Asep Nayak Diundang Jadi Aktor Film Jepang Shosi, Ini Kisah Perjalannya!

Wamena, nirmeke.com – Dalam rangka kegiatan Opening Ceremony BJXVI Bienalle Jogya Equator #6 2021 Indonesia With Oceania. Kegiatan berlangsung di Jogya Nasional Museum (JNM) Pada Rabu, (07/10/2021).

Ivent Biennale Jogja melibatkan seniman dari berbagai negara dan kawasan sepanjang garis khatulistiwa, mulai dari India, negara-negara Arab, Nigeria, Brazil, hingga negara-negara di Asia Tenggara. Dari berbagai lokasi di dunia, para seniman tersebut diterbangkan untuk menampilkan karya sehingga dapat ditonton oleh segelintir penikmat seni di Jogja.

Apa yang dilakukan oleh Biennale Jogja ini tak ubahnya seperti logika pagelaran seni rupa internasional lainnya, bahwa melalui kekuatan finansial mampu mobilisasi seniman dari mana saja untuk meraih perhatian dari seluruh dunia.

Radio Isolasido (Wok The Rock & Gatot Danar Sulisiyono) seorang seniman asal jogya, mengundang Asep Nayak untuk hadir menampilkan karyanya di daerah Jogya dalam kegiatan Opening Ceremony BJXVI Bienalle, Asep Nayak adalah seorang seniman Papua (Wamena) mempunyai kelebihan Musisi Instrumental lokal dan Fotografer.

“Semenjak saya sekolah menengah pertama banyak hal yang saya alami menghabiskan waktu dengan musik wisisi, kadang terlambat makan, terlambat tidur dan banyak kala orang yang tidak menyenangkan dengan hidup saya selama berkarya itu namun hal itu saya tetap optis semangat terus berkarya hingga saya bisa di undang ikut pameran di jogya, karna itu saya bersyukur kepada Tuhan. “Kata Asep,” ketika dihubungi melalui Via Telepon Celuler oleh Wartawan Nirmeke.com.

Karya Kemampuan ini, Asep Nayak sebagai contoh kepada anak Papua yang lain, bahwa orang Papua itu bisa menjadi seorang artis atau seniman sehingga terus kembangkan potensi yang dimiliki Asep Nayak. segala kebutuhan apapun kita saling Membantu, mendukung, melengkapi hingga bekerja sama.

Setelah kegiatan opening Ceremony BJXVI selesai beberapa hari kemudian dirinya dari tempat tinggal Mes 56 menuju ke Jogya Nasional Museum (JNM) setela sampai tiba tempat museum ia langsung menuju masuk ke dalam gedung pameran untuk melihat hasil karya-karya seniman Jogya saat kegiatan opening Ceremony BJXVII Jogya itu.

“Saya sesampai dalam gedung melihat semua karya seniman dalam gedung, saat itu pun bung Takuro bertemu dalam gedung juga dan tujuan Takuro juga yang sama begitu kami bertemu bung Takuro langsung mendekati saya dan menyanyakan asal nama saya,” cerita Asep.

Hingga menanyakan pertanya itu dirinya menjawab dengan pertanyaan yang di ungkapkan oleh bung Takuro. Awal ia memperkenalkan diri, asal hingga Takuro juga rencana ke Papua untuk shooting film dokumenter, saat itu Takuro meminta via media yang bisa dapat menghubungi hingga saya langsung memberikan nomor handphone bersama bung Takuro.

“Selesai melihat pameran itu saya pulang dan bung Takuro malam itu chat via WhatsApp “Hy Asep….klo hari Minggu ada waktu bisa bantu saya buat film? Pertanyaannya ini buat saya sendiri tertarik dengan kata shooting film sehingga tibanya hari Minggu pukul15:30 sore, saya langsung menuju tempat nya bung Takuro.”

Setelah dirinya tibanya di rumah bung Takuro, teman kerja shooting film Takuro berikan pakaian Jepang untuk saya memakai jadi seorang aktor film tentang Shosi.

“1 sampai 5 menit kemudian latihan adegan film, saya berperan sebagai guru, mengajarkan muridnya untuk cara membuat Shosi yang baik dan benar dalam ruang kelas belajar setela latihan langsung shooting film 2 jam selesai pukul 18:00 wit malam hingga saya pulang kembali ke tempat tinggal,” ujarnya.

Peluang yang di dapat Asep Nayak dengan nam asli Asep Logo tersebut tidak terlepas dari keterlibatan dirinya dalam ivent Opening Ceremony BJXVI Bienalle Jogya Equator #6 2021 Indonesia With Oceania. Ia juga berharap, dapat mengawal perjalanan tuan Takuro di Papua untuk shuting film bersama. (*)

Reporter : Teba Hisage

Editor: Aguz Pabika

Tinggalkan Balasan