Asep Nayak Tampil di Nasional Opening Ceremony BJXVI Bienalle Jogya Equator

Jayapura, nirmeke.com – Artis lokal instrumental dari papua Asep Nayak tampil nasional Opening Ceremony BJXVI Bienalle Jogya Equator 6 Oktober 2021 Indonesia With Oceania.

Tempat Kegiatan berlangsung Jogya Nasional Museum (JNM) 6 Oktober 2021 Biennale Jogja kemudian melibatkan seniman dari negara dan kawasan sepanjang garis khatulistiwa, mulai dari India, negara-negara Arab, Nigeria, Brazil, hingga negara-negara di Asia Tenggara. Dari berbagai daerah di dunia, para seniman tersebut diundang langsun untuk menampilkan karya sehingga dapat ditonton oleh hadirin penikmat seni di Jogja.

Apa yang dilakukan oleh Biennale Jogja ini tak ubahnya seperti logika pagelaran seni rupa internasional lainnya, bahwa melalui kekuatan finansial mampu memobilisasi seniman dari mana saja untuk meraih perhatian dari seluruh dunia.

Radio Isolasido (Wok The Rock & Gatot Danar Sulisiyono) seorang seniman asal jogya, mengundang Asep Nayak untuk hadir menampilkan karyanya di daerah jogya dalam kegiatan Opening Ceremony BJXVI Bienalle, Asep Nayak adalah seorang seniman Papua (Wamena) mempunyai kelebihan Musisi Instrumental lokal dan fotografer papua

Asep dalam perjuangan pendidikan sekolah menengah pertama banyak hal yang alami menghabiskan waktu dengan musik wisisi maka sering lambat makan dan tidur karena hoby memproduksi instrumental lokal (klaborasi transformasi instrumen versi baru) yang disebut bahasa papua (wisis) atau musik aster gerakan baru, maka musik instrumental tersebut menjadi serimonial utama atau acara hiburan sering banyak orang digunakan oleh orang papua, Versi instrumental di generasi ini banyak yang di konsumsi lebihnya orang papua pengunungan dalam acara keluarga dan sosial lainnya,

Asep tetap optimis terus berkarya hingga bisa di undang ikut pameran di jogya, karna itu merasa bersyukur kepada Tuhan dan penyelengara kegiatan Opening Ceremony BJXVI Bienalle Jogya Equator 6 Oktober 2021 Indonesia With Oceania serta penghubungnya.

Karya, kemampuan terus akan berjuang membawa instrumen profesional yang akan terus berkarya di bumi Cenderawasih Papua Indonesia agar selain dari Asep Nayak Instrumental menjadi contoh kepada anak Papua yang lain bisa menjadi artis, bahwa orang Papua itu bisa menjadi seorang artis atau seniman sehingga terus kembangkan potensi yang dimiliki.

Asep Nayak mengajak anak anak Papua yang mempunyai potensi kusus selain dari Instrumental boleh dikembangkan juga dan bagi yang ikut jejaknya bisa berkembang bersama mendorong segala kebutuhan apapun kita saling membantu, mendukung, melengkapi hingga kami bekerja sama.

“Kami anak Papua sebetulnya memiliki potensi namun sangat sangat kekurangan donatur atau pendorong untuk menonjolkan karya atau potensi, selain dari Asep pasti ada Asep lain yang memiliki potensi lain juga di bida apapun hanya anak anak Papua kurangnya dorongan, saya benar benar bangga kepada penyelengara kegiatan Opening Ceremony BJXVI Bienalle Jogya Equator 6 Oktober 2021 Indonesia With Oceania yang telah mengundang langsung dari Papua ke Jogya serta tak lupa menyampaikan terimakasih kepada penghubungnya sebab Asep bisa menampilkan di tingkat nasional dari Papua ke Jogya,” kata Asep.

Ketika ditanya bertanya bagimana Asep bisa memiliki potensi bisa jadi Artis Lokal Papua sampAI tembus ke Nasional dalam kegiatan Opening Ceremony BJXVI Bienalle Jogya Equator 6 Oktober 2021 Indonesia With Oceania,  Ia merasa hal ini tidak terduga diluar dugaan dirinya karena penghubung penyelengara kegiatan Opening Ceremony BJXVI Bienalle Jogya Equator 6 Oktober 2021 Indonesia With Oceania menghubungi ia tampil di panggung nasional maka dirinya benar benar terharu bukan karena karyanya tetapi ada orang yang memperhatikan secara khusus maka dirinya sebagai manusia biasa tidak mampu membalas pergerakan hati yang besar itu ia hanya bisa pasrah dan membakar emosi positif untuk ia terus maju berjuang di dunia instrumental.

Asep tidak memiliki alat apa yang bisa mendukung memproduksi instrumental versi baru klaborasi transformasi musik serba instrumen namun hanya memiliki Laptop standar 64 bit dan aplikasi profesional full style Studio FL12 untuk belajar berkarya, maka semakin lama FL12 sudah bagian dari budayakan untuk operasi dan menyusun musik dan instrumen versi baru (wisisi) dan banyak alat yang menuntut oleh aplikasi tersebut.

“Untuk mendukung program FL12 pro versi lengkap namun keterbatasan finansial seperti kebutuhan mickrofom, Mic perekam, komputer versi full Apple atau programen studio dan mixzer full sistem dan lain bass Full banyak alat pendukung namun merasa hal yang tidak bisa terjangkau karena keterbatasan finansial bisa berkarya standar apa adanya,” ungkap Asep Nayak.

Sejauh ini ia masih mengunakan peralatan standar untuk membuat beat instument lokal sesuai kemampuan yang ada, meski memiliki keinginan akan peralatan yang lengkap, finansial yang menentukan. (*)

Editor: Aguz Pabika

Tinggalkan Balasan