Pater Neles Tebay: Paus Belum Sebut Papua

“Nai, saya akan ambil program doktor di Universitas Kepausan Urbaniana di Roma. Di sana saya akan berjuang supaya kata Papua diucapkan oleh Paus. Jika Paus sebut kata Papua saja, biar pun saya sendiri saja di Kampus itu, saya akan waita!”

Saya ingin melanjutkan pekerjaan saya hari ini. Menulis sebuah Cerpen dan Novel. Tapi baru saja saya masuk di akun Facebook, kedapatan dengan tulisan Yosef Rumaseb ini.

Muncul tiba-tiba di layar handphone saya ini. Lalu saya copy dan paste di dinding Facebook saya. Tidak memakan waktu dua detik. Satu detik langsung pak Yosef merespon dengan tanda super.

Sementara saya sibuk mengingat almarhum. Sampai mengingatkan saya dalam sebuah pertemuan pada 2017 lalu.

Waktu itu saya bertemu di kediamannya, kompleks perumahan dosen STFT Fajar Timur. Saya bertemu setelah Pater pulang dari Jawa. Habis berobat.

Ceritanya saya hendak melakukan sebuah investasi terkait kematian anak-anak di bawah umur dan ibu hamil di wilayah Mbua, kabupaten Nduga, Papua.

Disana kami bicara tentang banyak hal. Mulai dari metode investigasi apa yang kami akan gunakan saat itu. Sampai bagaimana untuk melakukan advokasi lebih lanjut.

Pater cukup banyak memberikan pandangan yang sangat brilian. Dia sangat prihatin dengan kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan ibu hamil yang meninggal dunia dalam usia produktif.

Ia berharap agar ada sebuah ruang dialog, kelak untuk menyelesaikan akar persoalan di Papua dengan cara damai–tanpa kekerasan.

Dalam diskusi lepas itu, ia bakal sedikit menyinggung kerinduannya.

Adama yang suka bicara santai dan rama itu bicara soal kerinduan dia agar kelak pimpinan gereja katolik di Roma angkat suara soal Papua.

Dia ingin sekali pada suatu hari Paus bicara tentang Papua. Bicara ini bikin saya sedih. Sungguh.

Dia memang tidak bicara secara benderang. Tapi dengan hati-hati mengatakan: “yang paling berat itu membuat kita punya pimpinan gereja ini bicara soal perdamaian di Papua”.

Kerinduan Pater Neles yang diutarakan oleh Pak Yosef ini sangat benar. Sama seperti ia sampaikan kepada saya dan berapa teman.

Ia selalu menginginkan agar kelak pimpinan gereja katolik itu berkunjung ke Papua.

Jika tidak bisa berkunjung ke Papua, maka cukup sebut nama Papua dari luar.

Jangankan berkunjung, menyebut dalam doa tak kelihatan saja ia sangat senang. Kerinduan itu ia nantikan selama hidup. Sampai akhir hayat.

Sudah tiga tahun Pater Neles pergi. Tapi sayang, Paus tak kunjung datang dan tak lagi menyebut nama Papua. Bahkan Pater tak sempai goyang. Sedih.

Lalu, kapan Paus akan menyebut nama Papua? Pater tidak tahu. Kita pun tidak tahu.

Tapi diharapkan supaya gereja katolik Roma yang memiliki dosa politik terhadap orang Papua melalui “Roma Agreement” itu kelak meminta maaf kepada orang Papua.

Gereja ini harus berani berkata jujur dan merasa bersalah. Dengan sadar dan dengan rasa tanggung jawab moral politik kelak bicara soal nasib dan masa depan orang Papua.

Neles tahu, sebut nama Papua oleh Bapa Suci di Tahta Suci Vatikan, Papua tidak langsung jadi damai. Tapi dia senang karena kerinduannya bisa diobati dan dia bisa menyaksikannya.

Semoga buah kerinduan Neles Tebai itu jatuh pada generasi ini. Jika, tidak sempat goyang di hadapan Paus, waitalah di hadapan Allah, Neles Tebai.

Karena Tuhan akan bekerja dan Paus akan menyebut nama Papua. Entalah kapan, kita berdoa kepada Tritunggal saja dalam iman dan pengharapan.

Neles Tebai kalau jadi Uskup Keuskupan Jayapura pasti bikin mulut Paus Fransiskus hari ini beda. Sayang, hanya saja ada yang tidak suka dengannya.

Neles Tebai sakit, menderita dan meninggal dunia secara halus. Seakan seperti pembunuhan terencana dan sangat sistematis. Motifnya dengan kematian pastor Papua lain hampir mirip.

Damailah bersama para kudus, Neles Tebai. Serukan perdamaian untuk tanah air dari sorga. Nyatakan kerinduan dalam doa-doa luhur dari hadirat Allah.

 

Sumber: fb Soleman Itlay

Tinggalkan Balasan