur Papua Pegunungan
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Iklan dari Nirmeke.com
Ad image

Berita Hangat

Wapres Gibran Kunjungi Pasar Potikelek Wamena, Mama-Mama Papua Sampaikan Aspirasi Modal hingga Keamanan
Ekonomi & Bisnis Infrastruktur
3 days ago
Simbol Sakral Bukan Kostum Politik
Artikel Catatan Aktivis Papua
4 days ago
GPMR-I Tuntut Bupati Intan Jaya Temui Massa Aksi, Soroti Krisis Kemanusiaan dan Darurat Militer
Polhukam Siaran Pers Tanah Papua
4 days ago
Relawan Rampai Nusantara Papua Minta Wapres Gibran Buka Kembali Penerbangan Internasional Bandara Biak
Infrastruktur Tanah Papua
4 days ago
Baca juga
EditorialPariwisata

Tiga Pertemuan Rahasia ” Hotel Maraw”

4 years ago
Editorial

Hukum Tanah Setempat

2 years ago

 HITAM-PUTIH: Fakta 10 Tahun  BTM Menakhodai Kota Jayapura 

4 years ago
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Agama Katolik dan Adat di Huwulrama-Jayawijaya

2 years ago
Editorial

Penegakan Korupsi di Papua, Membela Rakyat Atau Koruptor?

3 years ago
EditorialTanah Papua

Demo Damai Rakyat Papua Dibalas dengan Moncong Senjata

4 years ago
EditorialPariwisata

Festival Budaya Lembah Baliem: Lebih dari Sekadar Pertunjukan, Ini Penjaga Jati Diri Papua Pegunungan

5 months ago
EditorialTanah Papua

LEBIH BAIK MRP DI BUBARKAN

2 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?