AMPTPI Layangkan Mosi Tidak Percaya Kepada Ketua DPR Papua Karena Tidak Pro Rakyat

Jayapura, nirmeke.com – Pemerintah Provinsi Papua dan Ketua DPR Papua sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Pusat jangan mengabaikan aspirasi Rakyat Papua, semestinya pemerintah menjadi jembatan dalam menindak lanjuti aspirasi rakyat Papua terkait penolakan Perpanjangan otsus, dan Daerah Otonomi Baru di Papua.

Hal tersebut di sampaikan Ambrosius Mulait Sekjen Aliansi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua Indonesia (AMPTPI) kepada suarapapua.com. Minggu, (21/2/2021).

Kata Mulait, upaya penyelesaian masalah di Papua secara holistic tetapi kondisi legislatif tidak sikron akan memberikan kesan buruk terhadap rakyat Papua.

“Rakyat Papua memilih untuk mengakomodir aspirasi rakyat, bukan aspirasi kelompok tertentu yang terkesan merugikan rakyat. Kehancuran di dalam Fraksi anggota DPRP Papua merupakan wujud dari ketidak mampuan pegislatif dalam menjalakan fungsi pengawasan dan kontrol atas kebijakan Pemerintah,” kata Mulait.

Dia mengatakan, dua kubu dalam Internal legislatif Papua memberikan kesan buruk dalam sejarah parlemen Papua. Ketua DPRP Papua mampu merangkum semua fraksi, sebab Semenjak dilantiknya sebagai anggota DPRP Papua tidak ada terobosan baru yang dilakukan. Dampak dari dua kubu di DPRP Papua memberikan efek politik buruk bagi orang Papua.

“Seharusnya DPRP mengunakan wewenang menyampaikan aspirasi kepada Pemerintah pusat, agar dipertimbangkan. Justru sebaliknya DPRP mengakomodir kepentingan Pemerintah Pusat ketimbang rakyat Papua. siapa yang akan menampung dan menindaklanjuti aspirasi rakyat Papua sebagai wujud pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya,” tegasnya.

Lanjutnya, AMPTPI memberikan mosi tidak percaya kepada Ketua DPRP Papua, yang mana mengabaikan dan bertolak belakang dengan aspirasi rakyat Papua. semestinya Ketua DPRP seharusnya pro rakyat bukan proterhadap kepetingan politis praktis Jakarta, dan tidak membangun kerang perpecahan.

“Rakyat Papua mempunyai memoria pasionisme karena kebijakan Jakarta yang diskriminatif dan rasis terhadap orang Papua, Jika legislatif tidak benar seperti ini kesan apa yang akan berikan kepada rakyat. Baiknya Ketua DPRP Papua mengundurkan diri secara hormat, agar tidak memberikan dampak buruk terhadap nasip rakyat Papua masa mendatang,” tegasnya.

Alexander Gobai mantan ketua BEM USTJ Jayapura juga bersama BEM se Papua membuat kajian ilmiah tentang implementasi Otsus Papua selama 20 tahun di tanah Papua dan hasil dari pada kajian tersebut sudah di serahkan ke pemerintah provinsi Papua, DPR Papua, MRP Papua dan lembaga-lembaga terkait.

“Dalam kajian ilmiah tersebut sudah jelas apa yang diinginkan oleh masyarakat Papua dan apa yang dirasakan masyarakat Papua selama 20 tahun berjalan Otsus sehingga pemerintah daerah harus mendorong hal ini yang menjadi keinginan rakyat Papua bukan mendukung keinginan kelompok atau institusi tertentu yang nyatanya memperpanjang penderitaan orang asli Papua,” tegasnya.

Dari hasil kajian tersebut kata Aleks, mahasiswa se Papua, para dosen dan masyarakat Papua jelas-jelas menolak Otsus jilid 2 dan mereka nyatakan 20 tahun Otsus di tanah Papua sudah gagal. (*)

Reporter : 
Editor : Aguz Pabika

Tinggalkan Balasan