Taman wisata owasi-owasika di dalam kota Wamena

Meskipun pandemi Covid-19 masih melangit dimana-mana, wisatawan yang memiliki nekat dan tidak sabar pasti akan datang ke Wamena untuk menikmati keindahan bunga owasi-owasika pada bulan Mei besok.

Tak hanya masyarakat. Pemerintah daerah, terutama dinas Pariwisata mulai sekarang harus memikirkan langkah-langkah solusif sebelum menghadapi para wisatawan nanti.

Sebaiknya, dinas pariwisata serta dinas terkait lainnya bisa bekerja sama dengan semua stackholder. Terutama masyarakat dari beberapa distrik yang memiliki hak ulayat di sekitar lokasi wisata owasi-owasika.

Lalu sama-sama memetakan lokasi, jenis wisata dan mengatur segala macam rencana yang berhubungan dengan pengembangan dan peningkatan wisata di samping memberdayakan masyarakat adat setempat.

Tempatkan masyarakat di depan. Kemudian pemerintah daerah backup dari belakang. Berikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk manfaatkan momen ini secara baik dan benar. Pemerintah harus siapkan dana, peralatan dan lainnya untuk mendukung masyarakat adat.

Pemerintah daerah harus bantu masyarakat adat untuk membeli tempat sampah, membangun pondok-pondok kecil, tempat duduk, papan nama, tulisan-tulisan unik seperti “sa cinta ko” di papan, beli paku, martelu, seng, bayar tukang dan lain sebagainya.

Misalnya, beberapa lokasi bikin bentuk rumput Owasi-owasika seperti love ❤, atau tulisan seperti I Love U, Sa Cinta Ko dan lain sebagainya. Bisa juga pasang tulisan di sejumlah spot dengan foto atau gambar atau lukisan seni tertentu.

Bahkan tulisan nama asli rumput itu dengan kata-kata menggunakan bahasa asli. Sekalian ajak orang untuk sadar akan anugerah Tuhan lewat bahasa Hugula.

Bila perlu itu di padukan dengan bahasa Indonesia, di Inggris, Belanda, Rusia, Perancis, Mandarin, Jepang, Tok Piksin, dan lain sebagainya.

Pendekatan semacam ini sangat baik untuk menarik perhatian wisatawan. Masyarakat dan pemerintah bisa merancang tempat wisata tersebut sedemikian rupa.

Bukan apa. Tapi supaya ke depan wisata tersebut makin tenar dan terus menarik perhatian sampai di kanca dunia luar. Sampai harus membuat wisatawan asing banyak yang ingin berkunjung setiap bulan Mei.

Pemerintah bisa membantu masyarakat adat untuk tata kelola wisata secara efektif. Misalnya, untuk atasi masalah kebersihan di sekitar lokasi owasi-owasika tumbuh, penempatan petugas keamanan dan kebersihan, tarif harga dan lainnya.

Jauh-jauh hari, pemerintah harus membekali masyarakat adat seperti itu. Tidak harus tunggu hujan kritikan dari para pihak.

Pemeriksaan daerah selaku penanggung jawab utama masyarakat, harus dan wajib membantu masyarakat di bidang manajerial tata kelola.

Tata kelola itu meliputi administrasi, keamanan, kebersihan dan lain sebagainya. Regulasi seperti ini sangat baik dan penting agar membuat masyarakat adat benar-benar berdaya. Soal administrator misalnya, orang dinas bisa pasang masyarakat untuk jadi juru tagi dan lain sebagainya. Lalu hasilnya bagi dua sampai benar-benar membuat masyarakat berdaya dan sejahtera lewat potensi wisata tersebut.

Petugas Parawisata bisa ajarkan ke penduduk cara menarik wisatawan seperti apa. Harus arahkan warga bisa buat secara alami. Tanpa harus ganggu ataupun merusak semua keutuhan yang mencerminkan keindahan alam.

Pemerintah kalau bekerja sama dengan masyarakat adat baik, bisa mendapatkan pendapatan aset daerah [tambahan] dari situ.

Masyarakat pun sama. Kalau mampu kelola dan bisa kerja sama dengan pemerintah dan semua pihak terkait lainnya, bisa membuat diri mereka semakin berdaya di kota sendiri.

Bahkan mendapatkan pendapatan sehari-hari. Hal itu baik adanya guna memenuhi kebutuhan hidup, serta meningkatkan taraf hidup masyarakat dari situ.

Soal tarif ini banyak pengunjung mengeluh karena rasanya amat mahal. Sehingga masyarakat juga tidak perlu nuntut mahal-mahal. Cukup minta Rp 5 – 10 ribu.

Kita harus belajar dari daerah lain. Seperti di Bali atau di luar negeri, harus membuat pengunjung rasa aman dan nyaman dengan harga yang mudah dijangkau. Kualitasnya harus didukung dengan keindahan yang mampu terjamin. Artinya, membuat pengunjung menikmati dengan puasa. Harus mendahulukan kepentingan dan kenikmatan pengunjung. Bukan mendahulukan pendapatan.

Pendapatan mudah saja. Asal objek wisata dan harga diatur supaya yang masuk akal dan mudah terbang. Bahkan itu memang diperhitungkan dengan tingkat keamanan dan kenyamanannya.

Pendapatan tak harus mahal selamanya. Sedikit dan kecil tapi setiap hari ada pemasukannya. Bahkan perlahan tapi lama kelamaan menjadi bak bukit.

Sebab dari sedikit itu, kalau di tapung dari satu demi satu pasti akan semakin banyak. Bila perlu buka koperasi agar masyarakat benar-benar bangkit, sejahtera, berdaya dan hidup mandiri dari situ.

Selain itu, bila perlu pemerintah membuka sebuah taman wisata owasi-owasika di dalam kota. Misalnya, di samping Salib Kristus, taman Kurulu Mawel dan lainnya.

Biar orang yang tidak bisa keluar kota, atau takut berkunjung serta tidak punya waktu keluar kota, dapat menikmati keindahan owasi-owasika di taman itu.

Intinya begini, kedepan sebaiknya pemerintah harus membuat sebuah taman owasi-owasika di dalam kota Wamena.

*Tulisan ini diolah dengan tulisan dari Nyongki Olua, anak lahir besar Wemena. Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus Memberkati.

Tinggalkan Balasan