Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
  • Berita Papua
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • Kabupaten Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Kematian Dokter Muda Clemens Wopari Hingga Paul Fonataba: Ironi Anak Negeri Cendrawasih di Atas Tanah Airnya
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
  • Berita Papua
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • Kabupaten Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Pena Papua > Catatan Aktivis Papua > Kematian Dokter Muda Clemens Wopari Hingga Paul Fonataba: Ironi Anak Negeri Cendrawasih di Atas Tanah Airnya
Catatan Aktivis PapuaKesehatan

Kematian Dokter Muda Clemens Wopari Hingga Paul Fonataba: Ironi Anak Negeri Cendrawasih di Atas Tanah Airnya

admin
Last updated: April 25, 2023 10:04
By
admin
Byadmin
Follow:
3 years ago
Share
9 Min Read
Kematian Dokter Muda Clemens Wopari Hingga Paul Fonataba - Dok
SHARE

*(Potret Diskriminasi Dalam Era Otsus)*

Iklan Nirmeke

Oleh: Gerakan Mahasiswa Kedokteran Peduli Orang Asli Papua (GMKP-OAP)*

Agaknya aneh, jika para calon dokter Papua meninggal mendadak karena mengalami masalah psikologis-psikiatri. Sebab kaum awam akan bertanya: bukankah mereka calon dokter? Bukankah mereka sudah belajar tentang bagaimana mencegah atau bahkan melawan gejala depresi? Kok bisa? Jika sudah demikian pertanyaannya, kira-kira siapa yang paling di muka mestinya merasa malu? Apakah mahasiswa bersangkutan ataukah para pendidiknya? Jawabannya, silahkan masing-masing renungkan. Selain itu, juga adalah aneh sebab yang meninggal karena depresi di Fakultas Kedokteran Uncen lebih didominasi oleh putra-putri asli Papua. Kok bisa? Kenapa dan ada apakah? Itu adalah secercah pertanyaan yang hari ini menghinggapi orang asli Papua.

Fenomena itu menjadi ironis, karena kehadiran FK Uncen yang memiliki latar historis yang mulia mulai mengalami disorientasi bahkan di distorsikan seolah FK Uncen itu berada di luar tanah Papua. Ini dinyatakan dengan dominannya kaum pendatang dibandingkan dengan kaum pribumi, entah di aspek rasio mahasiswanya, dosennya hingga staf tata usahanya. Inilah ironis yang makin melengkapi fakta bahwa orang asli Papua semakin menjadi menoritas di dalam hampir semua aspek kehidupan hari ini. Sudah demikian, makin mudahlah mereka mengalami alienasi yang berdampak pada gangguan-gangguan kepribadian-kejiwaan mereka. Lantas dengan demikian, kita diterpa realitas bahwa ada sejawat yang sampai bunuh diri hanya karena satu-dua bagian stasenya yang belum juga kelar karena hal-hal simplistik. Apakah wajar, hanya oleh karena hal etika pendidikan, kita memvonis seseorang hingga berakhir dengan munculnya keinginan mengakhiri nyawa mereka? Begitukah?

Meskipun teriring rasa sebal, prihatin bercampur sedih, catatan ini dengan agak terpaksa kami tulis dan publikasikan dalam situasi duka pasca meninggalnya kawan sejawat kami, dokter muda (DM) Paul Gweiss Fonataba pada beberapa hari lalu–yang mana di dahului oleh Kartini Angelie pada bulan Desember kemarin, dan Clemens Wopari dan rekan lainnya, Calvin Suebu pada 2018. Di sini ada ungkapan turut duka cita. Namun, rasanya tak perlu lagi kami ucap, karena ungkapan itu rasanya akan sia-sia, jika di dunia FK Uncen yang ahistoris itu, manusia-manusia lain akan terus menonjolkan ke-aku-an mereka hanya karena beda usia, beda gelar, beda profesi, beda suku, beda agama bahkan beda ras hingga beda strata sosial-ekonomi dengan mengabaikan universalisme hakikat ‘kemanusiaan’ kita. Sebab selama perbedaan itu masih ada, dan belum mampu menyatukan mahasiswa FK sebagai ‘peserta didik’ dan dosen-dosen, staf TU hingga pembimbing profesi sebagai ‘staf pengajar’ dalam satu paradigma “keluarga besar”, maka ia akan berpeluang terjadi lagi di masa depan. Apalagi ungkapan turut berduka cita yang biasa kita sematkan, seolah mengisyaratkan bahwa proses kematian seseorang seakan dimaknai hanya sebagai suatu peristiwa rutinan manusia sebagai makhluk hidup (biasa saja) yang terjadi tanpa sebab dan akibat—tanpa aktor dan faktor pencetus.

Baca Juga:  Fajar Dari Timur (Aurora ab Oriente) Benar-Benar Bersinar

Demikian juga ketika menuliskan ini dalam kombinasi beragam rasa tentu tidaklah enak. Itu karena kita telah lama mengerti dan sadar bahwa “There is an something really wrong in our mindset from the past, guys !” It’s true. Iya, itu mengenai sistem dan para oknum aktor pengendalinya yang tidak terlihat sebagaimana mestinya. Bahwa sudah sejak lama, sudah kami lihat ada aroma ketidakberesan yang acapkali berjalan ‘telanjang’. Namun, Kita selalu abai untuk melihatnya dengan nalar, akal sehat dan mata iman yang Tuhan kasih. Kita justru menganggap itu sebagai sesuatu yang wajar dan kemudian menerimanya sebagai bagian dari kata yang paling kami tidak sukai, yaitu–proses. Frasa itu sejatinya memiliki ambiguitas di atasnya yang mendompleng berbagai bentuk pewajaran kesewenang-wenangan dimana telah terjadi begitu saja tanpa ragu-ragu sedikitpun.

Itulah bangunan pewajaran /penormalan yang dengan tentatif telah menjadi alat legitimasi para oknum pendidik itu untuk terus menurunkan sekte-sekte sakti mengenai narasi rancu ‘attitude’ pendidikan kedokteran sesuai versi mereka sendiri. Dari sinilah cikal-bakal kita mengetahui bahwasannya terdapat berbagai penggacakan kewenangan yang tidak terkordinasi di bawah payung lembaga pendidikan FK Uncen. Jadi, terlihat bahwa setiap bagian-bagian telah memainkan peranan mereka secara terpisah untuk mengatur nilai atau bahkan menentukan kelulusan. Itu adalah naif karena kita akan sampai pada pertanyaan: tidak adakah strukturisasi pengelola pendidikan di lembaga tersebut? Dimana pemegang komando atau kendalinya selama ini: apakah pada bagian atau pimpinan fakultas? Sampai di sini, kita akan paham: bagaimana dan mengapa kondisi-kondisi beberapa calon dokter masa depan bangsa dan tanah Papua itu bisa pergi dengan begitu mudahnya.

Clemens A.Wopari adalah salah satu mahasiswa FK Uncen angkatan 2005. Ia meninggal lantaran mengalami depresi berat setelah selama 20 kali mengikuti ujian kompetensi mahasiswa program pendidikan dokter (UKMPPD) namun tidak lulus. “Total saya belajar di kedokteran adalah 13 tahun. Berdoa, belajar dan ujian—itu yang saya lakukan selama ini. Dimana kah letak kesalahan saya? Atau kah sistem ini yang menyusahkan saya?” Begitu bunyi penggalan suratnya kepada Dirjen P dan K Dikti pada 24 Februari 2018 itu–beberapa bulan sebelum akhirnya meninggal pada Maret di tahun yang sama [1]. Klemens mengalami depresi berat berkepanjangan yang berujung pada keputusan untuk mengakhir hidupnya. Menurut rekannya, sejak Januari 2018 Clemens tidak mau makan dan minum. Ia bahkan menolak di bawa ke rumah sakit dan memasang infus sendiri. Ia meninggal karena dehidrasi, demikian ungkap Ketua Pergerakan Dokter Muda Indonesia (PDMI), Tengku A. Saputra di Jakarta senin, 8 Maret 2019 silam. “Rekan kami tidak makan dan minum karena depresi. Ijazahnya yang selama ini ditunggu selama bertahan-tahun dari pendidikan akademik Kampus tidak kunjung diberikan”, imbuhnya. Dalam persoalan ini, ijazah dokter muda itu tidak bisa diberikan karena adanya regulasi baru dari Dikti ditambah pihak kampus FK Uncen enggan memberikan setelah rapat internal mereka memutuskan tidak dapat diberikan dengan alasan tertentu [2]. Padahal merujuk pada aturan sebelumnya, ijazah akademik pada sarjana dapat diberikan setelah seseorang menyelesaikan jenjang S1 atau sarjana kedokteran. Akan tetapi dalam kasus Clemens tidak bisa diberikan. Sehingga ia nekad mengakhiri hidupnya dengan memilih jalan pintas—tidak mau makan dan minum hingga meninggal.

Baca Juga:  Mahasiswa Papua Dalam Ancaman Kematian HIV/AIDS

Pada kasus ini, sistem pendidikan kedokteran yang sulit dan tidak transparan menyebabkan jatuhnya korban di FK Uncen. Ironisnya kehadiran institusi ini ditengah dan bersamaan dengan status Papua sebagai daerah otonomi khusus. Mestinya dengan keistimewaan yang ada, mahasiswa FK Uncen mendapatkan kekhususan dalam hal pembelajaran, fasilitas, biaya dan sebagainya sehingga dapat mampu setara dengan rekan-rekan sejawat lainnya di Indonesia. Dan dalam hal ijazah, mestinya otoritas FK Uncen dapat berjuang agar ijazah yang bersangkutan diberikan sesuai kepentingannya. Tidak ada yang sulit ! Mestinya pemahaman kekhususan Papua dengan imunitas otonomi khusus itu mampu menyediakan pilihan-pilihan argumentasi yang dapat dikemukakan jika dikemudian hari terdapat masalah. Dan barangkali, meskipun demikian ekspektasinya, belum tentu juga terdapat kesamaan perspektif antara kita dan para pengambil kebijakan di lingkup internal lembaga pendidikan tadi. Adagium bahwa “soal kebijakan, tidak ada yang sulit di dunia ini tetapi yang menjadi masalah adalah kita mau atau tidak itu sajal”. Tampaknya pepatah ini terlihat lebih relevan di dalam memahami persoalan semacam ini di sini.

Kita mendapatkan dua persoalan dalam kaitannya dengan kasus kematian DM Clemens ini—yakni masih buruknya sistem regulasi pendidikan kedokteran di Indonesia, berkaitan dengan sistem ujian UKMPPD dan kedua lemahnya keberpihakan yang dipengaruhi oleh minimnya pemahaman akan roh Otonomi Khusus yang secara interen mengikat FK Uncen untuk tunduk memaklumi dan menghidupi regulasi-regulasi yang berpihak, melindungi dan memberdayakan orang asli Papua di atas tanah airnya ini.

Bersambung……

Related

You Might Also Like

PMKRI, Uskup Mandagi, dan PSN

Wamena Kini Marak Dengan Penjualan Miras Jenis CT dan Milo

Nies Words dan Gerakan Literasi di Papua: Membangun Masa Depan dengan Pendidikan yang Inklusif dan Berkualitas

Yefta Lengka Ajak Pemuda Papua Perangi Miras dan Napza

Pentingnya Literasi Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Pemuda Papua

TAGGED:Fakultas Kedokteran UncenGerakan Mahasiswa Kedokteran Peduli Orang Asli PapuaKematian Dokter Muda Clemens Wopari Hingga Paul FonatabaPotret Diskriminasi Dalam Era Otsus

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link
Previous Article Begini tingkat literasi di Papua dan Papua Barat saat ini
Next Article Sejak 2019, Aktivitas Belajar Mengajar di SD Negeri Logotpaga Macet
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Iklan dari Nirmeke.com
Ad image

Berita Hangat

Wapres Gibran Kunjungi Pasar Potikelek Wamena, Mama-Mama Papua Sampaikan Aspirasi Modal hingga Keamanan
Ekonomi & Bisnis Infrastruktur
3 days ago
Simbol Sakral Bukan Kostum Politik
Artikel Catatan Aktivis Papua
4 days ago
GPMR-I Tuntut Bupati Intan Jaya Temui Massa Aksi, Soroti Krisis Kemanusiaan dan Darurat Militer
Polhukam Siaran Pers Tanah Papua
4 days ago
Relawan Rampai Nusantara Papua Minta Wapres Gibran Buka Kembali Penerbangan Internasional Bandara Biak
Infrastruktur Tanah Papua
4 days ago
Baca juga
Catatan Aktivis PapuaEditorial

Agama Katolik dan Adat di Huwulrama-Jayawijaya

2 years ago
Catatan Aktivis Papua

Masih Pentingkah Disebut Otonomi Khusus Papua? Ketika OAP Disamaratakan dengan Non-OAP?

12 months ago
Catatan Aktivis Papua

Ketika Kita Berkata Jujur Tentang Papua, Maka Papua Sesungguhnya Bukan Indonesia

1 year ago
Kesehatan

Pemkab Lanny Jaya Perkuat Kerja Sama dengan BPJS Kesehatan

10 months ago
KesehatanTanah Papua

Pemkab Jayawijaya Apresiasi Dokter Senior dan Tenaga Kesehatan Berprestasi di Hari Kesehatan Nasional

2 months ago
Catatan Aktivis Papua

Opini | Egianus Kogoya, Literasi dan Makna Kebebasan

7 months ago
Catatan Aktivis Papua

Pemilu 2024 Paling Buruk di Wamena-Papua Pegunungan

2 years ago
Catatan Aktivis Papua

Wamena Berdarah Sulit Dilupakan

3 years ago
Previous Next
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?