Gerakan Papua Mengajar (GPM) Bertekad Menjawab Persoalan Pendidikan Bagi Anak-Anak Papua

Jangan Hanya Berpikir Politik Saja, Pikirkan juga Generasi Papua di Masa Depan

 

Ada segelintir anak muda Papua  yang tergabung dalam Gerakan Papua Mengajar (GPM) dengan memulai pergerakan ini sejak 2013 gerakan ini muncul dari kepedulian pemuda Papua yang melihat banyaknya anak-anak Papua  yang tidak mengenyam pendidikan di sudut kota Jayapura dan Papua pada umumnya.

“Yang mendasari awalnya GPM adalah kami melihat realita yang ada terutama mama-mama di expo mereka selalu berjualan membawa anak-anak, hal ini bisa mengakibatkan pendidikan mereka terbengkalai, makanya kami mulai merangkul mereka,” kata Sekretaris GPM Orgenes Ukago di  Buper Waena usai mengajar peserta didiknya.

Anak-anak Papua juga berhak mendapat pendidikan dan ada beberpa generasi muda usia  5 – 7 tahun yang ada di pinggiran kota,  mereka tidak dapat pendidikan dengan baik karena alasan tuntutan ekonomi sehingga banyak orang tua tidak fokus mendidik anak mereka.

Persoalan pendidikan di Papua tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah dan stakeholder tentang pendidikan, saja tapi juga membutuhkan peran dari relawan atau penggiat pendidikan untuk membantu transformasikan dunia pendidikan formal maupun informal kepada masyarakat. Bagaimana GPM melihat hal tersebut?

Melihat hal ini GPM terpanggil melayani mereka, karena persolan ini terjadi di semua mama-mama Papua dan hampir di sudut-sudut kota banyak anak-anak Papua tidak mendapat hak belajar yang baik dan kebanyakan orang tua mereka bertani.

“Tenaga pengajar kami sukarela dengan biaya sendiri dari kerelaan saja sebagai bentuk kepedulian jadi kami sukarela saja, kami dari mahasiswa Jurnalis, ada juga yang PNS dan dalam hal mengajar juga tidak terpaku tapi siapa yang tergerak bisa langsung mengisi saja,” katanya.

Kebanyakan mereka awalnya di sekolah karena merasa tersaingi dengan teman-teman pendatang dan setelah diajar mereka sudah bisa bersaing dan ada juga dapat juara.  “Seperti peserta didik Rengki Wakur Juara 3 di sekolah dan kami pernah pada acara di wali kota buat perlombaan, dan mereka bisa bersaing.

“Ada juga di Kotaraja atas nama Yupenia Degei dapat juara satu puisi dari PMKRI Nasional waktu hari anak, tahun 2017 dan di buper ini juga kami juga ikutkan lomba lari dan mereka dapat juara,” katanya yang bertekad akan terus mengajar.

“Mereka harus mengenal diri mereka sendiri dan mereka harus merasa diri saya orang Papua saya juga bisa dan mereka selama ini mereka merasa minder di sekolah, dan bisa menjadi orang yang berguna bagi daerahnya sendiri,” katanya.

Sejak 2013 hingga saat ini GPM dengan 5  pemuda dari berbagai kalangan tetap bergerak mandiri dan tidak mengharapkan pemerintah. “Kami masih belum mau membuat proposal kepada pemerintah tapi kami mau bergerak mandiri dan tidak harus mengharapkan pemerintah,” katanya.

Meski ada bantuan dari berbagai orang ingin membantu membangun  bangunan dari individu untuk kelompok belajar di Buper, harapan kami agar gerakan ini juga menjadi inspirasi bagaimana menjadi gerakan inspirasi bagi orang Papua, dan kami terus bergerak maju bersama Tuhan dan orang Papua, Kami punya cabang di Deyai 3 kelompok belajar yakni satu di  Paniai, dan dua kelompok di Kota Jayapura.

Sekretaris Orgenes Ukago  meminta kepada masyarakat lainnya untuk mulai sekarang jangan hanya pintar kritik, pintar omong kosong tapi tak pernah sedikitpun bergerak untuk generasi yang akan datang. “ Mari kita bergerak bersama jangan hanya fokus politik, tapi bagaimana berpikir generasi kita di masa depan,” katanya. (*)

 

Tinggalkan Balasan