Mengenal Rein Foreman Ansanay, Pemuda Gigih yang Membiayai Kuliahnya Dari Hasil Odong – odong

Demi Rp 30 ribu/Hari Untuk Ongkos Taxi Hingga Rela Dimaki dan Diejek

Nasib dan rejeki seseorang tak ada yang tahu karena sudah diatur oleh sang pencipta. Meski harus bersusah payah, jerih payah Rein Foreman Ansanay tak mengecewakan. Ia berhasil diwisuda dengan uang hasil keringatnya, menjaga odong – odong.

Sebuah odong – odong dengan panjang sekitar 6 meter terlihat melintas menyisir di jalan Percetakan Jayapura, Kamis (4/12). Posisinya memang melawan arah namun ini harus dilakukan agar tidak memutar sangat jauh ke arah jalan Samratulangi Jayapura untuk menuju parkiran di depan Sagu Indah Plaza, Jayapura.

Ya lokasi parkiran inilah yang menjadi tempat mangkal odong – odong yang setiap harinya dijaga oleh seorang pemuda kelahiran Jayapura 28 Mei 1998 bernama Rein Foreman Ansanay. Bentuk odong – odongnya terlihat lebih panjang dibanding biasanya dan terdapat delapan kursi atau bentuk mainan yang bisa diduduki anak – saat odong – odong berputar.

Odong – odong ini terlihat cukup berat jika harus ditarik sendiri sehingga harus menggunakan tenaga bantu. Ada yang menarik dan ada yang mendorong. Tempat ngetem usai beroperasi biasa dititipkan di lapangan futsal di Jl Percetakan agar dekat jika sorenya mau dibawa ke parkiran depan SIP. Nah yang setiap hari mengerjakan parkir dan “masuk kandang” ini adalah Rein Foreman Ansanay.

Anak ketiga dari tujuh bersaudara pasangan Hiskia Ansanay ibu Rita Lamina Kendi. Setiap harinya Rein harus menarik odong – odong dan menjaga kemudian memulangkan. Alat hiburan sederhana anak – anak ini sendiri bukan miliknya pribadi melainkan milik seorang anggota Polisi di Pol Air Polda.

Rein sendiri awalnya bekerja hanya menarik dan memulangkan odong odong. Ini dilakukan karena ia membutuhkan uang tambahan untuk kuliah. Ia menceritakan sejak semester 4 ia sudah menjaga odong – odong tersebut dengan bayaran Rp 30 ribu/ hari. Hitungannya Rp 15 ribu saat odong – odong menuju lokasi parkiran dan Rp 15 ribu saat pulang. Rein sendiri mengaku tak malu dengan pekerjaan nyambinya tersebut mengingat ia tak mau memberatkan orang tuanya untuk biaya kuliah.

“Jadi sejak semester 4 saya sudah mencari uang sendiri. Hasil Rp 30 ribu itu saya pakai untuk uang taxi sampai akhirnya saya lulus kuliah,” ceritanya, di Jayapura, Kamis (4/12).

Ia tak menampik jika sebagian besar waktunya lebih banyak habis jalan. Sebelumnya ia bekerja sebagai tukang parkir, itu dilakukan sebelum jadwal kuliah. Jika sudah memperoleh uang Rp 20 ribu, uang inilah yang dipakai untuk membayar taxi ke kampusnya.

“Odong – odong ini abang Polisi punya, saya diberi kepercayaan untuk mengelola. Sebelumnya saya hanya dorong saat akan keluar dan pulang tapi lama – lama abang dia suruh saya yang tangani,” jelasnya.

Status yang berubah ini secara otomatis pendapatannya juga berubah pemilik alat (odong – odong) hanya membebani uang Rp 200 ribu setiap hari dan Rp 300 ribu setiap malam minggu yang harus disetor.

Nah Rein sendiri blak-blakan bahwa dari pengelolaan ini ada bagi hasil dimana ia mendapat 25 persen dan uang makan Rp 30 ribu.

“Kalau semalam bisa dapat Rp 500 ribu, saya bisa dapat kantongi Rp 185 ribu Tapi kalau malam minggu biasanya menyetor Rp 300 ribu karena banyak yang main,” tuturnya.

Uang Rp 185 ribu ini lanjut Rein terkadang ia memberikan kepada adiknya termasuk membantu uang taxi bagi teman-temannya.

“Tapi kalau sepi seperti hujan biasa tidak ada yang main dan saya juga sampaikan dengan jujus kondisinya,” ceritanya.

Sejak 2017 inilah ia bisa membiayai uang kuliahnya sendiri dan akhirnya pada 26 November kemarin ia dinyatakan lulus dan diwisuda. Rein sendiri kuliah di Jurusan Ilmu Administrasi Fakultas Fisip Uncen.

Menariknya setelah ia diwisuda, ia mencoba iseng – iseng mendorong odong – odong menggunakan pakaian wisuda lengkap kemudian foto ini diposting.

Nah foto inilah yang sempat ramai diperbincangkan netizen dan kebanyakan memberi apresiasi atas upaya dan kerja keras hingga bisa lulus kuliah dengan uang hasil keringat sendiri.

Ditanya soal suka dukanya, Rein menceritakan bahwa kadang dia diledek oleh teman – teman kuliahnya saat mendorong odong – odong. Kadang juga ia dimarah karena odong – odongnya makan tempat dan mengganggu parkiran.

“Pernah juga ditendang – tendang dan dimaki karena odong – odong makan tempat. Tapi itu dulu, sekarang teman – teman mulai mengerti,” kenangnya dengan mata berkaca – kaca.

Nah setelah lulus kuliah ini Rein mengaku masih mencari kerja dan ia memiliki pemikiran untuk memiliki odong – odong sendiri.

“Kalau ada modal kenapa tidak, kalau malu – malu nanti lapar. lingkungan memang keras tapi saya harus bisa berbeda dan berusaha sendiri,” ucapnya.

Rein mengaku bangga dengan buah kerja kerasnya sebab dari bekerja ia bisa membeli Handphone sendiri, membeli pakaian dan biaya kuliah.

“Kalau ada peluang usaha yang bisa dikerjakan dan halal saya pikir mengapa tidak dilakukan ketimbang bikin susah orang tua, minta – minta atau mungkin mencuri. Saya meyakini kerja keras tidak pernah menghianati hasil,” imbuhnya. (*)

Sumber: Cepos Online

Tinggalkan Balasan