Cerpen: Membawa Cinta Ke Papua

Wanita Sunda Melayu, kelahiran tanah Jakarta, namanya Mitta. Ia harus ke Papua bertemu dengan cintanya. Mitta belajar tentang ilmu sosial selamah lima tahun dikampus dan Ia banyak membaca buku umum seperti bapanya seorang jurnalistik senior di korang Tempo. Mitta berkeinginan menulis tentang Papua setelah Ia menyelesaikan pendidikan S1 di kampus ternama di Kota Metropolitan Jakarta, Universitas Nasional [UNAS].

Setiap saat Ia memburu perkembangan ekonomi politik  yang terjadi di Papua melalui media online. Sakin tertariknya terhadap dunia Papua, Mitta berteman dekat dengan Yosep, hanya Dia orang asli Papua di angkatan mereka kuliah di kampus Unas. Yosep anak asli Papua asal Kampung Puay Sentani yang menempu Pendidikan bersama Mitta, Yosep suka membaca buku.

Satu  Minggu terakhir sebelum Mitta pergi ke Papua, dirumah, Mitta harus berdebat dengan mamanya, mamanya melarang Mitta berangkat ke Papua:

“Mama satu minggu lagi saya akan berangkat ke Papua,” Kata Mitta sambil melepas sepatu masuk kerumah.

“Untuk apa ke Papua, disana daerah kongflik,” Larang mamanya.

“Saya mau bertemu Cinta,” Balas Mitta

“Mitta, kamu gila?,” Marah mamanya melarang Mitta.

“Cukup mama, hidup besok adalah hidup saya,” Ucap Mitta kepada mamanya dan masuk kamar.

“Ini mama, dengar Mitta,” Balas mamanya mengejar Mitta ke kamar.

“Cukup mama, satu Minggu Lagi, Bye…!!,” Balas Mitta sambil menutup pintu kamar dan diam.

Mitta lahir 22 Oktober 1993, lahir di ibu kota Indonesia, Jakarta. Bapaknya telah almarhum pada sepuluh tahun yang lalu. Seluruh hidup bapaknya habis didunia kertas dan pena, hidupnya berakhir dengan jurnalistik tempo yang dikenal terbaik. Mita Ingin menjadi bapaknya.

Mama Mitta seorang pengusaha yang cukup sukses di wilayah Jakarta, memiliki rumah yang bagus dan memiliki mobil dan motor lebih dari satu, tapi mamanya telah menikah dengan pria keturunan tionghoa di Jakarta, seorang pengusaha kelas satu diwilayah ibu kota Indonesia, mereka miliki beberapa ruko dan hotel berbintang lima di Jakarta.  Tapi lain bagi Mitta, pikiran Mitta biasa saja, Ia ingin hidup sederhana seperti kata-kata bapaknya sebelum meninggal.

Hari sabtu malam Mitta sudah siap rapi, beberapa buku bacaan sudah dalam tas, baju tidak banyak, secukupnya. Ia akan tinggalkan rumah bersama mamanya demi cinta yang perna hadir walaupun hanya singkat dalam waktu yang tidak diduga:

“Mama, sudah satu minggu lewat dan saya harus berangkat,” Jelas Mitta tanpa ragu kepada mamanya.

“Mitta kamu mau cari apa di Papua, bahaya disana,” Jelas mamanya menahan Mitta tidak ke Papua.

“Sudahlah mama, saya ingin hidup disana,” Balas Mitta kepada mamanya.

“Oke, nanti pulang cepat kalau ada apapa, bentar nanti cek, mama nanti krim uang jalan,” Balas mamanya biarkan Mitta ke Papua.

“oke mama, makasih, da…da…mama.” Balas Mitta pamit dari rumah naik mobil.

Mitta sudah  kenal sama Yosep selamah lima tahun, anak Papua yang suka buku sosial juga, Yosep satu jurusan dengan Mitta di kampus Unas. Selamah mereka kuliah, mereka sering diskusi di cafe tentang ilmu sosial dan pengetahuan umum. Setelah mereka berpisah dua tahun lebih dari Jakarta. Yosep sudah lama di Papua menikah dengan perempuan Papua namum berpisah karena maut yang datang tak dipangil, rupanya mereka akan bertemu di Papua dan itu janji di malam terakhir sebelum paginya Yosep akan berangkat dari kos warna biru nomor 05:

Telfon masuk di hpnya Yosep, “Halo Mitta,”.

“Saya sudah dalam pesawat tujuan Jayapura”, Jelas Mitta kepada Yosep.

“Serius ini?,” Kaget Yosep.

“Yosep, ia Ini serius, besok pagi jemput saya,” Balas Mitta, singkat.

“Ya..Mitta, sama siapa?,” Tanya Yosep lagi.
“Sendiri,” balas Mitta.

“Kenapa kamu datang?, nanti tinggal dimana?,” Tanya lagi Yosep.

“Sudah jemput saya besok pagi, ini janji kita Yosep, igat kan?”, Singkat Mitta.

“Ia baik,” Yosep.

Pagi jam 09:23 Waktu di Sentani Papua, cuaca sungguh baik menyambut Mitta injak tanah Papua. Yosep sudah berdiri di pintu keluar di gedung Bandar Udara Sentani, Jayapura, Papua. Penampilan Yosep berubah selamah  dua tahun lebih di Papua, Dia jarang merapikan rambut dan jenggot selayaknya di Jakarta waktu kuliah. Yosep kebanyakan tinggal di kampung, jarang ke kota dan Yosep suka kesunyian di kampung Puay Sentani Timur, Jayapura, Papua. Kampung yang menempel dibibir Danau Sentani.

Mata Yosep melihat Mitta keluar memegang coper dan gendong tas yang sering Mitta pakai dulu semasa kuliah di Jakarta,“Hey..Mitta,” tiga kali Yosep memanggil, hampir Mitta lupa pada Yosep:

“Hai, Yosep”, Balas Mitta melihat Yosep, Mitta Memeluk.

“Kamu sudah berubah Yosep, ” Ucap Mitta melempar senyuman pertama.

“Ia, begitulah,” Balas Yosep membalas tersyenyum.

Yosep membantu pegang coper”, Ayo kita jalan”, ajak Yosep ke Mitta.

“Ayo, Mobilmu dimana?”, Tanya Mitta.

Kaget Yosep, “Ya..Mitta, saya tidak punya mobil, saya hanya punya motor Jupiter lama”, balas Yosep.

“Okey, Ayo, ” Balas Mitta dengan semangat.

Motor yang sedikit lambat, tidak seperti beberapa motor yang kuat di kota Jayapura. Sampai di parkiran Motor:

Yosep menunjukkan motornya,” Lihat Mitta, ini motor saya, kamu harus pake Mobil nanti saya sesuaikan dengan motor”

“Yosep, kamu pikir apa?, lima tahun kita bersama dikampus Unas di Jakarta, Kamu kan sudah tau saya, kan saya suka hal-hal yang sederhana begini, apapun kita bersama disini” Jelas Mitta kepada Yosep.

Ajak Yosep,”Ayo, kita berangkat”

Coper coklat berdiri memanjang di depan, Yosep menyetir motor, kota Jayapura cerah, melaju pelang, Yosep dan Mitta. Yosep masih bigung dan merasah aneh, Mitta akan kemana dan urusan apa ke Papua, Ia lupa kalau malam terakkir mereka tidur di kos adalah malam yang sangat special untuk Mitta, Yosep hanya biasa saja:

“Mitta, saya antar kamu kemana?, saya harus pergi ke kampung saya, bapa saya sakit di kampung”, Tanya Yosep setelah bertanya-tanya dalam hati.

Singkat Mitta, “Saya ikut kamu Yosep”

Yosep bertanya,” kamu ke Papua urusan apa?”

“Yosep, kamu dengar, saya ini temanmu, saya hanya lagi belajar jatuh cinta dengan orang Papua, Emanya tidak boleh saya jatuh cinta sama orang Papua”, Tegas Mitta.

Yosep kaget dan berbisik dalam hati, ternyata Mitta cari cinta di Papua tapi tidak, bagi Mitta Yosep adalah cintanya, Ia ke Papu demi Yosep setelah melihat story Yosep, Ia lajang setelah Istri dua anak itu meninggal karena musibah longsor di Kaki gunung Siklop Sentani. Aduh saya suka Mitta dari dulu waktu di Jakarta, tapi saya punya anak satu, Istri saya sudah meninggal terkena musibah longsor. Rumah saya jauh dari sederhana, gubuk dengan papan tripleks dan sebagian daun seng bekas.

Balas Yosep,”Okey tapi rumah saya tidak layang Mitta, kamu bisa munta-munta disana”

Balas Mitta, “Dimana pun layak bagi kamu Yosep, itulah saya bisa tinggal disana”,

“Mitta kamu tinggal di Hotel saja?,” Minta Yosep.

“Tidak Yosep, kita kerumahmu saja,” Minta Mitta tetap ke rumahnya Yosep.

Rumah Yosep di Kampung Puay Sentani Timur, kampung yang menempel di danau Sentani, tempat Yosep lahir dan besar disana. Yosep perna memiliki Istri namun meninggal tertimbung longsor pada 16 Maret 2019 sementara Istrinya pergi bermalam dikeluarga bersama anak keduanya yang masih balita, meninggal bersama balita dibelukan mamanya.

Yosep tinggal bersama bapaknya yang telah lansia berumur 79tahun dan anak pertama Yosep yang sudah empat tahun:

“Rumah agak jauh dan sunyi dari kota,” Jelas Yosep.

“Saya suka Yosep, ramai salah satu alasan saya tinggalkan Jakarta,” Balas Mitta.

Setelah satu jam diatas motor menuju kampung, Yosep dan Mitta sampailah dirumah, di kampung Puay yang sunyi dibibir Danau Sentani.
Bapa Yosep sedang duduk makan pinang depan teras rumah:

”Siang anak,” balas bapa Yosep setelah Yosep dan Mitta beri salam dari pintu masuk mata jalan.

“Lihat Mitta, inilah gubuk kami yang tidak layak, seharusnya kamu harus nginap tempat yang lebih baik,”. Jelas Yosep sambil menunjukkan kondisi rumah.

“Yosep, cukup kamu bicara begitu, saya sudah bilang tadi, ini yang saya suka,” Tegas Mitta kepada Yosep lagi.

Yosep terdiam dan menggajak Mitta memandanggi danau yang teduh dan cantik dibalik rumah. Mitta kagum dengan wajah danau sentani:

“Cantik sekali danau Sentani, ” Mitta merasah jiwanya terobati.

“Ia, inilah danau sentani, ” Singkat Yosep.

“Yosep anak mu yang ditinggalkan Ibunya dimana?,” Tanya Mitta setelah duduk.

Yosep kaget dan berkata dalam pikiranya, Mitta tahu darimana tentang ini semua, Yosep ingin menyembunyikan semua itu tapi tidak, Mitta sudah tahu:

“Kok, Mitta tau?,” Tanya heran,  Yosep.

“Ia tahulah, jejakmu berlebihan di facebook,” Balas Mitta.

Nampaknya Mitta sudah ikuti Yosep di platform media facebook:

“O…ia begitulah,” Balas Yosep memandanggi danau, sedih.

“Kamu tunggu disini saya siapkan papeda kita makan”, Yosep berdiri dan masuk kerumah, dapurnya.

Bapaknya sudah menanti untuk bertanya di dapur:

“Yosep, Itu perempuan apa yang kamu bawah datang, suruh Dia pulang bapa tidak punya Uang Yosep,” Tanya bapaknya dengan tegas.

“Bapa itu saya punya teman kuliah dulu di Jakarta,” Jelas Yosep.

“O…..ia pikir ko punya maitua baru jadi bapa bilang,” Balas bapaknya.

“Kalau maitua kenapa jadi bapa?,” Tanya Yosep gegas menyiapkan papeda untuk makanan siang.

“Yosep, ko igat, jangan sentu Dia, bapa tidak punya Uang dan tidak mau malu depan banyak orang,” Jelas bapaknya kepada Yosep.

“Bapa Dia itu anaknya orang kaya di Jakarta, mamanya pengusaha besar di Jakarta dan bapa keduanya orang China, pengusaha sukses juga,” jelas Yosep.

“Makanya itu, pasti mereka tidak setuju sama kau Yosep,kamu hanya anak kampung dan tidak punya apapa, rumah hanya di kampung, dapat uang lima ribu saja tidak mampu sehari, Yosep Igat, kita ini keluarga yang miskin,” Bapa Yosep berkata keras dalam sedih. Yosep terdiam:

“Bapa mantu sudah cukup, saya suka kehidupan yang sederhana seperti ini walaupun bapa dan mama saya orang kaya di Jakarta. Ayahku seorang yang hidup sederhana seperti kalian tapi mama saya tidak, bapa saya sudah meninggal waktu saya kecil, mama saya menika lagi dengan pria china yang kaya raya, Ayah saya mendidik saya harus mencintai yang sederhana dan saya suka suka Yosep sejak kami kuliah di Jakarta dan saya sudah mencintai Yosep bapa,” Jelas Mitta membela diskusi serius antara Yosep dan bapaknya di dapur, Ia mendegar dibalik pintu dan Mitta tersentu dan Ia harus menjelaskan perasahanya ke bapanya dengan bercucur linang air mata. Yosep dan bapaknya terpaku diam. Dengan sedih yang mendalam, Mitta memeluk Yosep:

“Yosep, saya punya Uang di rekening, mama selalu krim setiap minggu, saya punya banyak uang direkening hari ini. Tapi tidak Yosep, perasahaan saya tidak mampu saya amputasi dengan uang, sudah lama saya suka kamu dan puncaknya dimalam itu, itulah alasan utama saya harus bertemu kamu dan tinggal disini bersama,” Jelas Mitta sambil memegang tanggan Yosep.

Yosep diam terkunci, tidak menduka hal ini, tapi Dia ingat waktu masa kuliah selalu bersama Mitta semenjak semester satu, Ia Ingat perna bersama Mitta, tidur di kosnya sebelum Yosep pulang jedah satu minggu ke Papua. Yosep menjadi orang pertama yang menyentu tubuh Mitta. Mitta sulit melupakan Yosep selain Ia sakit hati waktu Yosep mempostin photo bersama istrinya di facebook:

“Bapa, besok kita renovasi rumah dan kita lengkapi semua,” Jelas Mitta kepada bapanya Yosep.

“Makasih anak, tapi kamu tidak pura-pura mencintai Yosep?,” Tanya bapaknya Yosep.

“Tidak bapa, Yosep cinta pertama saya, Dia mengganjari saya hal-hal yang berbedah dan tidak lama lagi kita menikah,” Balas Mitta sambil melihat Yosep, Yosep tersyum.

Anak Yosep namanya Lena pulang dari sekolah, Ia menyapa selayaknya anak sekolah pulang kerumah:

“Bapa sudah pulang,” Pangil Lena memeluk Yosep, bapaknya.

“Itu siapa bapa?,” Tanya Lena kecil setelah wajah mengarah ke Mitta.

“Mari peluk mama,” Sambut Mitta kepada Lena kecil.

Lena kecil langsung memeluk Mitta, Lena sudah lama rindu seorang mama seperti mamanya yang telah lama pergi karena musibah bersama adik kecil Lena. Dalam pelukanya Lena, Mitta berkata, kita akan hidup bersama Lena, saya mama kamu, hidup dalam natural alam bersama kesederhanaan hidup kita disini. Inilah keluarga yang saling mencintai kebahagiaan dan masa sulit nantinya.

Satu bulan lamanya mereka hidup di kampung Puay seperti satu keluarga yang telah kembali bertemu. Mitta sudah renovasi rumah serta melengkapi isinya. Mitta juga membeli motor untuk akses ke kota.

Sore matahari mulai tenggelam di pundak perbukitan Papua diseberang danau Sentani, diatas kota Sentani. Yosep dan Mitta duduk di pinggiran danau sentani:

“Yosep, saya sudah hamil lima bulan, saatnya saya harus beritahu orang tua saya di Jakarta,” Kata Mitta memandanggi wajah berjengot, Yosep.

“Ayo, telfon sekarang,” Balas Yosep memeluk Mitta.

Telfon masuk ke handphone mamanya, trik…trik…trikk.

“Mitta ayo pulang, sudah lama kamu di Papua, bahaya lho, ” Jelas mamanya.

“Mama, Mitta minta maaf, saya sepertinya mencintai Papua dari Jakarta dan mama tahu, saya ke Papua mencari Cinta Sejahtiku,” Jelas Mitta kepada mamanya.

Mamanya kaget,”Apa, Mitta mencari cinta Sejatinya?,”

“Ia mama, saya ke Papua bukan karena Ilmu saya sebagai seorang sarjana antropologi tapi, saya ke Papua mencari Cintaku waktu kami kuliah, Dia Pria hitam yang sederhana, saya cinta lebih dari segalanya,” Balas Mitta kepada mamanya.

Mamanya sedikit aneh dan bertanya, “Jadi, Cintamu laki-laki Papua,”

“Ia mama benar, saya mencintainya”, Balas Mitta sambil memandanggi Yosep dari dalam pelukanya.

Mamanya terdiam dan Mitta berkata lagi:

”Mama pasti tidak bisa lupakan bapa yang sudah meninggal tinggalkan saya karena Dia pria pertama bagi mama,”

“Ia Mitta benar,” Balas mamanya dengan lembut.

“Mitta juga demikian, dan itulah saya ke Papua demi cintaku,” Jelas Mitta kepada mamanya.

“Saya minta maaf mama, saya sudah hamil lima bulan dan ini cucu dari mama, Dia akan memanggil nene,”, Jelas Mita.

Mamanya kembali heran dan bertanya,” kamu hamil?,”

“Ia mama,” Balas Mitta.

“Mana Bapanya yang kamu cinta itu,” Tanya mamanya.

Minta memberikan handphone kepada Yosep:

”Hallo mama, saya minta maaf,” Kata Yosep.

“Kamu pria hebat, kita akan berjumpa,” Singkat mamanya Mitta kepada Yosep dan mamanya langsung matikan hanphone.

Mitta menelpon lagi ke mamanya:

” Hallo Mitta,” Balas mamanya.

“Mama marah saya dan Yosep?, Ini bukti cinta kita mama,” Jelas Mitta kepada mamanya.

“Mitta, mama akan ke Papua,” Singkat mamanya.

“Ia mama, kami dua harus menikah secepatnya,” Balas Mitta.

“Mama akan urus semua dan jaga bayi kecil kita,” Jelas mamanya sambil Ia memimpin rapat di kantor perusahaanya di Jakarta.

“Makasih mamaku,” Singkat Mitta.

“Ia,” Tutup mamanya.

Dua minggu kemudian, mamanya tiba di Papua, Ia memanggil Mitta ke penginapan, di hotel Green Abe. Mitta bersama Yosep berangkat ke Abe. Mamanya salam Yosep tak berkata apapun, Mama Mitta perintakan untuk menikah dua hari kedepan karena mamanya harus kembali Jakarta secepatnya.

Hari Rabu pagi, semua teman Yosep dan warga di kampung menghadiri acara pernikahaan antara Yosep dan Mitta di kampung Puay, sangat meriah. Mitta menggubah hidup Yosep lebih baik bersama kadar cinta yang Ia miliki.

Beberapa kampung disekitar kampunya bersama telah merayakan. Besoknya mama Mitta akan kembali ke Jakarta, Ia meninggalkan 40milyar untuk Mitta dan Yosep:

“Mitta, nanti buat usaha dan hidupkan beberapa kaluarga untuk kemajuan ekonomi micro di daerah sini,” Kata mamanya kepada Mitta dan Yosep.

“Nanti telfon jika perlu,” Kata mamanya sambil Ia naik mobil kembali ke penginapan.

Cinta Mitta mengubah beberapa kampung di sekitar kampunya Yosep, jalan-jalan dibagun menggunakan Uang pribadi dari Mitta dan Yosep, beberapa kios dibinah oleh Yayasan Ekonomi yang Mittal dan Yosep bangun untuk warga kampung dari beberapa kampung yang bisa muda dijangkau. Anak mereka lahir, anak laki-laki, nenenya memberi nama PABUTA artinya PAPUA BUTUH CINTA. Nenenya berharap dengan kekayaan mamanya yang akan jatuh ke tanggan Mitta dapat menggubah Papua dari hati dan pikiran.

“Hey,..PABUTA, pemimpin masa depan Papua yang lahir dari rahim perempuan melayu,” Gemas nenenya dirumah sakit Dok dua Hollandia Jayapura Papua.

[Cerita Fiksi]

Tinggalkan Balasan