OSPEK “KU”: EDU-BASI BUKAN EDU-KASI

Oleh: Kurniawan Fatma

[Opini terbuka bagi panitia OSPEK]

 

PROLOG

Tak terasa kita akan segera masuk dalam pekan penuh keanehan, dimana pagi pagi di jalan raya kita akan mendapati para manusia dewasa terpaksa “mendandani” diri dengan atribut bayi dan atribut aneh lainnya.

Sebuah cerminan yang merepresentasikan bagaimana pola pikir kita orang Indonesia yang tidak pernah “move on” tapi malah “move off” atau lebih parah lagi “move back”.

Bukannya diberikan stimulus untuk berperilaku layaknya orang yang lebih dewasa malah di stimulus untuk berperilaku menjadi bayi kembali: dot di mulut [semoga kedepan tidak makin ekstrim dengan menyuruh mahasiswa baru memakai PEMPERS bayi saat ospek]

Tak sulit kita temui mahasiswa baru akan berdandan layaknya orang gila dengan kostum super aneh.

Kaos kaki bola yang super panjang dengan warna mencolok yang berbeda satu sama lain. Kepala plontos yang diberi merk tertentu sesuai dengan nama Fakultas. Kantong kresek atau karung beras yang didesign sesuai dengan arahan panitia [orang gila malah tidak pernah berdandan se-ekstrim itu]

Habitus aneh yang terus dipelihara…jika menggunakan akal sehat , kira kira dimana letak proses “edukasi” dari habitus tersebut?. “Yang ada malah “EDU-BASI”: kata orang gila di kompleksku yang sepertinya malah lebih waras dari panitia OSPEK.

SAAT “PLONCO” MENJADI ATURAN YANG DIBAKUKAN

Sebuah aturan aneh yang terus “dibakukan” sebagai komposisi ospek. Katanya makanan gak akan sedaaaap kalau gak ada garam…Kopi gak nikmatttt kalau gak ada gula…Ospek di Indonesia gak kerennnn kalau gak ada perploncoan.

Potret yang menggambarkan bagaimana kentalnya budaya kolot yang terus dipelihara.

BUKA MATA: BELAJAR DSRI NEGERI LAIN

Saya pernah menjadi ketua OSPEK FE tahun 2013 lalu. Sebelum membuat konsep OSPEK saya bertanya kepada dua teman saya di Seminari dulu yang waktu itu sedang mengambil kuliah di luar negeri.

Berikut cerita mereka:
“Di sini kampus mengadakan WELCOMING PARTY khusus buat kami, pokoknya have fun lah”
[dalam hati saya berujar kita disini mengadakan WELCOMING PETI]

“Disini kami mengenal INTRODUCTION WEEK, kami diajak untuk mengenal kampus dengan cara yang unik dan santun”
[dalam hati saya berujar disini kami mengenal CONTRADICTION WEEK]

“Di sini ada sesi DISCUSS” [dalam hati saya berujar di sini ada sesi DI-USSIR]

EPILOG

EDUCATION IS POWERFULL WEAPON TO CHANGE THE WORD
EDU-BATION IS POWERFULL WEAPON TO DESTRUCT OUR COUNTRY

 

#mysterium

Tinggalkan Balasan