Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
  • Berita Papua
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • Kabupaten Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Kata “Mereka” Untuk Orang Asli Papua
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
  • Berita Papua
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • Kabupaten Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Catatan Aktivis Papua > Kata “Mereka” Untuk Orang Asli Papua
Catatan Aktivis PapuaHeadline

Kata “Mereka” Untuk Orang Asli Papua

admin
Last updated: March 18, 2023 13:27
By
admin
Byadmin
Follow:
3 years ago
Share
5 Min Read
Mama-mama Papua sedang berjualan di Pasar Baru Sentani - Istimewa
SHARE

Oleh : Agustinus Kadepa

Iklan Nirmeke

Mungkin ini catatan pagi saya gara gara mendengar cerita dari seorang ibu guru tentang banjir dan air masuk dalam rumah kemarin. Kemarin dia tra masuk sekolah, membersihkan lumpur-lumpur di dalam rumahnya.

Mace satu ni de bilang begini; dalam rumah berantakan. Padahal sebelumnya hujan besar pun tra pernah air masuk dalam rumah seperti kemarin. Pemilik tanah ni sudah jual gunung, bukit, batu, kayu, semuanya. Rumah kami jadi begini gara gara gunung di gusur, hujan sedikit tapi kirim tanah dan air dari gunung. Parit yang ada tertimbun tanah, air berhamburan dimana mana.

Kenapa hidup kami terganggu seperti begini? Apa salah kami pada alam? Apakah ini adalah sebuah perubahan? apakah demi perubahan tanah harus dijual? Truss, kalo semuanya dijual habis, sebaiknya alat produksi mereka juga dipotong supaya trada generasi selanjutnya, supaya dosa orang tua tra boleh ditanggung anaknya, supaya anak tidak menjadi seperti pengemis yang hidup di bawah kolong jembatan di Jawa sana.

Dari cerita mama diatas membuat saya harus tulis lagi beberapa hal yang menurut saya baik untuk tong ketahui, tapi baik kalo kawan kawan lagi tambahkan. Soal benar dan salahnya akan tong bicarakan bersama.

Setelah alam su tra bersahabat dengan kita, Saya coba mulai dengan apa kata mereka (non Papua) pada kita. Siapa mereka? Ya kata penjual sayur, petani Trans, penjual pakaian, Pemiliki hotel, mall, program dana desa, raskin, dan program pangan nasional.

1. Penjual sayur dong bilang begini, saya harus antar sayur buat bos-bos yang baru bangun tidur, mereka ngorok, supaya mereka tra repot dan harus dibikin manja. Kan mereka tuan, tuan tanah, tuan rumah, dan itu dijamin dalam undang undang otonomi khusus.

Baca Juga:  Waspada, Sorong-Manokwari-Nabire-Jayapura dan Merauke Jadi Pintu Masuk Pencaker Non Papua

2.Kata Petani Trans. tahun 70-an, 80-an, dan 90-an. Tanah kami sudah ambil, kami tanam, hasilnya kami biaya anak sekolah menjadi tentara, polisi, dan lainnya lalu bangun rumah besar di asal daerah kami. Sekarang saya bertani lagi, supaya mama-mama Papua yang jualan di pasar beli pada kami, sekarang tugas kami cukup bertani, yang jual hasil kebun adalah mereka ( mama-mama Papua). Nanti kalau saya rasa cukup dan usia mulai senja, saya jual lagi kebun dan rumah pada orang Papua kalau tidak pada sesama kami. Kan orang Papua dong su tra pu tanah lagi, kan mereka makan dari Otsus, raskin dan dana desa.

3. Kata penjual pakaian. Sekarang tu masa modern. Tertinggal bagi dong yang tra pu pakaian. Tong su bikin Pakaian, penjual pun ada kami, Kami tinggal distribusi pada kalian. Tra usah repot-repot bikin atau nyulam baju dari woll, benang, atau dari kulit kayu. Kalian tinggal bawa uang saja. Sudah pergi cari uang, supaya ko tra jalan telanjang, kan tra baik kalo lihat orang.

4. Kata pemilik mall, hotel, ruko, dan lainnya. Tong su beli tanah. Sekarang saatnya berinvestasi, kami beli tidak sekedar beli, mau kami agar dapat lebih dari harga yang pernah kami beli. Makanya kami bangun hotel, mall, ruko dan toko. Banyak pejabat Papua datang ke tempat kami, tempat kami nyaman kok, bisa selingkuh, bisa pertemuan, bisa sidang, bisa apa saja. Yang penting ko bawah uang, Urusan keluarga dirumah tidak saya pedulikan. Ditempat kami bisa lakukan apa saja, lakukan yang baik maupun yang tidak baik. Dan jual apa saja, kualitasnya juga terjamin. Kan ko tertinggal kalo tra belanja di pasar tradisional. Kan malu too…. Hehehe.

Baca Juga:  KEMAJUAN YANG MENGHANCURKAN

5. Program dana Desa. Sekarang orang Papua enak. Uang sudah datang di kampung kampung melalui dana desa. Mereka selalu bersenang senang, kekotaan beli barang makanan, pakaian, minuman, sampe bawa istri baru. Dong sendiri baku marah gara-gara pembagian uang, karena uangnya dibawah kepala kampung, laporan keuangan tra jelas dan kadang juga ada pemotongan dari pihak yang lebih dari dorang. Sekarang mereka tra bisa berusaha lagi untuk dapat uang, untuk biayai anaknya sekolah, untuk makan minum semuanya pake uang. Trada dari hasil kerjanya.

6. Beras miskin ( Raskin), kita bikin program ini karena di Papua trada sawa. Orang Indonesia wajib makan nasi, kuno kalau rakyat Indonesia tra makan nasi. Jadi, orang Papua tra usah berkebun, kasihan. Negara sudah sediakan buat kalian. Nanti kalau kamu su tra tahu kerja, tra tahu berkebun dan kami hentikan program raskin, supaya kamu tra makan dan tra bisa kerja lagi dan akhirnya kamu mati dan tanah kalian kami kuasai, kami ambil dan beranak cucu di atas tanah kamu.

10 November 2017

)* Aktivis Pendidikan  dan juga pendiri Gerakan Papua Mengajar (GPM) di Jayapura

Related

You Might Also Like

Orang Papua Terjebak Dalam Skenario Kolonial Dan Kapitalis Untuk Kepentingan Investasi

Komnas HAM dan Komnas Perempuan RI Abaikan Pengungsi Maybrat

Sekolah Adat Hugula Akan Dibuka di Kampung Yogonima, Papua Pegunungan

Bunuh Sandera Pilot Philip Mark Marthens

PMKRI, Uskup Mandagi, dan PSN

TAGGED:Orang Asli PapuaTransmigarasi di Papua

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link
Previous Article Mewaspadai Sindrom Politik ” Tiba-Tiba Baik” Jelang Pemilu 2024 di Wamena
Next Article Gelar Raker I HP-OAPP, Orang Asli Papua Diajak Jadi Pelaku Bukan Penonton
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Iklan dari Nirmeke.com
Ad image

Berita Hangat

Pemerintah Kampung Usilimo Salurkan Bibit Babi dari Dana BUMKAM
Ekonomi & Bisnis
2 hours ago
Dari Tanah Kering Menjadi Kampung Harapan: Cerita Kampung Wisata Aitok di Pegunungan Jayawijaya
Ekonomi & Bisnis Pariwisata
4 hours ago
Interupsi Senator Papua Barat Daya di Paripurna DPD RI, Tolak Sawit dan Penambahan Markas TNI di Papua
Lingkungan Tanah Papua
4 hours ago
Wapres Gibran Kunjungi Pasar Potikelek Wamena, Mama-Mama Papua Sampaikan Aspirasi Modal hingga Keamanan
Ekonomi & Bisnis Infrastruktur
4 days ago
Baca juga
HeadlineTanah Papua

PMKRI Jayapura Kutuk Tindakan Biadap Oknum Anggota TNI Yang Menyiksa Warga Sipil di Papua

2 years ago
ArtikelCatatan Aktivis PapuaPena Papua

Rasisme di Lapangan Hijau: Luka Lama Kolonialisme Indonesia atas Papua

3 months ago
HeadlinePariwisata

Bukan Rumput Mei

3 years ago
Catatan Aktivis Papua

Mengupas Pro-Kontra Penempatan Lokasi Kantor Gubernur Papua Pegunungan

3 years ago
HeadlineTanah Papua

Pastor: Menyerang Uskup Sama Seperti Menyerang Gereja Katholik

2 years ago
HeadlineTanah Papua

Majelis Rakyat Papua Pegunungan Serukan Pemilu Damai untuk 8 Kabupaten pada Pilgub dan Pilbup 27 November 2024

1 year ago
Catatan Aktivis PapuaTanah Papua

Pengesahan UU TNI: Kepentingan Politik Prabowo 2029 Korbankan Supremasi Sipil

10 months ago
Catatan Aktivis Papua

Jokowi Hianati dan Salibkan Lukas Enembe

3 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?